Atlet Transgender di Olimpiade Tokyo 2020 Bikin Heboh
Kamis, 22 Juli 2021 - 11:00 WIB
loading...
A
A
A
Joanna Harper, yang melakukan penelitian tentang atlet transgender dari Universitas Loughborough, mengatakan keberadaan Hubbard di Olimpiade Tokyo 2020 dinilai tidak adil. Sebab, dia memiliki keunggulan fisik ketimbang pesaingnya.
BACA JUGA: Covid-19 dan Heat-stroke Landa Tokyo Jelang Pembukaan Olimpiade 2020
"Secara umum, wanita transgender lebih tinggi, lebih besar dan lebih kuat, bahkan setelah terapi hormon daripada wanita cisgender (yang identitas gendernya cocok dengan jenis kelamin yang ditetapkan saat mereka lahir). Itu semua adalah keuntungan dalam banyak olahraga, termasuk angkat besi," tutur Harper dikutip dari Sky News, Kamis (22/7/2021).
"Apakah keuntungan itu tidak adil adalah pertanyaan yang sama sekali berbeda. Sangat penting untuk membuat perbedaan itu. Kami mengizinkan keuntungan dalam olahraga - sebenarnya kami merayakannya. Yang tidak kami izinkan adalah keuntungan yang luar biasa."
"Misalnya, kami membiarkan pemain tenis kidal bermain dengan pemain tenis tangan kanan, meskipun pemain tenis kidal memiliki kelebihan. Tapi kami tidak membiarkan petinju kelas berat masuk ring dengan petinju kelas terbang. Memang benar bahwa Laurel Hubbard tidak memiliki keuntungan besar melawan wanita yang akan dia hadapi," imbuh Harper.
Harper, yang membantu menulis pedoman Olimpiade untuk atlet transgender pada tahun 2015, mengatakan Li Wenwen dari China adalah favorit untuk merebut medali emas atas Hubbard. Tetapi atlet Selandia Baru memiliki peluang yang realistis untuk mendapatkan medali.
BACA JUGA: Covid-19 dan Heat-stroke Landa Tokyo Jelang Pembukaan Olimpiade 2020
"Secara umum, wanita transgender lebih tinggi, lebih besar dan lebih kuat, bahkan setelah terapi hormon daripada wanita cisgender (yang identitas gendernya cocok dengan jenis kelamin yang ditetapkan saat mereka lahir). Itu semua adalah keuntungan dalam banyak olahraga, termasuk angkat besi," tutur Harper dikutip dari Sky News, Kamis (22/7/2021).
"Apakah keuntungan itu tidak adil adalah pertanyaan yang sama sekali berbeda. Sangat penting untuk membuat perbedaan itu. Kami mengizinkan keuntungan dalam olahraga - sebenarnya kami merayakannya. Yang tidak kami izinkan adalah keuntungan yang luar biasa."
"Misalnya, kami membiarkan pemain tenis kidal bermain dengan pemain tenis tangan kanan, meskipun pemain tenis kidal memiliki kelebihan. Tapi kami tidak membiarkan petinju kelas berat masuk ring dengan petinju kelas terbang. Memang benar bahwa Laurel Hubbard tidak memiliki keuntungan besar melawan wanita yang akan dia hadapi," imbuh Harper.
Harper, yang membantu menulis pedoman Olimpiade untuk atlet transgender pada tahun 2015, mengatakan Li Wenwen dari China adalah favorit untuk merebut medali emas atas Hubbard. Tetapi atlet Selandia Baru memiliki peluang yang realistis untuk mendapatkan medali.
Lihat Juga :