Pemerintah Belum Hadir, Agum Takut Hukuman FIFA Berlanjut
Selasa, 19 Januari 2016 - 17:09 WIB
Pemerintah Belum Hadir, Agum Takut Hukuman FIFA Berlanjut
A
A
A
JAKARTA - Ketua Komite Ad Hoc Reformasi Sepak Bola Indonesia Agum Gumelar mengungkapkan kekecewaannya terhadap sikap pemerintah yang belum mau hadir dalam rapat Komite Ad Hoc. Agum cemas, jika berlanjut hingga Ferbuari 2016, Komite Eksekutif (Exco) FIFA akan menilai Komite Ad hoc Reformasi Sepak Bola Indonesia gagal, dan melaporkan hasil tersebut ke Kongres FIFA.
Jika demikian, maka hukuman Indonesia akan diperpanjang dan akan membuat sepak bola nasional kian terpuruk. “Tekad kami merangkul semua pihak. Sebut saja kami ini alat, bukan untuk satu pihak saja, melainkan untuk semua pihak (Pemerintah, PSSI, KONI, KOI, juga pemain) demi terciptanya tata kelola sepak bola yang benar,” ungkap Agum seusai rapat komite di jalan Panglima Polim, Jakarta, Senin (18/1/2016).
Hadir dalam rapat yang digelar kelima kalinya itu Wakil Ketua Ad Hoc IGK Manila, perwakilan PSSI, Tommy Welly, M. Nigara (wakil KONI), Raja Pane (KOI), Pinky Hidayati (sepak bola wanita). Wakil PT Liga Indonesia Joko Driyono berhalangan hadir.
Sementara perwakilan pemerintah lagi-lagi tidak datang. Sejak pertemuan pertama, wakil pemerintah tak pernah hadir karena tidak mengakui eksistensi tim yang dibentuk atas rekomendasi FIFA tersebut. Yang menarik, wakil Asosiasi Pesepak Bola Profesional Indonesia (APPI) Bambang Pamungkas hadir di pertemuan kelima setelah empat pertemuan sebelumnya absen. (Baca juga: Agum Gumelar Pimpin Komite Ad-Hoc Bentukan FIFA).
Agum menjelaskan, FIFA juga masih heran dengan pemerintah Indonesia yang masih tidak mengakui Homite Ad hoc. Hal itu terungkap dalam pertemuan Sekjen PSSI dengan Anggota Komite Eksekutif FIFA Kohzo Tashima dalam acara pembukaan Piala AFC U-23 di Qatar, 12 Januari lalu.
“FIFA bekerja di dalam jalur sistem yang ada. Saya berharap semua berkeyakinan bahwa komite ini dibentuk atas dasar merespons keinginan Presiden Jokowi untuk mereformasi sepak bola di Indonesia, agar tata kelolanya menjadi lebih baik lagi," kata Agum dilansir laman resmi PSSI.
Mantan Ketua umum PSSI itu mengatakan dia dan salah satu anggota Komite Ad hoc akan ke Zurich, Swiss, pada 24 Februari 2016, untuk mengikuti rapat Komite Asosiasi di FIFA. Lalu, dilanjutkan Kongres FIFA pada 26 Februari. Di sidang Exco FIFA, 25 Februari, Agum akan menyampaikan laporan perkembangan sepak bola nasional dan kerja Komite Ad hoc.
“Itu kegiatan yang sudah dijadwalkan, hanya tinggal menunggu respon dari FIFA. Tujuannya adalah agar mereka (FIFA) tahu sudah sejauh mana komite ini melakukan tugasnya. Kalau saya melihat perkembangannya sejauh ini, maka tentunya kita masih sangat menyesalkan sikap pemerintah yang belum juga tampil dalam rapat-rapat kami. Kalau ini terus berlanjut hingga bulan depan, exco FIFA akan menilai kalau komite ini gagal. Hasilnya nanti akan dibawa ke Kongres, dan jika dinila gagal maka hukuman akan diperpanjang,” pungkasnya.
Jika demikian, maka hukuman Indonesia akan diperpanjang dan akan membuat sepak bola nasional kian terpuruk. “Tekad kami merangkul semua pihak. Sebut saja kami ini alat, bukan untuk satu pihak saja, melainkan untuk semua pihak (Pemerintah, PSSI, KONI, KOI, juga pemain) demi terciptanya tata kelola sepak bola yang benar,” ungkap Agum seusai rapat komite di jalan Panglima Polim, Jakarta, Senin (18/1/2016).
Hadir dalam rapat yang digelar kelima kalinya itu Wakil Ketua Ad Hoc IGK Manila, perwakilan PSSI, Tommy Welly, M. Nigara (wakil KONI), Raja Pane (KOI), Pinky Hidayati (sepak bola wanita). Wakil PT Liga Indonesia Joko Driyono berhalangan hadir.
Sementara perwakilan pemerintah lagi-lagi tidak datang. Sejak pertemuan pertama, wakil pemerintah tak pernah hadir karena tidak mengakui eksistensi tim yang dibentuk atas rekomendasi FIFA tersebut. Yang menarik, wakil Asosiasi Pesepak Bola Profesional Indonesia (APPI) Bambang Pamungkas hadir di pertemuan kelima setelah empat pertemuan sebelumnya absen. (Baca juga: Agum Gumelar Pimpin Komite Ad-Hoc Bentukan FIFA).
Agum menjelaskan, FIFA juga masih heran dengan pemerintah Indonesia yang masih tidak mengakui Homite Ad hoc. Hal itu terungkap dalam pertemuan Sekjen PSSI dengan Anggota Komite Eksekutif FIFA Kohzo Tashima dalam acara pembukaan Piala AFC U-23 di Qatar, 12 Januari lalu.
“FIFA bekerja di dalam jalur sistem yang ada. Saya berharap semua berkeyakinan bahwa komite ini dibentuk atas dasar merespons keinginan Presiden Jokowi untuk mereformasi sepak bola di Indonesia, agar tata kelolanya menjadi lebih baik lagi," kata Agum dilansir laman resmi PSSI.
Mantan Ketua umum PSSI itu mengatakan dia dan salah satu anggota Komite Ad hoc akan ke Zurich, Swiss, pada 24 Februari 2016, untuk mengikuti rapat Komite Asosiasi di FIFA. Lalu, dilanjutkan Kongres FIFA pada 26 Februari. Di sidang Exco FIFA, 25 Februari, Agum akan menyampaikan laporan perkembangan sepak bola nasional dan kerja Komite Ad hoc.
“Itu kegiatan yang sudah dijadwalkan, hanya tinggal menunggu respon dari FIFA. Tujuannya adalah agar mereka (FIFA) tahu sudah sejauh mana komite ini melakukan tugasnya. Kalau saya melihat perkembangannya sejauh ini, maka tentunya kita masih sangat menyesalkan sikap pemerintah yang belum juga tampil dalam rapat-rapat kami. Kalau ini terus berlanjut hingga bulan depan, exco FIFA akan menilai kalau komite ini gagal. Hasilnya nanti akan dibawa ke Kongres, dan jika dinila gagal maka hukuman akan diperpanjang,” pungkasnya.
(sha)