Putusan UEFA Soal Kelanjutan Kompetisi di Eropa Disinyalir Terkait Uang
Rabu, 18 Maret 2020 - 11:02 WIB
Putusan UEFA Soal Kelanjutan Kompetisi di Eropa Disinyalir Terkait Uang
A
A
A
LONDON - Apa pun putusan UEFA terkait masa depan Kompetisi Eropa, mulai dari Liga Europa, Liga Champions, sampai Piala Eropa, besar kemungkinan semua terkait uang. Pun alasan penyelenggara liga yang tetap ngotot agar kompetisi bisa diselesaikan, bukannya dihapuskan.
Dini hari tadi, keputusan dan skema tentang Kompetisi Eropa sudah diambil setelah otoritas tertinggi sepak bola Eropa itu menggelar pertemuan dengan anggota mereka: federasi, pemilik klub, dan asosiasi pemain.
Pertemuan itu digelar untuk menyikapi penyebaran virus corona yang “menginfeksi” sepak bola sehingga harus diisolasi. Imbasnya, mayoritas kompetisi di Eropa diundur pelaksanaannya dengan time line berbeda. Bukan hanya jadwal kompetisi domestik, uji coba serta kualifikasi Piala Dunia 2022 di beberapa negara juga ditunda.
Penundaan ini jelas mengancam keberlangsungan Euro 2020 yang akan digelar Juni mendatang. Jika Euro tetap digelar tepat waktu, artinya kompetisi domestik yang mengalah, di mana mereka harus menyelesaikan kompetisi sebelum turnamen sepak bola tertinggi di Eropa tersebut digelar.
Jika kompetisi tetap berlangsung dan semua jadwal digelar, konsekuensinya, Euro harus mengalah: mundur dari jadwal dengan agenda di bulan Desember 2020 atau digelar tahun depan sesuai dengan jadwal biasa di bulan Juni 2021.
Tarik ulur jadwal ini sebenarnya mengacu pada satu hal, yaitu soal uang. Penyelenggara kompetisi domestik ngotot menggelar liga karena mereka memiliki kontrak dengan sponsor dan pemegang hak siar. Artinya, jika liga tidak bisa digelar sesuai jadwal, risikonya mereka harus mengembalikan uang hak siar ke stasiun televisi atau kehilangan potensi pendapatan di laga tersisa.
Di Liga Primer, misalnya. Mereka mendapatkan kontrak hak siar sebesar 3 miliar poundsterling. Sekarang, jika kompetisi dihentikan, 20 klub yang memiliki sembilan atau 10 pertandingan dari 38 jadwal pertandingan tersisa berpotensi kehilangan 750 juta poundsterling atau sekitar Rp13 triliun.
Sementara Primera Liga bisa mengalami kerugian 700 juta euro (Rp11,5 triliun). Kerugian terbesar berasal dari hak siar senilai Rp8,1 triliun. Angka itu bisa membengkak ditambah dari tiket terusan (Rp1,2 triliun), dan Rp639 miliar tiket pertandingan. Jika diakumulasi, nilainya berada di angka Rp10 triliun.
Kerugian Seri A hampir sama dengan Primera Liga. La Repubblica menyebut dengan sisa 12 sampai 13 laga lagi, total dari keseluruhan klub peserta kompetisi kasta tertinggi Italia tersebut bisa mengalami kerugian finansial di angka 700 juta euro atau sekitar Rp11 triliun. Kerugian paling besar dari hak siar di mana jumlahnya mencapai 430 juta euro. "Kami memiliki 100 kewajiban berbeda dengan 100 operator di seluruh dunia dan jika tidak ada siaran, tidak ada penghasilan,” kata Presiden LaLiga Javier Tebas, dikutip Marca.
Menurut dia, sekarang yang bisa dilakukan adalah bagaimana menghindari risiko kerugian seminimal mungkin untuk keberlangsungan klub. “Kami sedang berupaya untuk melihat apakah kami dapat memuat beberapa kalender untuk melunakkan pukulan ekonomi yang akan datang. Sulit juga bagi klub-klub besar Eropa, bukan hanya yang kecil,” tandasnya.
Pada saat bersamaan, UEFA sebagai pemilik Kompetisi Eropa juga harus berhadapan dengan persoalan nyaris sama: hak siar dan perjanjian dengan sponsor. Karena itu, kabar menyebutkan, jika permintaan agar Euro ditunda, mereka akan meminta kompensasi sebesar 275 juta poundsterling atau sekitar Rp5,05 triliun kepada klub dan anggota federasi atas penundaan tersebut. Angka itu nantinya digunakan untuk mengatur ulang jadwal Euro di 2021.
Sebelumnya, Presiden FIFA Gianni Infantino telah meminta semua anggota dan pemangku kepentingan FIFA ikut memberikan perhatian serius di tengah persebaran virus korona. Dia meminta agar masalah persebaran virus yang berawal dari Wuhan, China, tersebut ditanggapi dengan sangat serius.
“FIFA akan tetap berhubungan secara teratur dengan semua pemangku kepentingan yang relevan selama periode sulit ini dan mencari solusi tepat pada waktunya dalam semangat kerja sama dengan mempertimbangkan kepentingan sepak bola di semua tingkatan,” katanya. (Maruf)
Dini hari tadi, keputusan dan skema tentang Kompetisi Eropa sudah diambil setelah otoritas tertinggi sepak bola Eropa itu menggelar pertemuan dengan anggota mereka: federasi, pemilik klub, dan asosiasi pemain.
Pertemuan itu digelar untuk menyikapi penyebaran virus corona yang “menginfeksi” sepak bola sehingga harus diisolasi. Imbasnya, mayoritas kompetisi di Eropa diundur pelaksanaannya dengan time line berbeda. Bukan hanya jadwal kompetisi domestik, uji coba serta kualifikasi Piala Dunia 2022 di beberapa negara juga ditunda.
Penundaan ini jelas mengancam keberlangsungan Euro 2020 yang akan digelar Juni mendatang. Jika Euro tetap digelar tepat waktu, artinya kompetisi domestik yang mengalah, di mana mereka harus menyelesaikan kompetisi sebelum turnamen sepak bola tertinggi di Eropa tersebut digelar.
Jika kompetisi tetap berlangsung dan semua jadwal digelar, konsekuensinya, Euro harus mengalah: mundur dari jadwal dengan agenda di bulan Desember 2020 atau digelar tahun depan sesuai dengan jadwal biasa di bulan Juni 2021.
Tarik ulur jadwal ini sebenarnya mengacu pada satu hal, yaitu soal uang. Penyelenggara kompetisi domestik ngotot menggelar liga karena mereka memiliki kontrak dengan sponsor dan pemegang hak siar. Artinya, jika liga tidak bisa digelar sesuai jadwal, risikonya mereka harus mengembalikan uang hak siar ke stasiun televisi atau kehilangan potensi pendapatan di laga tersisa.
Di Liga Primer, misalnya. Mereka mendapatkan kontrak hak siar sebesar 3 miliar poundsterling. Sekarang, jika kompetisi dihentikan, 20 klub yang memiliki sembilan atau 10 pertandingan dari 38 jadwal pertandingan tersisa berpotensi kehilangan 750 juta poundsterling atau sekitar Rp13 triliun.
Sementara Primera Liga bisa mengalami kerugian 700 juta euro (Rp11,5 triliun). Kerugian terbesar berasal dari hak siar senilai Rp8,1 triliun. Angka itu bisa membengkak ditambah dari tiket terusan (Rp1,2 triliun), dan Rp639 miliar tiket pertandingan. Jika diakumulasi, nilainya berada di angka Rp10 triliun.
Kerugian Seri A hampir sama dengan Primera Liga. La Repubblica menyebut dengan sisa 12 sampai 13 laga lagi, total dari keseluruhan klub peserta kompetisi kasta tertinggi Italia tersebut bisa mengalami kerugian finansial di angka 700 juta euro atau sekitar Rp11 triliun. Kerugian paling besar dari hak siar di mana jumlahnya mencapai 430 juta euro. "Kami memiliki 100 kewajiban berbeda dengan 100 operator di seluruh dunia dan jika tidak ada siaran, tidak ada penghasilan,” kata Presiden LaLiga Javier Tebas, dikutip Marca.
Menurut dia, sekarang yang bisa dilakukan adalah bagaimana menghindari risiko kerugian seminimal mungkin untuk keberlangsungan klub. “Kami sedang berupaya untuk melihat apakah kami dapat memuat beberapa kalender untuk melunakkan pukulan ekonomi yang akan datang. Sulit juga bagi klub-klub besar Eropa, bukan hanya yang kecil,” tandasnya.
Pada saat bersamaan, UEFA sebagai pemilik Kompetisi Eropa juga harus berhadapan dengan persoalan nyaris sama: hak siar dan perjanjian dengan sponsor. Karena itu, kabar menyebutkan, jika permintaan agar Euro ditunda, mereka akan meminta kompensasi sebesar 275 juta poundsterling atau sekitar Rp5,05 triliun kepada klub dan anggota federasi atas penundaan tersebut. Angka itu nantinya digunakan untuk mengatur ulang jadwal Euro di 2021.
Sebelumnya, Presiden FIFA Gianni Infantino telah meminta semua anggota dan pemangku kepentingan FIFA ikut memberikan perhatian serius di tengah persebaran virus korona. Dia meminta agar masalah persebaran virus yang berawal dari Wuhan, China, tersebut ditanggapi dengan sangat serius.
“FIFA akan tetap berhubungan secara teratur dengan semua pemangku kepentingan yang relevan selama periode sulit ini dan mencari solusi tepat pada waktunya dalam semangat kerja sama dengan mempertimbangkan kepentingan sepak bola di semua tingkatan,” katanya. (Maruf)
(ysw)