5 Pihak yang Dianggap Ikut Bertanggung Jawab atas Tragedi Kanjuruhan
Senin, 03 Oktober 2022 - 21:00 WIB
loading...
A
A
A
Namun PT LIB seolah tidak belajar dari kejadian pilu di GBLA tersebut. Laga dengan resiko tinggi tetap digelar pada malam hari.
Direktur Utama PT LIB, Akhmad Hadian Lukita malah melontarkan pernyataan nyeleneh kala menanggapi permintaan Bonek untuk menggeser laga Persebaya ke sore hari.
Lukita mengatakan bahwa pihaknya harus manut pada urusan sponsorship, penyiaran dan rating televisi ketimbang keselamatan suporter.
“Semua penentuan waktu kick off sudah dikomunikasikan dengan broadcaster. Kerena broadcast butuh waktu untuk persiapan promo dan sebagainya,” kata Lukita kala dihubungi MNC Portal Indonesia awal Agustus silam
“Dalam hal ini, sepak bola Indonesia saat ini sudah menjadi industri. Tidak melulu aspek teknis atau pertandingan yang menjadi pertimbangan,” tambahnya.
“Tetapi, harus juga memperhatikan aspek komersial, kebutuhan sponsor, sampai dengan kecenderungan pasar atau penonton televisi” ujarnya lagi.
5. Panitia Pelaksana
Stadion Kanjuruhan Malang memiliki kapasitas 38 ribu penonton, faktanya panitia pelaksana justru mencetak 42 ribu tiket. Ini tentu menjadi pelanggaran prosedur pelaksanaan.
Selain mencetak tiket yang melebihi kapasitas stadion panitia pelaksana juga mengabaikan peringatan polisi, dimana pihak polisi meminta panitia untuk mencetak 25 ribu tiket saja.
Banyaknya tiket yang telah dicetak ini membuat Stadion Kanjuruhan penuh sesak akan penonton. Karena itulah desak desakan penonton karena kericuhan tak terhindarkan.
Direktur Utama PT LIB, Akhmad Hadian Lukita malah melontarkan pernyataan nyeleneh kala menanggapi permintaan Bonek untuk menggeser laga Persebaya ke sore hari.
Lukita mengatakan bahwa pihaknya harus manut pada urusan sponsorship, penyiaran dan rating televisi ketimbang keselamatan suporter.
“Semua penentuan waktu kick off sudah dikomunikasikan dengan broadcaster. Kerena broadcast butuh waktu untuk persiapan promo dan sebagainya,” kata Lukita kala dihubungi MNC Portal Indonesia awal Agustus silam
“Dalam hal ini, sepak bola Indonesia saat ini sudah menjadi industri. Tidak melulu aspek teknis atau pertandingan yang menjadi pertimbangan,” tambahnya.
“Tetapi, harus juga memperhatikan aspek komersial, kebutuhan sponsor, sampai dengan kecenderungan pasar atau penonton televisi” ujarnya lagi.
5. Panitia Pelaksana
Stadion Kanjuruhan Malang memiliki kapasitas 38 ribu penonton, faktanya panitia pelaksana justru mencetak 42 ribu tiket. Ini tentu menjadi pelanggaran prosedur pelaksanaan.
Selain mencetak tiket yang melebihi kapasitas stadion panitia pelaksana juga mengabaikan peringatan polisi, dimana pihak polisi meminta panitia untuk mencetak 25 ribu tiket saja.
Banyaknya tiket yang telah dicetak ini membuat Stadion Kanjuruhan penuh sesak akan penonton. Karena itulah desak desakan penonton karena kericuhan tak terhindarkan.
(mirz)
Lihat Juga :