Tim tenis DKI juara umum
Rabu, 19 September 2012 - 21:32 WIB
Tim tenis DKI juara umum
A
A
A
Sindonews.com - Tim tenis DKI Jakarta menjadi juara umum cabang olahraga (cabor) tenis pada PON XVIII/2012 di Riau. Kepastian itu didapat setelah Aldila Sutjiadi merebut emas tunggal putri seusai mengandaskan rekannya asal DKI, Vony Darlina, 6-1, 7-5 di Stadion Tenis PTPN V, Pekanbaru, Riau, Rabu (19/9).
Kemenangan itu merupakan keberhasilan keempat tim DKI meraih emas. Bagi Aldila, secara total dia berhasil menjadi pengumpul medali terbanyak dengan torehan tiga emas. Pencapaianya itu menyamai perolehan yang diraih rekannya Athena Natali. Sebelumnya, Aldila berhasil mendapatkan emas di nomor beregu dan ganda putri.
''Perasaan saya tentu senang, apalagi bisa meraih tiga medali emas di PON pertama saya. Keberhasilan itu tak lepas dari kerja keras saya latihan fisik dan mental untuk menjadi juara,” kata Aldila. ''Saya butuh perjuangan untuk menjadi juara. Jadi, ya saya bahagia dan puas dengan hasil yang di capai di PON kali ini,” lanjutnya.
Menurut Pelatih Tenis Putri DKI Roy Morison, keberhasilan Aldila sudah terlihat, terlebih setelah dia bermain dengan baik di pertandingan final tunggal putri. Roy menilai anak didiknya itu mampu bermain bagus dan memanfaatkan momentum sulit seperti mengembalikan bola yang jauh dari jangkauannya.
''Secara teknis permainan dan kemampuan, kedua petenis DKI itu berimbang. Cuma mungkin Aldila bisa memanfaatkan keadaan di lapangan,” kata Roy. ''Sedangkan Vony banyak melakukan kesalahan yang menyebabkan Aldila mendapatkan poin dengan mudah. Itu yang membuat Aldila meraih kemenangan,” ujarnya.
Roy pun bersyukur membawa DKI meraih juara umum di cabor tenis. Kegembiraan pemain, pelatih, dan tim ofisial bahkan memuncak karena timnya hanya ditarget mendapatkan dua medali emas sebelumnya. Namun, pencapaian di lapangan ternyata melampaui target yang dibebankan. Hasil itu tentunya di luar dugaan, yakni bisa mengantarkan DKI menjadi yang terbaik di cabor tenis.
Yang jelas, keberhasilan Aldila ini merupakan pencapaian sempurna. Baru pertama kali bertanding di pentas nasional, dia mampu meraih tiga medali emas. Hasil itu yang membuatnya terlihat bangga. Roy bahkan tak salah menyebut jika Aldila adalah petenis terbaik di usianya.
Pujian Roy terhadap Aldila cukup beralasan, apalagi Aldila pernah merasakan turnamen besar seperti grand slam Australia Terbuka dan Wimbledon meski hanya tampil di tingkat junior. Dengan pengalaman bertanding plus prestasi yang telah ditorehkan di PON, Aldila sejatinya harus mencari ilmu lebih tinggi demi meningkatkan prestasinya.
''Aldila selanjutnya akan bermain di Amerika Serikat. Dia akan menimba ilmu untuk mengikuti dua kejuaraan setipe dengan grand slam junior. Itu menjadi kesempatannya untuk bisa lebih baik ke depannya,” papar Roy.
Di nomor tunggal putra, petenis Jawa Tengah (Jateng) Wisnu Adi Nugroho mempersembahkan medali emas setelah mengalahkan petenis tuan rumah David Agung Susanto 7-5, 6-3. Keberhasilannya itu membuat Jateng menempati peringkat dua klasemen tenis setelah meraih dua emas berkat nomor tunggal dan nomor beregu putra sebelumnya.
Kemenangan itu merupakan keberhasilan keempat tim DKI meraih emas. Bagi Aldila, secara total dia berhasil menjadi pengumpul medali terbanyak dengan torehan tiga emas. Pencapaianya itu menyamai perolehan yang diraih rekannya Athena Natali. Sebelumnya, Aldila berhasil mendapatkan emas di nomor beregu dan ganda putri.
''Perasaan saya tentu senang, apalagi bisa meraih tiga medali emas di PON pertama saya. Keberhasilan itu tak lepas dari kerja keras saya latihan fisik dan mental untuk menjadi juara,” kata Aldila. ''Saya butuh perjuangan untuk menjadi juara. Jadi, ya saya bahagia dan puas dengan hasil yang di capai di PON kali ini,” lanjutnya.
Menurut Pelatih Tenis Putri DKI Roy Morison, keberhasilan Aldila sudah terlihat, terlebih setelah dia bermain dengan baik di pertandingan final tunggal putri. Roy menilai anak didiknya itu mampu bermain bagus dan memanfaatkan momentum sulit seperti mengembalikan bola yang jauh dari jangkauannya.
''Secara teknis permainan dan kemampuan, kedua petenis DKI itu berimbang. Cuma mungkin Aldila bisa memanfaatkan keadaan di lapangan,” kata Roy. ''Sedangkan Vony banyak melakukan kesalahan yang menyebabkan Aldila mendapatkan poin dengan mudah. Itu yang membuat Aldila meraih kemenangan,” ujarnya.
Roy pun bersyukur membawa DKI meraih juara umum di cabor tenis. Kegembiraan pemain, pelatih, dan tim ofisial bahkan memuncak karena timnya hanya ditarget mendapatkan dua medali emas sebelumnya. Namun, pencapaian di lapangan ternyata melampaui target yang dibebankan. Hasil itu tentunya di luar dugaan, yakni bisa mengantarkan DKI menjadi yang terbaik di cabor tenis.
Yang jelas, keberhasilan Aldila ini merupakan pencapaian sempurna. Baru pertama kali bertanding di pentas nasional, dia mampu meraih tiga medali emas. Hasil itu yang membuatnya terlihat bangga. Roy bahkan tak salah menyebut jika Aldila adalah petenis terbaik di usianya.
Pujian Roy terhadap Aldila cukup beralasan, apalagi Aldila pernah merasakan turnamen besar seperti grand slam Australia Terbuka dan Wimbledon meski hanya tampil di tingkat junior. Dengan pengalaman bertanding plus prestasi yang telah ditorehkan di PON, Aldila sejatinya harus mencari ilmu lebih tinggi demi meningkatkan prestasinya.
''Aldila selanjutnya akan bermain di Amerika Serikat. Dia akan menimba ilmu untuk mengikuti dua kejuaraan setipe dengan grand slam junior. Itu menjadi kesempatannya untuk bisa lebih baik ke depannya,” papar Roy.
Di nomor tunggal putra, petenis Jawa Tengah (Jateng) Wisnu Adi Nugroho mempersembahkan medali emas setelah mengalahkan petenis tuan rumah David Agung Susanto 7-5, 6-3. Keberhasilannya itu membuat Jateng menempati peringkat dua klasemen tenis setelah meraih dua emas berkat nomor tunggal dan nomor beregu putra sebelumnya.
(aww)