Tembok venue menembak jebol
Rabu, 12 September 2012 - 23:31 WIB
Tembok venue menembak jebol
A
A
A
Sindonews.com - Kondisi lapangan tembak di Komplek Sport Center Rumbai dinilai tak mumpuni menggelar pertandingan Pekan Olahraga Nasional (PON) XVIII/2012. Selain belum selesai dibangun, regulasi dan standar lapangan juga tidak memenuhi pakem. Sehingga, pelaksanaan PON kali ini terkesan dipaksakan.
Kondisi itu jelas menjadi pertanyaan besar bagi kesiapan panitia pelaksana (panpel) cabang menembak terkait masih buruknya kondisi dan fasilitas lapangan tembak sebelum dipertandingkan pada Kamis (13/9). Bahkan, jebolnya tembok lapangan tembak yang menjadi sasaran bidik atlet menambah suram kesiapan tuan rumah Riau. Tembok yang menjadi batas itu jebol hingga meninggalkan lubang besar di bagian luar gedung.
Kendati belum membahayakan, kondisi ini menunjukkan bahwa bangunan arena tembak tidak dikonstruksi sebagaimana standar yang berlaku. Sebab, pasca kejadian itu, atlet yang sedang melakukan latihan dan adaptasi lapangan pun harus menghentikan kegiatan. Bahkan, perlombaan nomor 25 meter pistol woman yang dijadwalkan akan dilaksanakan hari ini terancam batal dilaksanakan.
“Lapangan ini sudah tidak memenuhi standar ISSF (International Shot Sport Federation). Hal ini juga sudah kita laporkan pada KONI Pusat dan PB PON bahwa bangunan ini tidak layak untuk dipakai PON,” ungkap Sita Razmi, Technical Delegate cabang tembak saat technical meeting dengan perwakilan kontingen tembak.
Walau begitu, Sita tetap menegaskan pertandingan tembak 25 meter pistol women tetap berjalan sesuai jadwal yang telah ditetapkan. Hal itu disebabkan jadwal pertandingan telah padat dan sudah ada ketetapan dari PB PON agar pertandingan tidak mengalami perubahan. Berarti ini dimaklumi? “Gak dimaklumi, seharusnya gak boleh,” tegas Sita.
Sementara Ketua Pelaksana PON cabang tembak Alfian Sitompul berjanji bahwa jebolnya tembok sasaran tembak tidak akan terjadi lagi. Pihaknya bahkan akan segera memperbaiki kerusakan tersebut. "Akan di atasi hari ini (kemarin). Akan kita pasang lapis baja, kalau tidak akan kita pasang beton. Yang jelas, kami berjanji akan segera diperbaiki,” ujar Alfian, saat sesi tanya jawab dengan offiacial kontingen tembak, kemarin. “Maksimal yang bisa kita lakukan dengan kondisi minimal. Jangan terlalu dibesar-besarkan. Yang penting maksimal kita berlomba. Mohon teman-teman mengerti dengan kondisi ini,” sambungnya.
Sayang, ungkapan Alfian ini cenderung merugikan atlet. Mereka kecewa karena panitia terkesan tak memberikan jalan keluar, meski berjanji akan memperbaiki kerusakan. Tak heran jika suasana rapat menjadi gaduh dengan suara-sauara sumbang para kontingen peserta cabang menembak yang hadir dalam technical meeting tersebut.
Terlepas dari lapangan 25 meter yang mengalami masalah, lapangan 10 meter pun belum sepenuhnya siap untuk melaksanakan lomba. Namun, panpel yang diwakili Sita optimistis pelaksanaan partai final untuk kategori 25 meter dan 50 meter akan berjalan sesuai rencana. Sementara partai final 10 meter masih tentatif, apakah akan dilaksanakan di final hall atau tidak.
Atlet menembak putri DKI Jakarta Inca Ferry Wihartanti mengaku, persoalan fasilitas dan kondisi bangunan sesungguhnya bukanlah sesuatu yang patut dipermasalahkan. Sebab, masalah ini sebenarnya sudah menjadi rahasia umum. Menurut dia, pemasalahan utama adalah regulasi dan standar kompetisi. Bagi atlet yang telah mengikuti tujuh kali pelaksanaan PON ini, standar yang dicanangkan ISSF tidak terpenuhi, maka hal inilah yang patut diperhatikan dengan seksama dan bijaksana.
Atlet dengan spesialisasi nomor Smallbore Rifle Rone 3 Positions ini menganggap bahwa panitia PON kali ini seperti aparat (ABRI). “Ini pendapat saya ya, sepertinya kita diperlakukan seperti ABRI yang harus siap dengan kondisi dan situasi apapun. Walau sebenarnya kita tak mau sebagai atlet tetap siap tempur,” ujar Inca.
Atlet yang akan turun di dua nomor ini juga mengeluh soal sanitasi di arena tembak. Menurut wanita berusia 30 tahun itu, fasilitas sanitasi sangat tidak memadai. Dia bahkan menceritakan dua temannya sampai terpaksa menahan buang air akibat tak ada air. Jika pun ada, paling hanya satu keran yang mengucur airnya. Itu pun sangat kecil.
Selain itu, dia juga menyoroti venue yang terkesan dikebut dalam hal pembangunan tersebut, terutama debu yang terlihat masih sangat tebal di hampir semua aspek bangunan. Intinya, kenyamanan atlet menembak di sini sangat tak nyaman dengan kondisi serba minimalis tersebut.
Kondisi itu jelas bertolak belakang dengan pernyataan Menteri Pemuda dan Olahraga (Menpora) Andi Mallarangeng sebelumnya. Politisi dari Partai Demokrat itu sempat mengklaim bahwa venue menembak layak digunakan karena memenuhi standarisasi, kendati sangat minimalis. "Jangan salah kaprah dengan makna minimalis. Makna itu bukan berarti serba kekurangan, tapi pertandingan akan tetap digelar dengan standarisasi yang ada," kilahnya saat itu.
Sementara itu, Anggota DPR Komisi X Dedi Gumilar menyatakan jebolnya tembok lapangan tembok harus menjadi perhatian pemerintah agar tidak terulang saat pelaksanaan PON berikutnya. Dalam kunjungannya ke lokasi, dia pun meminta kepada panpel sesegera mungkin memperbaiki kekurangan tersebut. “Hal ini tak bisa dibiarkan, soalnya berurusan dengan masalah nyawa orang. Kalau jatuh korban gimana?” ujar Dedi
Kondisi itu jelas menjadi pertanyaan besar bagi kesiapan panitia pelaksana (panpel) cabang menembak terkait masih buruknya kondisi dan fasilitas lapangan tembak sebelum dipertandingkan pada Kamis (13/9). Bahkan, jebolnya tembok lapangan tembak yang menjadi sasaran bidik atlet menambah suram kesiapan tuan rumah Riau. Tembok yang menjadi batas itu jebol hingga meninggalkan lubang besar di bagian luar gedung.
Kendati belum membahayakan, kondisi ini menunjukkan bahwa bangunan arena tembak tidak dikonstruksi sebagaimana standar yang berlaku. Sebab, pasca kejadian itu, atlet yang sedang melakukan latihan dan adaptasi lapangan pun harus menghentikan kegiatan. Bahkan, perlombaan nomor 25 meter pistol woman yang dijadwalkan akan dilaksanakan hari ini terancam batal dilaksanakan.
“Lapangan ini sudah tidak memenuhi standar ISSF (International Shot Sport Federation). Hal ini juga sudah kita laporkan pada KONI Pusat dan PB PON bahwa bangunan ini tidak layak untuk dipakai PON,” ungkap Sita Razmi, Technical Delegate cabang tembak saat technical meeting dengan perwakilan kontingen tembak.
Walau begitu, Sita tetap menegaskan pertandingan tembak 25 meter pistol women tetap berjalan sesuai jadwal yang telah ditetapkan. Hal itu disebabkan jadwal pertandingan telah padat dan sudah ada ketetapan dari PB PON agar pertandingan tidak mengalami perubahan. Berarti ini dimaklumi? “Gak dimaklumi, seharusnya gak boleh,” tegas Sita.
Sementara Ketua Pelaksana PON cabang tembak Alfian Sitompul berjanji bahwa jebolnya tembok sasaran tembak tidak akan terjadi lagi. Pihaknya bahkan akan segera memperbaiki kerusakan tersebut. "Akan di atasi hari ini (kemarin). Akan kita pasang lapis baja, kalau tidak akan kita pasang beton. Yang jelas, kami berjanji akan segera diperbaiki,” ujar Alfian, saat sesi tanya jawab dengan offiacial kontingen tembak, kemarin. “Maksimal yang bisa kita lakukan dengan kondisi minimal. Jangan terlalu dibesar-besarkan. Yang penting maksimal kita berlomba. Mohon teman-teman mengerti dengan kondisi ini,” sambungnya.
Sayang, ungkapan Alfian ini cenderung merugikan atlet. Mereka kecewa karena panitia terkesan tak memberikan jalan keluar, meski berjanji akan memperbaiki kerusakan. Tak heran jika suasana rapat menjadi gaduh dengan suara-sauara sumbang para kontingen peserta cabang menembak yang hadir dalam technical meeting tersebut.
Terlepas dari lapangan 25 meter yang mengalami masalah, lapangan 10 meter pun belum sepenuhnya siap untuk melaksanakan lomba. Namun, panpel yang diwakili Sita optimistis pelaksanaan partai final untuk kategori 25 meter dan 50 meter akan berjalan sesuai rencana. Sementara partai final 10 meter masih tentatif, apakah akan dilaksanakan di final hall atau tidak.
Atlet menembak putri DKI Jakarta Inca Ferry Wihartanti mengaku, persoalan fasilitas dan kondisi bangunan sesungguhnya bukanlah sesuatu yang patut dipermasalahkan. Sebab, masalah ini sebenarnya sudah menjadi rahasia umum. Menurut dia, pemasalahan utama adalah regulasi dan standar kompetisi. Bagi atlet yang telah mengikuti tujuh kali pelaksanaan PON ini, standar yang dicanangkan ISSF tidak terpenuhi, maka hal inilah yang patut diperhatikan dengan seksama dan bijaksana.
Atlet dengan spesialisasi nomor Smallbore Rifle Rone 3 Positions ini menganggap bahwa panitia PON kali ini seperti aparat (ABRI). “Ini pendapat saya ya, sepertinya kita diperlakukan seperti ABRI yang harus siap dengan kondisi dan situasi apapun. Walau sebenarnya kita tak mau sebagai atlet tetap siap tempur,” ujar Inca.
Atlet yang akan turun di dua nomor ini juga mengeluh soal sanitasi di arena tembak. Menurut wanita berusia 30 tahun itu, fasilitas sanitasi sangat tidak memadai. Dia bahkan menceritakan dua temannya sampai terpaksa menahan buang air akibat tak ada air. Jika pun ada, paling hanya satu keran yang mengucur airnya. Itu pun sangat kecil.
Selain itu, dia juga menyoroti venue yang terkesan dikebut dalam hal pembangunan tersebut, terutama debu yang terlihat masih sangat tebal di hampir semua aspek bangunan. Intinya, kenyamanan atlet menembak di sini sangat tak nyaman dengan kondisi serba minimalis tersebut.
Kondisi itu jelas bertolak belakang dengan pernyataan Menteri Pemuda dan Olahraga (Menpora) Andi Mallarangeng sebelumnya. Politisi dari Partai Demokrat itu sempat mengklaim bahwa venue menembak layak digunakan karena memenuhi standarisasi, kendati sangat minimalis. "Jangan salah kaprah dengan makna minimalis. Makna itu bukan berarti serba kekurangan, tapi pertandingan akan tetap digelar dengan standarisasi yang ada," kilahnya saat itu.
Sementara itu, Anggota DPR Komisi X Dedi Gumilar menyatakan jebolnya tembok lapangan tembok harus menjadi perhatian pemerintah agar tidak terulang saat pelaksanaan PON berikutnya. Dalam kunjungannya ke lokasi, dia pun meminta kepada panpel sesegera mungkin memperbaiki kekurangan tersebut. “Hal ini tak bisa dibiarkan, soalnya berurusan dengan masalah nyawa orang. Kalau jatuh korban gimana?” ujar Dedi
(aww)