Triyatno patahkan rekor PON
Kamis, 13 September 2012 - 22:50 WIB
Triyatno patahkan rekor PON
A
A
A
Sindonews.com - Lifter Kalimantan Timur (Kaltim) Triyatno mempersembahkan medali emas di kelas 69 kg pada PON Riau XVIII 2012 di Hotel Ratu Mayang, Pekanbaru, Kamis (13/9). Tak hanya itu, dia juga memecahkan rekor PON di angkatan clean and jerk.
Rekor itu dipecahkan Triyatno setelah di angkatan clean and jerk sukses mengangkat 179 kg. Hasil itu cukup menggeser rekor sebelumnya milik lifter Lampung Misdan Yunif dengan angkatan 175 kg. Tapi, keberhasilan Triyatno tak lepas dari pencapaian sempurnanya di angkatan snatch yang berhasil mengangkat 146 kg.
Jika ditotal, Triyatno berhasil mengangkat 325 kg. Itu membuatnya berhak mendapatkan emas sekaligus mengubur ambisi lifter Jawa Barat (Jabar) Deni yang harus puas meraih perak karena hanya mencapai total angkatan 317 kg. Sementara medali perunggu direbut lifter Bali I Ketut Ariana dengan total angkatan 314 kg.
Sayang, keberhasilan Triyatno harus dibayar mahal karena peraih medali perak Olimpiade 2012 itu mengalami cedera otot. Dia pun terpaksa menjalani recovery selama tiga bulan untuk memulihkan kondisinya. Kendati demikian, dia tak mempermasalahkan itu.
Bagi Triyatno, keberhasilan mendapatkan emas adalah segalanya. Apalagi, dia mendapat persaingan ketat di kelas tersebut. “Kemenangan ini saya persembahkan untuk masyarakat Kaltim, khususnya untuk orang tua saya,” kata Triyatno. "Selama bertanding, saya tampil tanpa beban. Itu yang membuat saya tampil fokus meski persaingan sangat ketat dengan Deni,” sambungnya.
Triyatno boleh melupakan nyeri ototnya, apalagi dia bakal kebanjiran bonus karena mendapatkan medali tersebut. Triyatno pun membenarkannya, yakni akan mendapat penghargaan dari Provinsi Kaltim senilai Rp250 juta.
“Bukan hanya Kaltim yang akan memberikan bonus itu, tapi saya juga akan mendapat Rp10 juta dari bapak angkat saya. Tapi, saya tetap mementingkan masalah pemulihan untuk mengembalikan kebugaran,” tandasnya.
Pelatih Angkat Besi Kaltim Lukman mengatakan, cedera Triyatno tidak terlalu serius. Dia hanya membutuhkan rehabilitasi dan tidak akan mengikuti kegiatan latihan. Triyatno hanya akan difokuskan menjalani upper body untuk tetap latihan menjaga kebugarannya.
Menurut Lukman, waktu pemulihan selama tiga bulan sudah cukup menyembuhkan jaringan ototnya yang robek itu. Sehingga, dengan istirahat, sudah cukup membuatnya mempersiapkan Triyatno mengikuti beberapa turnamen selanjutnya.
"Cederanya tidak terlalu parah dan hanya butuh rehabilitasi saja. Dengan istirahat tiga bulan pemulihan sudah cukup untuknya kembali fit," papar Lukman. "Setelah Olimpiade dan PON ini, dia akan mempersiapkan diri tampil di ISG, SEA Games, Asian Games, dan Oimpiade. Itu akan dipersiapkan di luar negeri, seperi di China dan Korea Selatan," lanjutnya.
Sementara kontingen Bali memetik medali emas pertama dari angkat besi. Itu terjadi setelah Sinta Darmariani membuktikan dominasinya di kelas 69 kg putri. Tak hanya memperoleh emas, Sinta juga memecahkan rekor PON di angkatan clean and jerk.
Di angkatan tersebut, Sinta sukses mengangkat barbel seberat 118 kg. Angkatan itu menggeser rekor sebelumnya milik lifter Lampung Beti Feriyani (113 kg). Jika ditotal dengan angkatan snatch seberat 92 kg, maka Sinta mampu mengangkat total 210 kg. Hasil itu cukup menggusur lifter Jabar Sonia Febriyani di posisi kedua dengan total angkatan 202. Sementara medali perunggu direbut lifter Kalimantan Tengah Novita Purnama Sari dengan angkatan 187 kg.
Rekor itu dipecahkan Triyatno setelah di angkatan clean and jerk sukses mengangkat 179 kg. Hasil itu cukup menggeser rekor sebelumnya milik lifter Lampung Misdan Yunif dengan angkatan 175 kg. Tapi, keberhasilan Triyatno tak lepas dari pencapaian sempurnanya di angkatan snatch yang berhasil mengangkat 146 kg.
Jika ditotal, Triyatno berhasil mengangkat 325 kg. Itu membuatnya berhak mendapatkan emas sekaligus mengubur ambisi lifter Jawa Barat (Jabar) Deni yang harus puas meraih perak karena hanya mencapai total angkatan 317 kg. Sementara medali perunggu direbut lifter Bali I Ketut Ariana dengan total angkatan 314 kg.
Sayang, keberhasilan Triyatno harus dibayar mahal karena peraih medali perak Olimpiade 2012 itu mengalami cedera otot. Dia pun terpaksa menjalani recovery selama tiga bulan untuk memulihkan kondisinya. Kendati demikian, dia tak mempermasalahkan itu.
Bagi Triyatno, keberhasilan mendapatkan emas adalah segalanya. Apalagi, dia mendapat persaingan ketat di kelas tersebut. “Kemenangan ini saya persembahkan untuk masyarakat Kaltim, khususnya untuk orang tua saya,” kata Triyatno. "Selama bertanding, saya tampil tanpa beban. Itu yang membuat saya tampil fokus meski persaingan sangat ketat dengan Deni,” sambungnya.
Triyatno boleh melupakan nyeri ototnya, apalagi dia bakal kebanjiran bonus karena mendapatkan medali tersebut. Triyatno pun membenarkannya, yakni akan mendapat penghargaan dari Provinsi Kaltim senilai Rp250 juta.
“Bukan hanya Kaltim yang akan memberikan bonus itu, tapi saya juga akan mendapat Rp10 juta dari bapak angkat saya. Tapi, saya tetap mementingkan masalah pemulihan untuk mengembalikan kebugaran,” tandasnya.
Pelatih Angkat Besi Kaltim Lukman mengatakan, cedera Triyatno tidak terlalu serius. Dia hanya membutuhkan rehabilitasi dan tidak akan mengikuti kegiatan latihan. Triyatno hanya akan difokuskan menjalani upper body untuk tetap latihan menjaga kebugarannya.
Menurut Lukman, waktu pemulihan selama tiga bulan sudah cukup menyembuhkan jaringan ototnya yang robek itu. Sehingga, dengan istirahat, sudah cukup membuatnya mempersiapkan Triyatno mengikuti beberapa turnamen selanjutnya.
"Cederanya tidak terlalu parah dan hanya butuh rehabilitasi saja. Dengan istirahat tiga bulan pemulihan sudah cukup untuknya kembali fit," papar Lukman. "Setelah Olimpiade dan PON ini, dia akan mempersiapkan diri tampil di ISG, SEA Games, Asian Games, dan Oimpiade. Itu akan dipersiapkan di luar negeri, seperi di China dan Korea Selatan," lanjutnya.
Sementara kontingen Bali memetik medali emas pertama dari angkat besi. Itu terjadi setelah Sinta Darmariani membuktikan dominasinya di kelas 69 kg putri. Tak hanya memperoleh emas, Sinta juga memecahkan rekor PON di angkatan clean and jerk.
Di angkatan tersebut, Sinta sukses mengangkat barbel seberat 118 kg. Angkatan itu menggeser rekor sebelumnya milik lifter Lampung Beti Feriyani (113 kg). Jika ditotal dengan angkatan snatch seberat 92 kg, maka Sinta mampu mengangkat total 210 kg. Hasil itu cukup menggusur lifter Jabar Sonia Febriyani di posisi kedua dengan total angkatan 202. Sementara medali perunggu direbut lifter Kalimantan Tengah Novita Purnama Sari dengan angkatan 187 kg.
(aww)