Banting setir jadi Girls Band
Kamis, 20 September 2012 - 22:55 WIB
Banting setir jadi Girls Band
A
A
A
Sindonews.com - Tepat setelah pertandingan final bola basket putri antara Kalimantan Timur (Kaltim) dan Jawa Tengah (Jateng), ratusan penonton yang awalnya memenuhi tribune berbondong-bondong menuju ruang ganti pemain. Tujuan utama mereka tak lain untuk foto bersama kembar siam Rasidi bersaudara.
Meski Kaltim menelan kekalahan dan harus puas dengan medali perak, penonton tak lagi peduli dengan medali. Kerja sama apik nan impresif Lamia Rasidi dan Tania Rasidi sepanjang perhelatan cabang olahraga (cabor) basket rupanya lebih menarik perhatian pengunjung di Hall Basket Komplek Olahraga Rumbai, Pekanbaru, Riau.
Bermodal kulit mulus dan wajah cantik, kembar dara berdarah Palembang-Arab itu bak selebritis yang sedang naik daun. Bahkan penonton yang tak dapat foto bersama terus meneriakkan kedua nama bintang Kaltim itu.
Di tim Kaltim, Lamia bertugas sebagai guard yang mengatur ritme permainan dan memberi umpan. Sementara Tania sebagai forward yang unggul pada tembakan tiga poin. Jika diibaratkan, keduanya bagai pisau kembar yang mampu memecah-belah konsentrasi lawan. Peran keduanya pun sangat signifikan dalam setiap pertandingan yang dilakoni Kaltim di Pekan Olahraga Nasional (PON) XVIII/2012.
Sebelum membela Kaltim di PON XVII/2008, kembar kelahiran Jakarta 8 April 1991 (Lamia lahir terlebih dahulu dan Tania menyusul delapan menit kemudian) itu adalah penggawa utama DKI Jakarta. Dua mahasiswi Universitas Gajah Mada Fakultas Psikologi semester tujuh itu juga sempat tergabung bersama di tim Indonesia Muda Jakarta.
Keduanya mengaku telah bermain basket sejak masih kelas dua Sekolah Dasar (SD) walau pada awalnya lebih sering bermain sepak bola. Selain sibuk dengan basket, ternyata keduanya kini juga sedang disibukkan dengan kegiatan berlatih tarik suara dan menggarap proyek girls band. Nama grup seni tarik suara itu adalah The Twin-Twin. Nama band ini diakui sengaja dipilih karena anggotanya terdiri dari tiga pasangan kembar. ''Kami mewakili ikon si kembar tomboi di girls band kami,” jelas Tamia.
Grup yang telah terbentuk sejak Januari 2012 ini pun telah melakoni rekaman album. “Base camp kita di Jakarta, tetapi kita berlatih dan ngumpul di Yogyakarta. Doakan saja akan launching sebentar lagi,” pungkas Lamia.
Sayangnya, meski masih ingin terjun di dunia basket, putri pasangan Yusnursyah Alam dan Emma Rasidi ini terancam tak akan berkecimpung lagi dengan olahraga yang populer di Amerika Serikat (AS) tersebut. ''Saya ingin dia fokus kuliah. Saya ingin sekolahkan dia sampai S2 ke luar negeri. Percuma bergelut di olahraga, banyak carut-marutnya,” ungkap sang ayah Yusnursyah.
Sementara sang ibu kini lebih mendukung anaknya untuk menjadi selebritis lewat jalur musik. Saat dikonfirmasi soal keinginan kedua orang tuanya tersebut, Lamia hanya menegaskan bahwa dirinya masih terikat kontrak dengan tim basket asal Bengawan Solo, Sritex Dragon Solo. “Saya cuma ingin fokus saja dulu menyelesaikan kuliah. Ke depannya bagaimana, ya kita lihat saja nanti,” tegas Lamia.
Kembar yang mengaku memiliki banyak kesamaan ini menambahkan jika mereka memiliki ikatan batin sangat kuat. Tania bahkan tak harus melihat posisi Lamia untuk melakukan pasing. Anehnya, dia selalu tepat memberikan umpan tepat kepada kembarannya tersebut.
Tania memaparkan, ikatan itu tak hanya terjadi di dalam lapangan, tapi juga ketika menjalani kehidupan sehari-hari. Mereka bahkan masih saja mengenakan pakaian dalam bentuk dan warna yang sama. “Tak ada yang beda, lihat saja. Mulai sepatu, baju, kami sama. Bahkan, makanan kesukaan juga sama,” tutur Lamia.
Jika di PON Riau adalah akhir karier Lamia dan Tania di cabor basket, maka beruntunglah mereka yang telah foto bersama. Sebab, jika keduanya berhasil masuk industri televisi, maka bintang basket yang dielu-elukan di Pekanbaru ini tak akan lagi menghiasai lapangan bola basket.
Meski Kaltim menelan kekalahan dan harus puas dengan medali perak, penonton tak lagi peduli dengan medali. Kerja sama apik nan impresif Lamia Rasidi dan Tania Rasidi sepanjang perhelatan cabang olahraga (cabor) basket rupanya lebih menarik perhatian pengunjung di Hall Basket Komplek Olahraga Rumbai, Pekanbaru, Riau.
Bermodal kulit mulus dan wajah cantik, kembar dara berdarah Palembang-Arab itu bak selebritis yang sedang naik daun. Bahkan penonton yang tak dapat foto bersama terus meneriakkan kedua nama bintang Kaltim itu.
Di tim Kaltim, Lamia bertugas sebagai guard yang mengatur ritme permainan dan memberi umpan. Sementara Tania sebagai forward yang unggul pada tembakan tiga poin. Jika diibaratkan, keduanya bagai pisau kembar yang mampu memecah-belah konsentrasi lawan. Peran keduanya pun sangat signifikan dalam setiap pertandingan yang dilakoni Kaltim di Pekan Olahraga Nasional (PON) XVIII/2012.
Sebelum membela Kaltim di PON XVII/2008, kembar kelahiran Jakarta 8 April 1991 (Lamia lahir terlebih dahulu dan Tania menyusul delapan menit kemudian) itu adalah penggawa utama DKI Jakarta. Dua mahasiswi Universitas Gajah Mada Fakultas Psikologi semester tujuh itu juga sempat tergabung bersama di tim Indonesia Muda Jakarta.
Keduanya mengaku telah bermain basket sejak masih kelas dua Sekolah Dasar (SD) walau pada awalnya lebih sering bermain sepak bola. Selain sibuk dengan basket, ternyata keduanya kini juga sedang disibukkan dengan kegiatan berlatih tarik suara dan menggarap proyek girls band. Nama grup seni tarik suara itu adalah The Twin-Twin. Nama band ini diakui sengaja dipilih karena anggotanya terdiri dari tiga pasangan kembar. ''Kami mewakili ikon si kembar tomboi di girls band kami,” jelas Tamia.
Grup yang telah terbentuk sejak Januari 2012 ini pun telah melakoni rekaman album. “Base camp kita di Jakarta, tetapi kita berlatih dan ngumpul di Yogyakarta. Doakan saja akan launching sebentar lagi,” pungkas Lamia.
Sayangnya, meski masih ingin terjun di dunia basket, putri pasangan Yusnursyah Alam dan Emma Rasidi ini terancam tak akan berkecimpung lagi dengan olahraga yang populer di Amerika Serikat (AS) tersebut. ''Saya ingin dia fokus kuliah. Saya ingin sekolahkan dia sampai S2 ke luar negeri. Percuma bergelut di olahraga, banyak carut-marutnya,” ungkap sang ayah Yusnursyah.
Sementara sang ibu kini lebih mendukung anaknya untuk menjadi selebritis lewat jalur musik. Saat dikonfirmasi soal keinginan kedua orang tuanya tersebut, Lamia hanya menegaskan bahwa dirinya masih terikat kontrak dengan tim basket asal Bengawan Solo, Sritex Dragon Solo. “Saya cuma ingin fokus saja dulu menyelesaikan kuliah. Ke depannya bagaimana, ya kita lihat saja nanti,” tegas Lamia.
Kembar yang mengaku memiliki banyak kesamaan ini menambahkan jika mereka memiliki ikatan batin sangat kuat. Tania bahkan tak harus melihat posisi Lamia untuk melakukan pasing. Anehnya, dia selalu tepat memberikan umpan tepat kepada kembarannya tersebut.
Tania memaparkan, ikatan itu tak hanya terjadi di dalam lapangan, tapi juga ketika menjalani kehidupan sehari-hari. Mereka bahkan masih saja mengenakan pakaian dalam bentuk dan warna yang sama. “Tak ada yang beda, lihat saja. Mulai sepatu, baju, kami sama. Bahkan, makanan kesukaan juga sama,” tutur Lamia.
Jika di PON Riau adalah akhir karier Lamia dan Tania di cabor basket, maka beruntunglah mereka yang telah foto bersama. Sebab, jika keduanya berhasil masuk industri televisi, maka bintang basket yang dielu-elukan di Pekanbaru ini tak akan lagi menghiasai lapangan bola basket.
(aww)