Juara umum layar, Jatim tidak puas
Selasa, 18 September 2012 - 23:06 WIB
Juara umum layar, Jatim tidak puas
A
A
A
Sindonews.com - Tim layar Jawa Timur menahbiskan diri sebagai juara umum setelah puncak kelasmen perolehan medali dengan mendulang 4 emas, 3 perunggu dan 4 perunggu di hari terakhir perlombaan yang digelar di Selat Baru Bantan, Bengkalis, kemarin. Sayang, tim layar Jatim tetap harus tersenyum pahit.
Perlombaan yang terbagi 12 race itu, kontingen Jatim mendulang emas terbanyak dengan total 4 emas, 3 perak dan 4 perunggu. Terpaut medali perak dengan DKI Jakarta di posisi kedua, 4 emas, 2 perak, 2 perunggu. Sedangkan Sulawesi Selatan, emas dan 3 perak.
Keempat emas Jatim disumbangkan Badrul Sahid dan Hoiriyah yang turun di nomor selancar RSX putra dan putri. Disusul dua emas sisanya disumbangkan I Made Astika Oye di nomor selancar mistral ringan dan nomor layar 420 atas nama Zakaria Rizki Dharmawan dan Hedi Yunus Bagaskara.
Meski menjadi pendulang emas terbanyak, namun pengurus Pengropv Persatus Layar Seluruh Indonesia (PORLASI) Jatim tetap tersenyum getir. Sebab, Jawa Timur masih gagal. Karena satu medali emas lolos dari bidikan."Target kita 5 medali emas, tapi sampai berakhirnya pertandingan hanya dapat 4 emas," kata monitor dan evaluasi (monev) cabor layar KONI Jawa Timur, Agus Mulyono saat dikonfirmasi.
Satu medali emas yang lolos dari bidikan kontingen Jawa Timur adalah nomor layar kelas radial. Atlet Jawa Timur atas nama Sujatmiko berada di posisi dua klasemen akhir dan berhak atas medali perak. Sujatmiko kalah dengan atlet asal kontingen Kepulauan Riau (Kepri). Padahal Sujatmiko merupakan atlet senior sarat pengalaman.
Menurut Agus Mulyono, kegagalan Sujatmiko merebut medali emas lebih dikarenakan faktor angin. Saat berlatih di Pantai Kenjeran Surabaya, Sujatmiko dan beberapa atlet Jawa Timur lainnya biasa dengan kecepatan angin 8 knot. Sementara di Selat Baru Bantan Bengkalis berkisar 6 knot. "Berat badan memengaruhi. Yang berat badannya ringan tetap melaju dengan angin rendah. Yang badannya berat ya setengah mati," terangnya.
Bukan hanya Jawa Timur yang gagal memenuhi target perolehan medali dengan kecepatan angin rendah. Beberapa daerah juga mengalami hasil jeblok, tak terkecuali kontingen Jawa Barat. Justru yang bisa dikatakan sukses adalah kontingen DKI Jakarta diluar prediksi bisa merebut empat emas.
Agus menilai, pelatih DKI Jakarta cukup pintar membaca kondisi. Dengan kecepatan angin yang rendah, dari awal kontingen DKI Jakarta membawa peralatan lama buatan Australia yang lebih ringan. Sedangkan kontingen Jawa Timur membawa peralatan baru buatan Inggris yang cenderung lebih berat."Terbukti, peralatan baru belum tentu lebih baik. Jawa Timur gunakan alat dari Inggris, kalau kecepatan angin tinggi memang bagus," pungkasnya
Perlombaan yang terbagi 12 race itu, kontingen Jatim mendulang emas terbanyak dengan total 4 emas, 3 perak dan 4 perunggu. Terpaut medali perak dengan DKI Jakarta di posisi kedua, 4 emas, 2 perak, 2 perunggu. Sedangkan Sulawesi Selatan, emas dan 3 perak.
Keempat emas Jatim disumbangkan Badrul Sahid dan Hoiriyah yang turun di nomor selancar RSX putra dan putri. Disusul dua emas sisanya disumbangkan I Made Astika Oye di nomor selancar mistral ringan dan nomor layar 420 atas nama Zakaria Rizki Dharmawan dan Hedi Yunus Bagaskara.
Meski menjadi pendulang emas terbanyak, namun pengurus Pengropv Persatus Layar Seluruh Indonesia (PORLASI) Jatim tetap tersenyum getir. Sebab, Jawa Timur masih gagal. Karena satu medali emas lolos dari bidikan."Target kita 5 medali emas, tapi sampai berakhirnya pertandingan hanya dapat 4 emas," kata monitor dan evaluasi (monev) cabor layar KONI Jawa Timur, Agus Mulyono saat dikonfirmasi.
Satu medali emas yang lolos dari bidikan kontingen Jawa Timur adalah nomor layar kelas radial. Atlet Jawa Timur atas nama Sujatmiko berada di posisi dua klasemen akhir dan berhak atas medali perak. Sujatmiko kalah dengan atlet asal kontingen Kepulauan Riau (Kepri). Padahal Sujatmiko merupakan atlet senior sarat pengalaman.
Menurut Agus Mulyono, kegagalan Sujatmiko merebut medali emas lebih dikarenakan faktor angin. Saat berlatih di Pantai Kenjeran Surabaya, Sujatmiko dan beberapa atlet Jawa Timur lainnya biasa dengan kecepatan angin 8 knot. Sementara di Selat Baru Bantan Bengkalis berkisar 6 knot. "Berat badan memengaruhi. Yang berat badannya ringan tetap melaju dengan angin rendah. Yang badannya berat ya setengah mati," terangnya.
Bukan hanya Jawa Timur yang gagal memenuhi target perolehan medali dengan kecepatan angin rendah. Beberapa daerah juga mengalami hasil jeblok, tak terkecuali kontingen Jawa Barat. Justru yang bisa dikatakan sukses adalah kontingen DKI Jakarta diluar prediksi bisa merebut empat emas.
Agus menilai, pelatih DKI Jakarta cukup pintar membaca kondisi. Dengan kecepatan angin yang rendah, dari awal kontingen DKI Jakarta membawa peralatan lama buatan Australia yang lebih ringan. Sedangkan kontingen Jawa Timur membawa peralatan baru buatan Inggris yang cenderung lebih berat."Terbukti, peralatan baru belum tentu lebih baik. Jawa Timur gunakan alat dari Inggris, kalau kecepatan angin tinggi memang bagus," pungkasnya
(aww)