Ekspansi Anak-Anak Dewa di Benua Biru
Sabtu, 13 Juni 2020 - 08:00 WIB
loading...
A
A
A
Sepanjang jalan menuju final, tim Oranye menaklukkan tim-tim elit langganan Piala Dunia, seperti Uruguay dan Argentina. Bahkan di semi final mereka menggusur juara bertahan Brasil secara meyakinkan 2-0. Sayang, di partai puncak mereka harus mengakui keunggulan tuan rumah Jerman Barat 2-1.
Generasi penerus Cruyff melanjutkan tinta emas Ajax di berbagai klub Eropa. Tahun 1987 Ajax menjuarai Cup Winners Cup. Sukses di ajang itu mengantarkan sang bintang Marco van Basten hijrah ke AC Milan. Bersama mantan rekannya di Ajax, Frank Rijkaard, plus Ruud Gullit mereka malang melintang di Eropa pada akhir dekade 1980 hingga pertengahan 1990an.
Selanjutnya generasi Edwin van der Sar, si kembar Frank dan Ronald de Boer, Marc Overmars, Edgar Davids, Clarence Seedorf, merebut Liga Champions pada tahun 1995. Kala itu tim yang diperkuat pemain berusia rata-rata 24, 1 tahun menjadi kampiun setelah menaklukkan sang juara bertahan AC Milan.
Skuad the winning team itu kembali melaju ke final tahun berikutnya. Mereka takluk di tangan Juventus lewat adu penalti.
Tahun berikutnya, dengan individu-individu yang sudah ogah-ogahan main untuk Ajax --si kembar de Boer kebelet hijrah ke Barcelona dan anggota tim lainnya diincar klub-klub besar lainnya, mereka masih mampu menembus semi final. Lagi-lagi Ajax mentok di tangan Juventus.
Talenta-talenta lainnya muncul di awal tahun 2000an, seperti Raphael van Der Vaart, Nigel de Jong, Zlatan Ibrahimovic (Swedia) dan Luis Suarez (Uruguay). Kecuali dua nama pertama yang sudah pensiun, Ibrahimovic dan Luis Suarez hingga kini masih ditunggu aksinya oleh pecandu bola sejagat.
Pemain muda berbakat dan konsep total football adalah dua kata kunci dari keberhasilan Ajax. Dan konsep itu sejatinya menginspirasi banyak kesebelasan, seperti Barcelona yang kondang dengan permainan tiki-taka, penguasaan bola dan operan cepat dari kaki ke kaki.
Dan virus itu terus ditularkan oleh para penerus Cruyff, macam Pep Guardiola yang saat ini melatih Manchester City.
Generasi penerus Cruyff melanjutkan tinta emas Ajax di berbagai klub Eropa. Tahun 1987 Ajax menjuarai Cup Winners Cup. Sukses di ajang itu mengantarkan sang bintang Marco van Basten hijrah ke AC Milan. Bersama mantan rekannya di Ajax, Frank Rijkaard, plus Ruud Gullit mereka malang melintang di Eropa pada akhir dekade 1980 hingga pertengahan 1990an.
Selanjutnya generasi Edwin van der Sar, si kembar Frank dan Ronald de Boer, Marc Overmars, Edgar Davids, Clarence Seedorf, merebut Liga Champions pada tahun 1995. Kala itu tim yang diperkuat pemain berusia rata-rata 24, 1 tahun menjadi kampiun setelah menaklukkan sang juara bertahan AC Milan.
Skuad the winning team itu kembali melaju ke final tahun berikutnya. Mereka takluk di tangan Juventus lewat adu penalti.
Tahun berikutnya, dengan individu-individu yang sudah ogah-ogahan main untuk Ajax --si kembar de Boer kebelet hijrah ke Barcelona dan anggota tim lainnya diincar klub-klub besar lainnya, mereka masih mampu menembus semi final. Lagi-lagi Ajax mentok di tangan Juventus.
Talenta-talenta lainnya muncul di awal tahun 2000an, seperti Raphael van Der Vaart, Nigel de Jong, Zlatan Ibrahimovic (Swedia) dan Luis Suarez (Uruguay). Kecuali dua nama pertama yang sudah pensiun, Ibrahimovic dan Luis Suarez hingga kini masih ditunggu aksinya oleh pecandu bola sejagat.
Pemain muda berbakat dan konsep total football adalah dua kata kunci dari keberhasilan Ajax. Dan konsep itu sejatinya menginspirasi banyak kesebelasan, seperti Barcelona yang kondang dengan permainan tiki-taka, penguasaan bola dan operan cepat dari kaki ke kaki.
Dan virus itu terus ditularkan oleh para penerus Cruyff, macam Pep Guardiola yang saat ini melatih Manchester City.
(rza)
Lihat Juga :