Sosok Sang Tiran Dana White bagai Dua Sisi Mata Uang

Kamis, 08 November 2018 - 16:25 WIB
Sosok Sang Tiran Dana...
Sosok Sang Tiran Dana White bagai Dua Sisi Mata Uang
A A A
DANA White dibenci sekaligus dipuja. Ibarat dua sisi mata uang, banyak orang yang begitu takjub dan terpesona dengan kemampuan Dana White mengubah brand UFC yang awut-awutan menjadi salah satu merek termahal di dunia. Di sisi lain, banyak orang yang begitu dendam dengan pria berbadan gempal tersebut. Menariknya lagi, semua orang yang kecewa dengan Dana White adalah orang-orang yang dulu bekerja dengannya.

Nama-nama seperti Tito Ortiz, Brendan Schaub, Ariel Helwani hingga yang terakhir Khabib Nurmagomedov. Mereka kecewa tidak hanya karena Dana White terkesan pilih kasih kepada para petarung yang berada di bendera UFC, juga dengan gaya kepemimpinannya yang seperti seorang perundung.

Brendan Schaub, mantan atlet UFC, mengatakan Dana White hanya peduli pada keuntungan. Dia tidak memberikan kesempatan yang sama bagi siapa pun jika hal itu tidak menguntungkan. “Setelah pertandingan, Anda akan sangat beruntung jika dia menyapa kamu,” kenang Brendan Schaub.

Ketidakadilan inilah yang membuat Brendan angkat kaki dari UFC. Setelah angkat kaki, Brendan jadi sangat vokal terhadap Dana White. Di sinilah Dana White begitu habis-habisan merespons sikap Brendan. Dia terus-terusan menyerang Brendan lewat media hingga dunia maya. Ketidakadilan juga sempat mengemuka ketika Khabib Nurmagomedov hendak melawan Conor McGregor di UFC 229.

Waktu itu Khabib meminta kepada Dana White agar meminta bantuan kepada Presiden Amerika Serikat Donald Trump agar bisa memberikan visa untuk ayahnya, Abdulmanap Nurmagomedov. Saat itu Khabib ingin saat bertanding dengan Conor McGregor, ayahnya bisa ada di samping ring.

Namun, hingga akhirnya dia bertanding dengan petarung Irlandia itu, Abdumanap tidak bisa masuk ke Amerika Serikat. Kekecewaan Khabib semakin menjadi-jadi ketika Dana White terkesan membela Connor McGregor ketika insiden tawuran antara tim Khabib dan tim Connor terjadi setelah UFC 229 usai.

Begitu juga saat salah satu rekan Khabib, Zubaira, tiba-tiba tidak bisa melakukan pertandingan UFC hanya karena terlibat dalam kekacauan UFC 229 itu. “Saya akan hengkang jika dia menghapuskan pertandingan Zubaira,” tulis Khabib lewat akun Instagram miliknya.

Di antara kebencian dan kekecewaan yang mendalam tersebut masih banyak orang yang kagum dengan Dana White. Tidak usah mengambil contoh Connor McGregor yang memang terlihat begitu dimanjakan. George St-Pierre, salah satu legendaris UFC, merasakan betul bagaimana Dana White sangat peduli dengan semua petarung UFC. Tidak hanya saat masih aktif, bahkan hingga pensiun.

Dana White adalah orang paling pertama yang melindungi George St-Pierre yang dianggap tidak terlalu brutal bertarung sebagai juara bertahan UFC medio 2006-2009. “Dia adalah role model dan sangat cocok untuk jadi panutan di semua bidang olahraga,” bela Dana White.

Bahkan, Dana White menyambut keinginan George St-Pierre saat tahun lalu mencoba kembali bertarung di UFC. “Selalu ada pintu yang terbuka buat siapa saja yang ingin memajukan olahraga ini,” ujar Dana White.
Kebaikan hati Dana White sendiri memang seolah tertutup dengan sikapnya yang arogan. Siapa sangka, seorang gadis berumur 7 tahun, Tuptim Jadnooleum, yang tinggal di Phuket, Thailand, jadi bukti kebaikan hati Dana White.

Peristiwa berawal ketika Dana White secara diamdiam sering mengunjungi situs-situs dan komunitas dunia maya bela diri campuran. Dari salah satu situs, dia mengetahui ada seorang guru bela diri Muay-Thai bernama Rattanachai tengah kesusahan karena anaknya, Tuptim, harus melakukan operasi hati.

Biaya operasi sangat besar, yakni USD50.000 atau setara Rp733 juta. Diam-diam Dana White langsung menghubungi Rattanachai dan menanggung semua biaya operasi tersebut. Tujuh tahun berselang, saat Dana White datang ke Thailand, Rattanachai rela datang bertemu dengan Dana White hanya untuk mengenalkan anaknya itu kepada orang yang diam-diam membantu.

Sikap yang bersahabat ini memang tertutupi oleh gaya arogan Dana White. Namun, dia punya alas an sendiri mengapa dia ha rus bersikap over the top kepada para fighter UFC. “Setiap tahun semua petarung yang datang ke sini lebih muda dari saya. Mau tidak mau saya harus menaikkan level dalam memimpin,” ujarnya.
(don)
Berita Terkait
Kejuaraan Atletik Afrika...
Kejuaraan Atletik Afrika 2020, Tunggu Kesiapan Aljazair
Kompetisi Atletik Pelajar...
Kompetisi Atletik Pelajar Bertajuk Energen Champion SAC Indonesia 2023 di Bandung Tembus 5 Ribu Peserta
Ketum KONI DKI Jakarta:...
Ketum KONI DKI Jakarta: Jakarta & Banten Qualifiers Berpotensi Temukan Atlet Muda
Champion SAC Indonesia...
Champion SAC Indonesia 2022: Pelajar SMAN 7 Cirebon Pecahkan Rekor di Nomor Tolak Peluru
Juara Energen Champion...
Juara Energen Champion SAC Indonesia 2023, 16 Pelajar Dapat Pengalaman Training di China
Ribuan Pelajar di Sumut...
Ribuan Pelajar di Sumut Bersaing di Energen Champion SAC Indonesia 2022
Berita Terkini
Shin Tae-yong Bawa Gerbong...
Shin Tae-yong Bawa Gerbong Lama Tim Pelatih Timnas Indonesia ke Persija
3 jam yang lalu
Shin Tae-yong Resmi...
Shin Tae-yong Resmi Jadi Pelatih Persija Jakarta
5 jam yang lalu
Insiden Penembakan Dekat...
Insiden Penembakan Dekat Markas Timnas Inggris Bayangi Piala Dunia 2026
6 jam yang lalu
Team RSTelkomsel 5G...
Team RSTelkomsel 5G Juarai Grup R pada Putaran 2 Kejurnas Sprint Rally 2026
6 jam yang lalu
Jonatan Christie Rehat...
Jonatan Christie Rehat dari Bulu Tangkis usai Gagal Juara Indonesia Open 2026
8 jam yang lalu
Christian Eriksen Kembali...
Christian Eriksen Kembali Kolaps di Lapangan saat Uji CobaDenmark vs Ukraina
10 jam yang lalu
Infografis
Bakar Uang Demi Perang:...
Bakar Uang Demi Perang: Jejak Kelam Ekonomi Militer AS
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved