Ini Aturan MotoGP yang Diubah Akibat Insiden Rossi-Marquez
Kamis, 07 Januari 2016 - 08:00 WIB
Ini Aturan MotoGP yang Diubah Akibat Insiden Rossi-Marquez
A
A
A
VALENCIA - Rencana diubahnya aturan MotoGP 2016 akibat insiden Valentino Rossi dan Marc Marquez di Grand Prix Malaysia ternyata bukan isapan jempol belaka. Presiden Federation International Motorsport (FIM) Vito Ippolito mengaku sudah punya beberapa poin yang bakal direvisi akibat kasus tersebut. (Baca Juga: Insiden Rossi-Marquez Ubah Aturan MotoGP Musim Depan?)
Insiden Rossi dan Marquez sempat jadi perdebatan panas. The Doctor yang dijatuhi hukuman penalti membawa kasus tersebut ke pengadilan FIM hingga tingkat Pengadilan Arbitrase Olahraga (CAS). Meski akhirnya ditolak, federasi balap motor siap merevisinya agar hukuman pembalap tak lagi jadi perdebatan. Rencananya FIM dan Dorna Sport akan membahasnya dalam pertemuan Komisi Grand Prix di Jenewa, Swiss, 4 Februari mendatang.
"Kami akan bicara dengan Race Direction, salah satu ide saya adalah bisa menilai berbagai pelanggaran dengan spesifik seperti mencuri start, mempercepat waktu di pitlane atau bendera biru. Hal itu ditujukan kepada dewan agar bisa memberi hukuman yang pantas, secara sederhana bisa diputuskan di satu hakim. Mungkin nanti bisa dibantu oleh yang ahli," tegasnya dilansir Marca.
Ippolito pun merujuk pada hukuman penalti Rossi. Ia menyebut aturan poin penalti cuma memberatkan pembalap sebab bersifat berkelanjutan.
"Sebagai contoh adalah kasus penalti Rossi. Poin penaltinya di Misano harusnya 'kadaluarsa' pada September. Tetapi ketika mendapatkan poin lagi di balapan selanjutnya, maka (penaltinya) muncul lagi," imbuhnya.
"Itu adalah penalti yang sudah dia terima. Sistem ini menciptakan lingkaran setan dan perlu untuk dipertanyakan," imbuhnya.
Hal itu diungkapkan Ippolito sebab memikirkan pembalap itu sendiri. "Berdasarkan pengalaman saya, apa yang pembalap pikirkan cuma dua yakni uang dan pengurangan poin. Itu mesti ada solusinya," pungkasnya.
Insiden Rossi dan Marquez sempat jadi perdebatan panas. The Doctor yang dijatuhi hukuman penalti membawa kasus tersebut ke pengadilan FIM hingga tingkat Pengadilan Arbitrase Olahraga (CAS). Meski akhirnya ditolak, federasi balap motor siap merevisinya agar hukuman pembalap tak lagi jadi perdebatan. Rencananya FIM dan Dorna Sport akan membahasnya dalam pertemuan Komisi Grand Prix di Jenewa, Swiss, 4 Februari mendatang.
"Kami akan bicara dengan Race Direction, salah satu ide saya adalah bisa menilai berbagai pelanggaran dengan spesifik seperti mencuri start, mempercepat waktu di pitlane atau bendera biru. Hal itu ditujukan kepada dewan agar bisa memberi hukuman yang pantas, secara sederhana bisa diputuskan di satu hakim. Mungkin nanti bisa dibantu oleh yang ahli," tegasnya dilansir Marca.
Ippolito pun merujuk pada hukuman penalti Rossi. Ia menyebut aturan poin penalti cuma memberatkan pembalap sebab bersifat berkelanjutan.
"Sebagai contoh adalah kasus penalti Rossi. Poin penaltinya di Misano harusnya 'kadaluarsa' pada September. Tetapi ketika mendapatkan poin lagi di balapan selanjutnya, maka (penaltinya) muncul lagi," imbuhnya.
"Itu adalah penalti yang sudah dia terima. Sistem ini menciptakan lingkaran setan dan perlu untuk dipertanyakan," imbuhnya.
Hal itu diungkapkan Ippolito sebab memikirkan pembalap itu sendiri. "Berdasarkan pengalaman saya, apa yang pembalap pikirkan cuma dua yakni uang dan pengurangan poin. Itu mesti ada solusinya," pungkasnya.
(bbk)