Gaji pemain di Liga Primer dibatasi
Sabtu, 08 September 2012 - 10:29 WIB
Gaji pemain di Liga Primer dibatasi
A
A
A
Sindonews.com – Badan Liga Primer (FAPL) berencana menerapkan pembatasan gaji pemain sebelum kontrak hak siar televisi baru efektif pada 2013. Namun, mereka harus berjuang keras agar para anggota memberikan lampu hijau.
FAPL membutuhkan persetujuan 14 dari 20 klub yang berkompetisi di level tertinggi sistem kompetisi sepak bola Inggris untuk memuluskan rencana tersebut.Organisasi yang dipimpin Richard Scudamore itu melihat salary capakan membantu klub menjaga kondisi keuangan. Sebab,meski kantong klub Liga Primer akan bertambah tebal ketika jatah perjanjian hak siar televisi senilai 3,018 miliar pounds dibagi pada 2013–2016,meningkat ketimbang nilai sebelumnya sebesar 1,782 miliar pounds,FAPL melihat ancaman pailit tetap membayangi para kontestan.
Manchester United (MU) dan Arsenal, yang sama-sama mengantongi keuntungan pada 2010/2011,dipercaya akan membantu FAPL memberlakukan peraturan ini.Sikap mereka tercermin pada pernyataan masing- masing pelatih yang mengecam aksi belanja klub lain. “Klub semestinya membeli sumber daya (pemain) sesuai pemasukan.Itulah cara terbaik mengetahui seberapa valid klub yang bersangkutan,”kata Pelatih Arsene Wenger,dilansirGuardian. Namun,tidak seluruh klub berpandangan serupa.
Mereka melihat salary cap hanya menguntungkan klub yang menerima pemasukan besar.Sementara Manchester City punya kepentingan berbeda.Mereka merasa masih perlu membayar gaji tinggi demi melanjutkan proyek pembangunan klub.Sementara klub lain seperti Fulham,Everton,West Bromwich Albion,Newcastle United,Tottenham Hotspur mempertanyakan keseragaman peraturan keuangan.
Para klub ini memilih mengatasi sendiri kondisi finansial mereka. Walau masih banyak yang ragu,FAPL bertekad menerapkan salary cap.Jika akhirnya ditolak,mereka menawarkan metode alternatif yang mirip financial fair play milik UEFA.Semua demi kelangsungan klub. Maklum,banyak klub bertahan karena membayar pemain terlalu berlebihan.Apalagi, krisis ekonomi global sedang menyerang.
Kasus yang menimpa Leeds United,Portsmouth, dan Glasgow Rangers merupakan contohnya.Sementara klub lain kerap merugi menyusul membengkaknya tagihan upah pemain,yang bisa mencapai 250.000 pounds (Rp3,8 miliar) per pekan per orangnya. Tingginya bayaran pemain itu terpapar pada statistik berikut.Pada 2001/2002,klub menghabiskan 1,1 miliar pounds,atau 62% dari total pendapatan,demi menafkahi pemain.
Pada 2010/2011,pembayaran gaji mencapai 1,8 miliar pounds atau mencakup 70% pemasukan klub.Tidak heran,hanya delapan klub yang mampu memetik keuntungan. Padahal,nilai kontrak sponsor dan membesarnya reputasi Liga Primer sudah meningkatkan pendapatan klub. “Saya harap semua klub menyadari peliknya situasi ini.Klub tidak mungkin membiarkan seluruh pendapatan habis untuk gaji pemain,”ungkap Direktur Utama Stoke City Peter Coates.
FAPL membutuhkan persetujuan 14 dari 20 klub yang berkompetisi di level tertinggi sistem kompetisi sepak bola Inggris untuk memuluskan rencana tersebut.Organisasi yang dipimpin Richard Scudamore itu melihat salary capakan membantu klub menjaga kondisi keuangan. Sebab,meski kantong klub Liga Primer akan bertambah tebal ketika jatah perjanjian hak siar televisi senilai 3,018 miliar pounds dibagi pada 2013–2016,meningkat ketimbang nilai sebelumnya sebesar 1,782 miliar pounds,FAPL melihat ancaman pailit tetap membayangi para kontestan.
Manchester United (MU) dan Arsenal, yang sama-sama mengantongi keuntungan pada 2010/2011,dipercaya akan membantu FAPL memberlakukan peraturan ini.Sikap mereka tercermin pada pernyataan masing- masing pelatih yang mengecam aksi belanja klub lain. “Klub semestinya membeli sumber daya (pemain) sesuai pemasukan.Itulah cara terbaik mengetahui seberapa valid klub yang bersangkutan,”kata Pelatih Arsene Wenger,dilansirGuardian. Namun,tidak seluruh klub berpandangan serupa.
Mereka melihat salary cap hanya menguntungkan klub yang menerima pemasukan besar.Sementara Manchester City punya kepentingan berbeda.Mereka merasa masih perlu membayar gaji tinggi demi melanjutkan proyek pembangunan klub.Sementara klub lain seperti Fulham,Everton,West Bromwich Albion,Newcastle United,Tottenham Hotspur mempertanyakan keseragaman peraturan keuangan.
Para klub ini memilih mengatasi sendiri kondisi finansial mereka. Walau masih banyak yang ragu,FAPL bertekad menerapkan salary cap.Jika akhirnya ditolak,mereka menawarkan metode alternatif yang mirip financial fair play milik UEFA.Semua demi kelangsungan klub. Maklum,banyak klub bertahan karena membayar pemain terlalu berlebihan.Apalagi, krisis ekonomi global sedang menyerang.
Kasus yang menimpa Leeds United,Portsmouth, dan Glasgow Rangers merupakan contohnya.Sementara klub lain kerap merugi menyusul membengkaknya tagihan upah pemain,yang bisa mencapai 250.000 pounds (Rp3,8 miliar) per pekan per orangnya. Tingginya bayaran pemain itu terpapar pada statistik berikut.Pada 2001/2002,klub menghabiskan 1,1 miliar pounds,atau 62% dari total pendapatan,demi menafkahi pemain.
Pada 2010/2011,pembayaran gaji mencapai 1,8 miliar pounds atau mencakup 70% pemasukan klub.Tidak heran,hanya delapan klub yang mampu memetik keuntungan. Padahal,nilai kontrak sponsor dan membesarnya reputasi Liga Primer sudah meningkatkan pendapatan klub. “Saya harap semua klub menyadari peliknya situasi ini.Klub tidak mungkin membiarkan seluruh pendapatan habis untuk gaji pemain,”ungkap Direktur Utama Stoke City Peter Coates.
(wbs)