Fokus Beradaptasi, Cara Rossi Bisa Bertahan di MotoGP
Sabtu, 02 November 2019 - 13:18 WIB
Fokus Beradaptasi, Cara Rossi Bisa Bertahan di MotoGP
A
A
A
SEPANG - Valentino Rossi sudah dianggap sebagai legenda di MotoGP. Pembalap asal Italia itu sempat merajai lintasan pada era 2000-an atau saat motor yang dikendarai masih berkapasitas 500 cc. Ketika itu dia berhasil menjadi juara dunia hingga tujuh kali, bahkan lima diantaranya sempat berturut-turut.
Tapi, kejayaan Rossi kini meredup. Faktanya, terhitung sejak 2010, pembalap berusia 40 tahun itu tidak pernah lagi berjaya. Masa suramnya dipastikan berlanjut pada musim ini lantaran Marc Marquez berhasil mempertahankan singgasananya.
Namun, bukan berarti Rossi tidak lagi galak seperti dulu. Walau terus kalah bersaing, rider kelahiran Urbino itu tetap dianggap kompetitif. Faktanya, The Doctor pernah tiga kali beruntun jadi runner-up yakni pada 2014, 2015 dan 2016.
Itu bisa dilakukannya karena terus berusaha beradaptasi dengan perkembangan zaman. Meski belum sesuai harapan, setidaknya dia membuktikan masih punya taji. “Gaya balapan yang sekarang dibandingkan 2-3 tahun lalu sangat berbeda,” ujar Rossi, dilansir crash.
Rossi menyatakan agar dapat bertahan di lintasan, dia mengembangkan kemampuan untuk mengubah gaya balapannya. Itu disesuaikan dengan kemajuan teklologi yang digunakan pada motor MotoGP. Karena itu dia mengaku masih tetap tajam selama mengikuti 400 balapan terakhirnya.
“Sepertinya gaya balapan sejumlah pembalap papan atas telah sedikit dimodifikasi. Rasanya seperti mengendarai motor baru, dengan peralatan elektronik baru dan ban berbeda yang dibutuhkan agar Anda bisa melaju hingga batas,” lanjut Rossi di Sepang, Malaysia.
Karena itu Rossi menegaskan akan berusa semaksimal mungkin untuk meraih hasil terbaik di GP Malaysia, akhir pekan ini. Terlebih, sepanjang musim ini dia belum pernah jadi yang tercepat. Prestasi terbaiknya hanya berdiri di podium kedua saat GP Argentina dan GP Amerika Serikat.
“Yang masih menjadi perhatian adalah pengereman. Jadi, saya akan mencoba mengerem dengan cara yang lain. Nampaknya, pada periode sebelumnya, banyak pembalap yang juga punya masalah serupa. Saya juga sudah mencoba rem depan yang berbeda,” tandas Rossi.
Tapi, kejayaan Rossi kini meredup. Faktanya, terhitung sejak 2010, pembalap berusia 40 tahun itu tidak pernah lagi berjaya. Masa suramnya dipastikan berlanjut pada musim ini lantaran Marc Marquez berhasil mempertahankan singgasananya.
Namun, bukan berarti Rossi tidak lagi galak seperti dulu. Walau terus kalah bersaing, rider kelahiran Urbino itu tetap dianggap kompetitif. Faktanya, The Doctor pernah tiga kali beruntun jadi runner-up yakni pada 2014, 2015 dan 2016.
Itu bisa dilakukannya karena terus berusaha beradaptasi dengan perkembangan zaman. Meski belum sesuai harapan, setidaknya dia membuktikan masih punya taji. “Gaya balapan yang sekarang dibandingkan 2-3 tahun lalu sangat berbeda,” ujar Rossi, dilansir crash.
Rossi menyatakan agar dapat bertahan di lintasan, dia mengembangkan kemampuan untuk mengubah gaya balapannya. Itu disesuaikan dengan kemajuan teklologi yang digunakan pada motor MotoGP. Karena itu dia mengaku masih tetap tajam selama mengikuti 400 balapan terakhirnya.
“Sepertinya gaya balapan sejumlah pembalap papan atas telah sedikit dimodifikasi. Rasanya seperti mengendarai motor baru, dengan peralatan elektronik baru dan ban berbeda yang dibutuhkan agar Anda bisa melaju hingga batas,” lanjut Rossi di Sepang, Malaysia.
Karena itu Rossi menegaskan akan berusa semaksimal mungkin untuk meraih hasil terbaik di GP Malaysia, akhir pekan ini. Terlebih, sepanjang musim ini dia belum pernah jadi yang tercepat. Prestasi terbaiknya hanya berdiri di podium kedua saat GP Argentina dan GP Amerika Serikat.
“Yang masih menjadi perhatian adalah pengereman. Jadi, saya akan mencoba mengerem dengan cara yang lain. Nampaknya, pada periode sebelumnya, banyak pembalap yang juga punya masalah serupa. Saya juga sudah mencoba rem depan yang berbeda,” tandas Rossi.
(mir)