Brajamusti tolak merger PSIM dengan PSS
Senin, 24 September 2012 - 22:02 WIB
Brajamusti tolak merger PSIM dengan PSS
A
A
A
Sindonews.com - Wacana merger PSIM-PSS Sleman yang dilontarkan manajemen PSIM menuai reaksi keras. Brajamusti, pendukung setia Laskar Mataram, julukan PSIM dengan tegas menolak wacana ini. Manajemen dinilai melupakan sejarah panjang tim.
Presiden Brajamusti, Eko Satrio Pringgodani menegaskan, pihaknya tegas menolak wacana yang digulirkan. Merger PSIM-PSS dianggap bukan solusi tepat untuk menyelesaikan problem finansial yang dihadapi tim kebanggaan mereka.
"Bagi kami wacana yang dilontarkan manajemen adalah wacana yang melupakan sejarah panjang PSIM. Wacana ini akan menghilangkan nama PSIM. Padahal selama ini kami hanya mendukung PSIM sebagai warisan simbah," tegas Eko, Senin (24/9/2012).
Eko mengatakan, situasi sulit yang dihadapi Laskar Mataram justru membutuhkan kreativitas dari manajemen, bukan justru memergerkan dua klub dengan latar belakang sejarahnya masing-masing. "Seharusnya siapkan konsepnya dulu seperti apa dengan melihat faktor sejarah dan lainnya," terang dia.
Bagi Brajamusti, merger akan sulit direalisasikan. Kecuali ada klub yang bubar seperti era 90-an. Kendati begitu dia tidak yakin tetangganya mau bubar dengan sukarela. "Hanya ada satu PSIM. Jadi bukan merger, tapi satu klub harus bubar. Masalahnya apa PSS mau?" tanya dia.
Dia menambahkan, wacana merger juga akan memanaskan tensi suporter kedua tim yang dikenal kurang akur. "Kami tetap berpandangan merger baru sebatas wacana bukan solusi cerdas seperti disampaikan Direktur Media PSIM, Ajiek Tarmidzi," imbuhnya.
Anggota Brajamusti, Ristu Hanafi mengaku tidak setuju dengan wacana merger yang digulirkan. Menurutnya, aspek historis klub harus jadi pertimbangan serius manajemen sebelum membuat keputusan. "Hargai historis klub, jangan dilupakan begitu saja," ucapnya.
Presiden Brajamusti, Eko Satrio Pringgodani menegaskan, pihaknya tegas menolak wacana yang digulirkan. Merger PSIM-PSS dianggap bukan solusi tepat untuk menyelesaikan problem finansial yang dihadapi tim kebanggaan mereka.
"Bagi kami wacana yang dilontarkan manajemen adalah wacana yang melupakan sejarah panjang PSIM. Wacana ini akan menghilangkan nama PSIM. Padahal selama ini kami hanya mendukung PSIM sebagai warisan simbah," tegas Eko, Senin (24/9/2012).
Eko mengatakan, situasi sulit yang dihadapi Laskar Mataram justru membutuhkan kreativitas dari manajemen, bukan justru memergerkan dua klub dengan latar belakang sejarahnya masing-masing. "Seharusnya siapkan konsepnya dulu seperti apa dengan melihat faktor sejarah dan lainnya," terang dia.
Bagi Brajamusti, merger akan sulit direalisasikan. Kecuali ada klub yang bubar seperti era 90-an. Kendati begitu dia tidak yakin tetangganya mau bubar dengan sukarela. "Hanya ada satu PSIM. Jadi bukan merger, tapi satu klub harus bubar. Masalahnya apa PSS mau?" tanya dia.
Dia menambahkan, wacana merger juga akan memanaskan tensi suporter kedua tim yang dikenal kurang akur. "Kami tetap berpandangan merger baru sebatas wacana bukan solusi cerdas seperti disampaikan Direktur Media PSIM, Ajiek Tarmidzi," imbuhnya.
Anggota Brajamusti, Ristu Hanafi mengaku tidak setuju dengan wacana merger yang digulirkan. Menurutnya, aspek historis klub harus jadi pertimbangan serius manajemen sebelum membuat keputusan. "Hargai historis klub, jangan dilupakan begitu saja," ucapnya.
(akr)