Gagal Lolos 8 Besar, Skuat Persela Trauma Nganggur
Kamis, 10 September 2015 - 14:46 WIB
Gagal Lolos 8 Besar, Skuat Persela Trauma Nganggur
A
A
A
LAMONGAN - Persela Lamongan tidak terbebani kegagalan melaju ke babak delapan besar Piala Presiden 2015. Pikiran justru mengarah pada apa yang mereka lakukan setelah pulang ke Lamongan dan tidak ada kegiatan lagi.
Trauma menganggur selama berbulan-bulan pun kini membayang di benak pemain. Maklum, setelah perhelatan Piala Presiden belum ada kabar adanya turnamen baru yang bisa diikuti. Manajemen maupun pelatih masih berunding langkah berikutnya.
Diakui, adanya turnamen Piala Presiden mendatangkan gairah tersendiri bagi pemain dan pelatih. Paling tidak selain ada sumber pendapatan, walau tidak besar, juga bisa memberikan semangat sebagai pesepakbola profesional.
"Saya belum tahu bagaimana selanjutnya. Setelah selesai di Piala Presiden tentunya nanti ada pembicaraan dengan manajemen. Jujur saja saya kepikiran bagaimana nasib pemain berikutnya, apakah mereka akan nganggur lagi," cetus Didik.
Dia menguak sebagian besar pemain trauma dengan kosongnya kegiatan sepak bola hingga harus menganggur. Ditambah lagi mereka harus menopang kebutuhan ekonomi dengan melakukan pekerjaan lain di luar sepak bola.
Bagi pemain yang tercatat sebagai pegawai negeri sipil (PNS), situasi itu bukan masalah. Beberapa awal tim Laskar Joko Tingkir memang tercatat sebagai PNS di Pemkab Lamongan, seperti kiper Khoirul Huda dan Didik Ludiyanto sendiri.
Didik menguak para pemain sudah menanyakan soal kegiatan tim Persela berikutnya setelah tersingkir dari Piala Presiden. Dia hanya bisa menjawab semuanya tergantung pada keputusan manajemen dan kondisi sepak bola Indonesia.
"Problem sesungguhnya dihadapi pemain yang tak memiliki lahan bisnis lain. Mereka trauma. Saya berharap dalam waktu dekat ada turnamen atau kompetisi," lanjut Didik. Sebenarnya PSSI menggagas Indonesia Super League (ISL) bergulir pada Oktober 2015.
Namun rencana tersebut tampaknya tak mudah diwujudkan karena antara PSSI dan Menpora-BOPI sendiri belum ada keharmonisan. Terakhir BOPI sendiri mempersoalkan pemakaian atribut PSSI yang dipakai wasit di Piala Presiden.
"Ya, beban pikiran yang paling besar adalah bagaimana kelanjutan sepak bola Indonesia. Idealnya setelah turnamen ini ada event lain, sehingga tim tidak lagi menganggur. Mungkin seperti saya bisa menjalani profesi PNS, tapi pemain lain pasti mati-matian mencari nafkah,"tukas kapten Persela Khoirul Huda.
Trauma menganggur selama berbulan-bulan pun kini membayang di benak pemain. Maklum, setelah perhelatan Piala Presiden belum ada kabar adanya turnamen baru yang bisa diikuti. Manajemen maupun pelatih masih berunding langkah berikutnya.
Diakui, adanya turnamen Piala Presiden mendatangkan gairah tersendiri bagi pemain dan pelatih. Paling tidak selain ada sumber pendapatan, walau tidak besar, juga bisa memberikan semangat sebagai pesepakbola profesional.
"Saya belum tahu bagaimana selanjutnya. Setelah selesai di Piala Presiden tentunya nanti ada pembicaraan dengan manajemen. Jujur saja saya kepikiran bagaimana nasib pemain berikutnya, apakah mereka akan nganggur lagi," cetus Didik.
Dia menguak sebagian besar pemain trauma dengan kosongnya kegiatan sepak bola hingga harus menganggur. Ditambah lagi mereka harus menopang kebutuhan ekonomi dengan melakukan pekerjaan lain di luar sepak bola.
Bagi pemain yang tercatat sebagai pegawai negeri sipil (PNS), situasi itu bukan masalah. Beberapa awal tim Laskar Joko Tingkir memang tercatat sebagai PNS di Pemkab Lamongan, seperti kiper Khoirul Huda dan Didik Ludiyanto sendiri.
Didik menguak para pemain sudah menanyakan soal kegiatan tim Persela berikutnya setelah tersingkir dari Piala Presiden. Dia hanya bisa menjawab semuanya tergantung pada keputusan manajemen dan kondisi sepak bola Indonesia.
"Problem sesungguhnya dihadapi pemain yang tak memiliki lahan bisnis lain. Mereka trauma. Saya berharap dalam waktu dekat ada turnamen atau kompetisi," lanjut Didik. Sebenarnya PSSI menggagas Indonesia Super League (ISL) bergulir pada Oktober 2015.
Namun rencana tersebut tampaknya tak mudah diwujudkan karena antara PSSI dan Menpora-BOPI sendiri belum ada keharmonisan. Terakhir BOPI sendiri mempersoalkan pemakaian atribut PSSI yang dipakai wasit di Piala Presiden.
"Ya, beban pikiran yang paling besar adalah bagaimana kelanjutan sepak bola Indonesia. Idealnya setelah turnamen ini ada event lain, sehingga tim tidak lagi menganggur. Mungkin seperti saya bisa menjalani profesi PNS, tapi pemain lain pasti mati-matian mencari nafkah,"tukas kapten Persela Khoirul Huda.
(aww)