Pertandingan ricuh, pemain Jatim dan Sumut adu fisik
Senin, 10 September 2012 - 23:30 WIB
Pertandingan ricuh, pemain Jatim dan Sumut adu fisik
A
A
A
Sindonews.com - Pekan Olahraga Nasional (PON) XVIII/Riau baru dibuka Presiden Susilo Bambang Yudhoyono, Selasa malam (11/9). Namun, kontingen Jatim kehilangan emas cabang favoritsepak bola.
Hampir pastinya tim sepak bola Jatim angkat koper dari Bumi Melayu lebih awal setelah ditahan Sumatera Utara 1-1 alamlaga terakhir Grup B. Jika melihat dua hasil sebelumnya, Jatim memang harus tersingkir.
Pasalnya, dari tiga laga Jatim hanya mendulang empat poin hasil 1 menang, 1 imbang dan 1 kalah. Sementara Jawa Barat keluar sebagai juara grup B dengan poin 7 karena di laga terakhir mengalahkan Gorontalo 5-1. Sebelumnya Jabar menang atas Jatim 2-1 dan imbang lawan Sumut 0-0. Sumut sendiri keluar sebagai runner-up mendampingi Jabar dengan 5 poin.
Namun, kabar terakhir, Jawa Barat terkena diskualifikasi karena dianggap menurunkan tim ilegal. Sayangnya, hingga sekarang belum ada keputusan pasti dari PB PON.
’’Kita tidak mau konsentrasi terpecah gara-gara itu. Yang pasti, tim ini sudah disiapkan KONI Jawa Barat sejak awal dan diperkuat dengan SK Gubernur,” tegas Pelatih Jabar Mustika. ’’Hal ini tidak akan terjadi kalau seandainya PB PON lebih tegas dengan memutuskan tim yang sejak awal yang harus bermain,” ujarnya.
Pertandingan Jatim melawan Sumut sendiri berlangsung dalam tempo panas sejak menit awal. Meski minim penonton, atmosfer di Grand Stadium Sport Centre Kuasing, Senin (10/9) malam sudah terasa sejak awal. Baru memasuki menit ke 13, pertandingan sudah terhenti.
Diawali ketika wasit Najamudin Aspiran, menghukum Sumut dengan tendangan penalti. Keputusan itu langsung disambut protes keras Hardianto dkk. Bahkan seluruh pemain Sumut sempat melancarkan aksi mogok sampai tertunda sekitar 20 menit.
Wasit menghukum Sumut dengan penalti setelah pemain belakangnya handsball di kotak terlarang, ketika menghalau bola tandukan pemain depan Jatim. Kejadian tersebut dilihat wasit dan langsung menunjuk titik putih. Tak hanya itu, pelatih Sumut, Rudi Saari ikut-ikutan memrotes wasit. "Kalau begini caranya, kita tak usah melanjutkan pertandingan," kata Rudi kesal.
Namun setelah terjadi perundingan, Sumut akhirnya bersedia menerima keputusan itu kendati menipiskan peluang mereka lolos ke babak enam besar. Jatim unggul terlebih dulu setelah pemain tengah Persebaya, Dicky Prayoga sukses mengeksekusi penalti. Dengan mengarahkan bola ke sudut kiri atas gawang, Dicky berhasil mengecoh kiper Sumut, Abdur Rohim. Jatim unggul 1-0.
Unggul 1-0, Fandi Utomo tampil lebih percaya diri. Dalam tempo lima menit, Jatim memperoleh peluang emas. Sayang, gol Ahmad Zakariyah dianulir wasit karena dalam posisi offside. Sayang, gol Ahmad dianulir wasit dan tendangan pelan Dicky melenceng tipis sisi kanan gawang Sumut.
Sumut yang tertinggal justru mampu menyamakan kedudukan menjadi 1-1 lewat tembakan Deny Setiawan menit 32 memanfaatkan umpan tendangan penjuru. Dalam posisi tak terkawal, Agung dengan mudah menceploskan bola ke gawang Jatim. Skor 1-1 bertahan hingga turun minum.
Memasuki babak kedua, tensi panas kembali terjadi. Berulang kali adu fisik kedua tim terjadi sampai melibatkan emosi kedua pelatih maupun penghuni bangku cadangan lainnya. ''Kita sudah main lepas untuk hadapi nonteknis. Kita mampu melawan kok kalau cara-cara itu ditempuh. Wajar kalau main bola itu harus licik, tapi wasit juga harus adil kepada kita,” kata Rudi.
Komentar tak kalah pedas muncul dari manajer tim Ir Kamaludin H MSi. Dia bahkan menyebut perangkat pertandingan yang dihadirkan PSSI KPSI tidak lebih baik dari PSSI Djohar Arifin Husin. “Justru yang bagus itu Djohar karena menonjolkan prestasi. Bukannya bisnis seperti yang orang-orang KPSI lakukan di PON ini,” dalihnya.
Namun, melihat jalannya pertandingan, memang sempat terjadi beberapa kali keributan. Entah mengapa, selalu dipicu sikap dari kubu Sumut. Bahkan beberapa kali pemain bernomor punggung 10, Zulkifli berulah tidak fair.
Kondisi ini diakui pelatih Jatim Danur Dara. “Terutama dia. Organisasi pemain kami berantakan karena ulahnya. Parahnya, kondisi itu didukung kepemimpinan wasit yang tidak tegas. Harusnya, dalam tekanan apa pun wasit harus tegas. Sehingga membuat emosi pemain di lapangan juga ikut naik,” terangnya.
Hampir pastinya tim sepak bola Jatim angkat koper dari Bumi Melayu lebih awal setelah ditahan Sumatera Utara 1-1 alamlaga terakhir Grup B. Jika melihat dua hasil sebelumnya, Jatim memang harus tersingkir.
Pasalnya, dari tiga laga Jatim hanya mendulang empat poin hasil 1 menang, 1 imbang dan 1 kalah. Sementara Jawa Barat keluar sebagai juara grup B dengan poin 7 karena di laga terakhir mengalahkan Gorontalo 5-1. Sebelumnya Jabar menang atas Jatim 2-1 dan imbang lawan Sumut 0-0. Sumut sendiri keluar sebagai runner-up mendampingi Jabar dengan 5 poin.
Namun, kabar terakhir, Jawa Barat terkena diskualifikasi karena dianggap menurunkan tim ilegal. Sayangnya, hingga sekarang belum ada keputusan pasti dari PB PON.
’’Kita tidak mau konsentrasi terpecah gara-gara itu. Yang pasti, tim ini sudah disiapkan KONI Jawa Barat sejak awal dan diperkuat dengan SK Gubernur,” tegas Pelatih Jabar Mustika. ’’Hal ini tidak akan terjadi kalau seandainya PB PON lebih tegas dengan memutuskan tim yang sejak awal yang harus bermain,” ujarnya.
Pertandingan Jatim melawan Sumut sendiri berlangsung dalam tempo panas sejak menit awal. Meski minim penonton, atmosfer di Grand Stadium Sport Centre Kuasing, Senin (10/9) malam sudah terasa sejak awal. Baru memasuki menit ke 13, pertandingan sudah terhenti.
Diawali ketika wasit Najamudin Aspiran, menghukum Sumut dengan tendangan penalti. Keputusan itu langsung disambut protes keras Hardianto dkk. Bahkan seluruh pemain Sumut sempat melancarkan aksi mogok sampai tertunda sekitar 20 menit.
Wasit menghukum Sumut dengan penalti setelah pemain belakangnya handsball di kotak terlarang, ketika menghalau bola tandukan pemain depan Jatim. Kejadian tersebut dilihat wasit dan langsung menunjuk titik putih. Tak hanya itu, pelatih Sumut, Rudi Saari ikut-ikutan memrotes wasit. "Kalau begini caranya, kita tak usah melanjutkan pertandingan," kata Rudi kesal.
Namun setelah terjadi perundingan, Sumut akhirnya bersedia menerima keputusan itu kendati menipiskan peluang mereka lolos ke babak enam besar. Jatim unggul terlebih dulu setelah pemain tengah Persebaya, Dicky Prayoga sukses mengeksekusi penalti. Dengan mengarahkan bola ke sudut kiri atas gawang, Dicky berhasil mengecoh kiper Sumut, Abdur Rohim. Jatim unggul 1-0.
Unggul 1-0, Fandi Utomo tampil lebih percaya diri. Dalam tempo lima menit, Jatim memperoleh peluang emas. Sayang, gol Ahmad Zakariyah dianulir wasit karena dalam posisi offside. Sayang, gol Ahmad dianulir wasit dan tendangan pelan Dicky melenceng tipis sisi kanan gawang Sumut.
Sumut yang tertinggal justru mampu menyamakan kedudukan menjadi 1-1 lewat tembakan Deny Setiawan menit 32 memanfaatkan umpan tendangan penjuru. Dalam posisi tak terkawal, Agung dengan mudah menceploskan bola ke gawang Jatim. Skor 1-1 bertahan hingga turun minum.
Memasuki babak kedua, tensi panas kembali terjadi. Berulang kali adu fisik kedua tim terjadi sampai melibatkan emosi kedua pelatih maupun penghuni bangku cadangan lainnya. ''Kita sudah main lepas untuk hadapi nonteknis. Kita mampu melawan kok kalau cara-cara itu ditempuh. Wajar kalau main bola itu harus licik, tapi wasit juga harus adil kepada kita,” kata Rudi.
Komentar tak kalah pedas muncul dari manajer tim Ir Kamaludin H MSi. Dia bahkan menyebut perangkat pertandingan yang dihadirkan PSSI KPSI tidak lebih baik dari PSSI Djohar Arifin Husin. “Justru yang bagus itu Djohar karena menonjolkan prestasi. Bukannya bisnis seperti yang orang-orang KPSI lakukan di PON ini,” dalihnya.
Namun, melihat jalannya pertandingan, memang sempat terjadi beberapa kali keributan. Entah mengapa, selalu dipicu sikap dari kubu Sumut. Bahkan beberapa kali pemain bernomor punggung 10, Zulkifli berulah tidak fair.
Kondisi ini diakui pelatih Jatim Danur Dara. “Terutama dia. Organisasi pemain kami berantakan karena ulahnya. Parahnya, kondisi itu didukung kepemimpinan wasit yang tidak tegas. Harusnya, dalam tekanan apa pun wasit harus tegas. Sehingga membuat emosi pemain di lapangan juga ikut naik,” terangnya.
(aww)