Ramla Ali Pukul KO Garcia Nova, Jadi Petinju Wanita Pertama yang Menang di Arab Saudi

Minggu, 21 Agustus 2022 - 04:33 WIB
loading...
Ramla Ali Pukul KO Garcia Nova, Jadi Petinju Wanita Pertama yang Menang di Arab Saudi
Petinju wanita Ramla Ali memukul Crystal Garcia Nova di ronde pertama dalam pertarungan tinju kelas bantam super di Jeddah, Arab Saudi, Minggu (21/8/2022). Foto: Reuters/Andrew Couldridge
A A A
JEDDAH - Petinju wanita Ramla Ali mengukir sejarah usai merobohkan Crystal Garcia Nova di ronde pertama dalam pertarungan tinju kelas bantam super di Jeddah, Arab Saudi. Ramla Ali menjadi petinju wanita pertama yang meraih gelar di Arab Saudi.

Tampil di King Abdullah Sports City Arena, Jeddah, Sabtu (20/8/2022) waktu setempat atau Minggu (21/8/2022) dini hari WIB, Ramla Ali cuma butuh 65 detik untuk merobohkan sang lawan. Petinju 32 tahun asal Somalia itu berharap hasil duel ini menginspirasi atlet wanita lain.

"Saya pikir akan ada begitu banyak hal hebat dan begitu banyak atlet wanita luar biasa yang datang dari negara ini," kata Ramla Ali dikutip Saudi Gazette.

Baca Juga: Kisah Ramla Ali: Pengungsi, Model, Petinju yang Guncang Jagat Tinju

Patut dicatat bahwa pertandingan tinju wanita pertama di Arab Saudi ini merupakan bagian dari partai pembuka duel Anthony Joshua vs Oleksandr Usyk dalam rangkaian bertajuk 'Rage on The Red Sea' yang digelar di negara tersebut. Ramla Ali berharap komunitas tinju wanita di Arab Saudi bisa berkembang setelah event olahraga ini selesai.

Ali adalah seorang Olympian, model, aktivis dan penulis, yang juga akan menjadi petinju wanita pertama yang bertanding di Arab Saudi. Sebelum tampi di laga resmi, Ramla Ali sudah mendorong komunitas wanita di Arab Saudi untuk berani tampil, dengan melakoni sparring (latih tanding) menghadapi 40 petinju wanita.

Kisah Ramla Ali sebetulnya sudah terasa sensasional bahkan sebelum meraih kemenangan bersejarah ini tercipta. Dia merupakan seorang pengungsi yang lari dari Somalia akibat perang melanda negeri kelahirannya.

Kakak laki-laki Ramla Ali, yang baru berusia 12 tahun, bahkan terbunuh oleh bom selama perang saudara di awal 1990-an. Keluarganya melarikan diri dari ibu kota Mogadishu setelah perjalanan kapal selama sembilan hari ke Kenya. Beberapa di antaranya meninggal karena kelaparan dalam perjalanan meskipun sisa keluarga Ali akhirnya menemukan perlindungan di London.

Di Inggris, Ramla Ali akhirnya tumbuh menjadi petinju yang tangguh. Tak hanya itu, kehidupan yang keras di masa kecil juga mendorongnya menjadi aktivis perempuan sekaligus penulis yang cukup disegani.
(sto)
Komentar
Copyright © 2022 SINDOnews.com
read/ rendering in 0.1388 seconds (10.55#12.26)