Ayooo Taubatan Nasuha, Sepakbola Indonesia

Sabtu, 08 Februari 2020 - 08:28 WIB
Ayooo Taubatan Nasuha, Sepakbola Indonesia
Ayooo Taubatan Nasuha, Sepakbola Indonesia
A A A
M. Nigara

Wartawan Sepakbola Senior
Stafsus Menpora


INI kali kedua saya mengajak seluruh stakeholder sepakbola Indonesia, untuk bertaubatan nasuha. Ya, taubat yang sungguh-sungguh. Taubat untuk tidak mengulang kembali seluruh keburukan yang ada. Bukan taubat biasa.

Hal ini seiring dengan kehadiran kembali Satgas Antimafia Bola III . Menurut Kabid Humas Polda Metro Jaya Kombes Pol Yusri Yunus, Kapolri Jenderal Idham Azis sudah menandatangani surat perintah penyidikan (sprindik) untuk dimulainya pekerjaan Satgas Antimafia Bola Jilid III tersebut.

"Jadi, Satgas Mafiabola Jilid III sudah diberlakukan, sprindiknya sudah ditanda tangan oleh Pak Kapolri, diberlakukan mulai tanggal 1 Februari sampai 6 bulan ke depan," katanya dalam keterangan kepada wartawan, Selasa (4/2/2020).

Menpora, Zainudin Amali, juga sangat mendukung satgas itu. "PSSI harus semakin baik, untuk itu organisasi dan kompetisinya harus bersih," katanya. "Sepakbola satu-satunya cabor yang punya inpres no. 3 tahun 2019, Intruksi Presiden tentang Percepatan Pembangunan Persepakbolaan Nasional (P3N). Bayangkan betapa besar perhatian presiden, " katanya lagi.

Menko PMK, Muhajir Effendi ditunjuk menjadi komandannya. Sementara Menpora sebagai pelaksananya. Ada Kemen PUPR, Kemen Dikbud, Kemen Dagri, Kemen Kes, ada Polri dan lain-lain. Pendeknya lengkap banget perangkatnya dan tidak ada alasan untuk orang sepakbola untuk tidak menyambutnya dengan gembira dan optimis.

Nah, satgas itu adalah salah satu upaya pembersihan untuk kebaikan. Sementara, taubatan nasuha adalah alat utamanya. Jadi, ayo kita ramai-ramai menyiapkan diri untuk membersihkan diri.

Hentikan kebiasan lama, menuding dan menunjuk orang lain pasti salah. Dan, menepuk dada sambil menyebut diri sendiri yang paling benar. Biasanya seperti begini: "Dia itu mafia, dia itu pengatur skor, dia itu penyuap, dia itu bla, bla...!" Lalu: "Saya korban, klub saya korban!" Dan lain sebagainya.

Tidak itu saja, sebagai pamungkas, mereka juga berteriak seperti: "Kalau PSSI mau maju, maka si-ini dan si-itu harus dibuang!" Cukup? Ternyata masih belum: "Saya paling tahu, saya paling tidak pernah macam-macam!"
Halaman :
Komentar
Copyright © 2022 SINDOnews.com
berita/ rendering in 0.0796 seconds (10.177#12.26)