Kapan Jokowi Bisa Luangkan Waktu untuk Temui FIFA?
Kamis, 15 Oktober 2015 - 15:33 WIB
Kapan Jokowi Bisa Luangkan Waktu untuk Temui FIFA?
A
A
A
JAKARTA - Terhentinya berbagai program sepak bola di Indonesia akibat dari pembekuan yang dilakukan oleh Menpora, ternyata tak membuat PSSI berhenti berusaha untuk kembali menghidupkan semua program dan rencana yang sebelumnya sudah disusun secara rapih dan terencana. Buktinya, PSSI hingga kini tetap berusaha melakukan komunikasi dengan FIFA agar otoritas sepak bola tertinggi di dunia itu mau segera mencabut sanksi yang dijatuhkan kepada Indonesia.
Karena menurut Deputi Sekjen PSSI, Sefdin Syaifudin, sanksi yang dijatuhkan oleh FIFA akan membuat sepak bola Indonesia tidak lagi bisa berkembang. Untuk itu PSSI akan terus berusaha agar FIFA mau mencabut sanksi yang telah dijatuhkan kepada Indonesia.
''Setelah menjelaskan bagaimana kondisi sepak bola di Indonesia, PSSI kemudian meminta kepada FIFA agar mau mengirikan delegasinya untuk bertemu langsung dengan Presiden Jokowi. Dengan begitu presiden bisa mendapatkan masukan yang benar dan tidak asal-asalan,'' ungkap Sefdin saat dihubungi Sindonews.
''Bagi PSSI, sepak bola itu bukan soal bagaimana segelintir klub bisa bermain bola, tapi ada banyak urusan yang juga sangat penting seperti football development, kursus pelatih, lisensi wasit dan banyak hal penting lainnya yang terpaksa berhenti karena masalah ini. Maka dari itu kami meminta kepada FIFA untuk bisa mengirimkan perwakilannya dan memberikan penjelasan kepada presiden agar semua program yang terhenti ini bisa segera jalan lagi,'' sambungnya.
Namun sayang, usaha yang gencar dilakukan PSSI nyatanya hanya bertepuk sebelah tangan. Buktinya, hingga saat ini Presiden Jokowi belum juga mau memberikan kepastian, kapan dirinya bisa meluangkan sedikit waktu untuk bertemu langsung dengan delegasi FIFA.
''Sekarang kami hanya menunggu keputusan dari presiden. Karena sampai sekarang presiden belum memberikan jawaban kapan beliau bisa menemui FIFA,'' pungkas Sefdin.
Setelah dijatuhi sanksi oleh FIFA, sepak bola di Indonesia kini seakan berjalan tak tentu arah. Meski Menpora melalui perpanjangan tangannya kemudian menggelar sejumlah turnamen, namun hal tersebut sama sekali tidak bisa meningkatkan kualitas sepak bola Indonesia, karena tidak adannya kesempatan bagi klub-klub tersebut menjajal kekuatan di level internasional.
Karena menurut Deputi Sekjen PSSI, Sefdin Syaifudin, sanksi yang dijatuhkan oleh FIFA akan membuat sepak bola Indonesia tidak lagi bisa berkembang. Untuk itu PSSI akan terus berusaha agar FIFA mau mencabut sanksi yang telah dijatuhkan kepada Indonesia.
''Setelah menjelaskan bagaimana kondisi sepak bola di Indonesia, PSSI kemudian meminta kepada FIFA agar mau mengirikan delegasinya untuk bertemu langsung dengan Presiden Jokowi. Dengan begitu presiden bisa mendapatkan masukan yang benar dan tidak asal-asalan,'' ungkap Sefdin saat dihubungi Sindonews.
''Bagi PSSI, sepak bola itu bukan soal bagaimana segelintir klub bisa bermain bola, tapi ada banyak urusan yang juga sangat penting seperti football development, kursus pelatih, lisensi wasit dan banyak hal penting lainnya yang terpaksa berhenti karena masalah ini. Maka dari itu kami meminta kepada FIFA untuk bisa mengirimkan perwakilannya dan memberikan penjelasan kepada presiden agar semua program yang terhenti ini bisa segera jalan lagi,'' sambungnya.
Namun sayang, usaha yang gencar dilakukan PSSI nyatanya hanya bertepuk sebelah tangan. Buktinya, hingga saat ini Presiden Jokowi belum juga mau memberikan kepastian, kapan dirinya bisa meluangkan sedikit waktu untuk bertemu langsung dengan delegasi FIFA.
''Sekarang kami hanya menunggu keputusan dari presiden. Karena sampai sekarang presiden belum memberikan jawaban kapan beliau bisa menemui FIFA,'' pungkas Sefdin.
Setelah dijatuhi sanksi oleh FIFA, sepak bola di Indonesia kini seakan berjalan tak tentu arah. Meski Menpora melalui perpanjangan tangannya kemudian menggelar sejumlah turnamen, namun hal tersebut sama sekali tidak bisa meningkatkan kualitas sepak bola Indonesia, karena tidak adannya kesempatan bagi klub-klub tersebut menjajal kekuatan di level internasional.
(rus)