Pelatih Bali United Ogah Tutup Mata Soal Kerusuhan di Markas PSM
Rabu, 08 November 2017 - 12:02 WIB
Pelatih Bali United Ogah Tutup Mata Soal Kerusuhan di Markas PSM
A
A
A
DENPASAR - Kerusuhan kembali mencoreng wajah sepak bola Indonesia. Hal memalukan tersebut terlihat saat PSM Makassar menjamu Bali United di Stadion Andi Matalatta, Senin (6/11/2017) lalu.
Ketegangan bermula saat Stefano Lilipaly membawa Bali United unggul di masa injury time babak kedua. Tak senang tim jagoannya kalah, sejumlah oknum melempari botol ke arah pemain-pemain Bali United. Kericuhan meluas saat ribuan orang yang tadinya berada di tribun penonton masuk ke dalam lapangan. Karena keadaan semakin tidak kondusif, skuat Bali United akhirnya diamankan ke dalam stadion dan dijemput dengan mobil rantis.
Tak hanya memperebutkan gengsi, sejak awal laga ini memang penuh ketegangan sebab masing-masing tim punya peluang besar untuk menjuarai Liga 1 2017. Tapi dewi keberuntungan tidak berpihak pada tuan rumah. PSM dinyatakan kalah dan hal tersebut memancing emosi sejumlah oknum.
"Saya sebagai bagian dari sepak bola Indonesia tentu sangat menyayangkan masih saja ada insiden-insiden seperti ini. Sejak saya masih bermain sampai dengan saat ini ternyata masih saja seperti ini. Mengenai pengajuan keberatan, tentu ada manajemen yang akan mengurus. Tapi saya rasa itu perlu untuk memberikan efek jera," kata pelatih Bali United, Widodo Cahyono Putro.
Akibat kejadian mengerikan ini, beberapa pemain Bali United mengalami luka memar. Ricky Fajrin yang ikut menjadi korban mengharapkan agar peristiwa ini tidak terulang lagi di masa yang akan datang.
"Ya, harapan saya tentu kejadian-kejadian seperti itu tidak lagi terulang kedepannya. Mari saling menghargai sesama pekerja di dunia sepak bola dan untuk sepak bola Indonesia yang lebih baik lagi," ucapnya dalam rilis Bali United.
Karena kekalahannya ini, PSM dipastikan gagal menjuarai Liga 1 2017. Sementara peluang merebut trofi masih dimiliki Bali United dan Bhayangkara FC. (Baca juga: Saling Jotos Comvalius-Lilipaly Warnai Kemenangan Bali United atas PSM )
Ketegangan bermula saat Stefano Lilipaly membawa Bali United unggul di masa injury time babak kedua. Tak senang tim jagoannya kalah, sejumlah oknum melempari botol ke arah pemain-pemain Bali United. Kericuhan meluas saat ribuan orang yang tadinya berada di tribun penonton masuk ke dalam lapangan. Karena keadaan semakin tidak kondusif, skuat Bali United akhirnya diamankan ke dalam stadion dan dijemput dengan mobil rantis.
Tak hanya memperebutkan gengsi, sejak awal laga ini memang penuh ketegangan sebab masing-masing tim punya peluang besar untuk menjuarai Liga 1 2017. Tapi dewi keberuntungan tidak berpihak pada tuan rumah. PSM dinyatakan kalah dan hal tersebut memancing emosi sejumlah oknum.
"Saya sebagai bagian dari sepak bola Indonesia tentu sangat menyayangkan masih saja ada insiden-insiden seperti ini. Sejak saya masih bermain sampai dengan saat ini ternyata masih saja seperti ini. Mengenai pengajuan keberatan, tentu ada manajemen yang akan mengurus. Tapi saya rasa itu perlu untuk memberikan efek jera," kata pelatih Bali United, Widodo Cahyono Putro.
Akibat kejadian mengerikan ini, beberapa pemain Bali United mengalami luka memar. Ricky Fajrin yang ikut menjadi korban mengharapkan agar peristiwa ini tidak terulang lagi di masa yang akan datang.
"Ya, harapan saya tentu kejadian-kejadian seperti itu tidak lagi terulang kedepannya. Mari saling menghargai sesama pekerja di dunia sepak bola dan untuk sepak bola Indonesia yang lebih baik lagi," ucapnya dalam rilis Bali United.
Karena kekalahannya ini, PSM dipastikan gagal menjuarai Liga 1 2017. Sementara peluang merebut trofi masih dimiliki Bali United dan Bhayangkara FC. (Baca juga: Saling Jotos Comvalius-Lilipaly Warnai Kemenangan Bali United atas PSM )
(bep)