Fabio rindu melatih PSMS Medan
Selasa, 02 Oktober 2012 - 20:40 WIB
Fabio rindu melatih PSMS Medan
A
A
A
Sindonews.com - Mantan pelatih PSMS versi IPL, Fabio Lopez , memendam keinginan untuk membesut PSMS Medan di musim ini. Dia tidak terpengaruh dengan prestasi PSMS yang terdegradasi ke kasta kedua kompetisi di tanah air.
Sebagai pelatih asing berlisensi A UEFA berkebangsaan Italia, keinginan tersebut wajar, jika PSMS berkompetisi di kasta tertinggi. Namun, jika berkompetisi di level kedua sepak bola profesional di Indonesia, kondisi tersebut menjadi kurang wajar. Kendati demikian, pelatih 39 tahun tersebut tampaknya punya misi tersendiri.
Melalui e-mail, mantan pelatih liga tertinggi Lithuania FK Banga FC Siauliai itu mengungkapkan keinginannya melatih PSMS Medan di musim ini atau klub-klub lain di Indonesia. ''Saya sangat ingin kembali ke PSMS ku atau ke klub yang lain di Indonesia. Klub dengan mentalitas organisasi berbeda, tidak seperti musim lalu,” ujarnya.
Kalimat ''tidak seperti musim lalu” wajar dia tekankan. Sikap profesionalisme yang minim ditunjukkan oleh manajemen menjadi faktor penyebab kegagalan tim berjuluk Ayam Kinantan itu bertahan di kasta tertinggi.
Selain itu, penunggakan gaji pemain yang terjadi pada empat bulan terakhir wajar menurunkan semangat pemain. Belum lagi, pemain-pemain yang direkrut merupakan punggawa-punggawa yang hampir tidak mendapatkan klub. Kehadiran PSMS IPL yang instan lantaran PSMS yang sebelumnya dipersiapkan membelot ke ISL, akhirnya menyelamatkan pemain, terutama lokal dari ketiadaan klub.
''Sepak bola adalah olahraga, dan jika berada pada olahraga profesional, seperti yang sering saya katakan, orang-orang di dalamnya harus profesional. Dan terus terang, saat itu (di PSMS), bukan perusahaan yang bersahabat dan sebuah klub profesional. Apa yang terjadi musim lalu, bagaimanapun berpengaruh pada profesionalitas saya, pemain, suporter dan kota Medan tentunya,”ungkapnya.
Dari segi pengalaman, Fabio Lopez sebenarnya cukup punya nama. Sebagai salah satu pelatih muda, sejak berusia 22 tahun, dia sudah memulai karir pelatih. Sempat menjadi pemandu bakat di klub liga Italia Serie A, Fiorentina FC dan Atalanta FC, selain di Lithuania, Fabio pernah menjadi direktur teknis di klub super league Malaysia, Sabah FA, tahun 2011 lalu.
Dia juga meminta maaf atas kegagalannya mempertahankan PSMS di kasta tertinggi. Namun, tidak hanya pelatih yang bertanggung jawab, menurutnya, kegagalan itu bukan melulu kesalahannya. ''Saya memohon maaf kepada suporter dan siapa pun yang percaya pada tim kami. Tapi memang tidak hanya saya saja yang seharusnya minta maaf kepada suporter dan kota Medan itu sendiri,” ungkap pria yang kembali ke Lithuania sebagai pelatih taktik dan strategi pelatih yang belajar lisensi B di Federasi Sepak Bola Lithuania, Lietuvos Futbolo Federacija (LFF)
PSMS Medan Sempat mengalami perubahan positif pasca ditangani Fabio Lopez. Namun, gagal memanfaatkan bursa transfer pemain di jeda putaran pertama IPL, Fabio hanya berhasil menggaet dua nama, Nico Susanto dan Ronny Firmansyah. Perubahan tim pun tidak signifikan lantaran pemain yang ada tidak mendukung.
Pelatih Persebaya Surabaya Divaldo Alves pun sempat memuji performa PSMS di tangan Fabio Lopez. Saat menghadapi Persibo di putaran kedua, Divaldo meyakini, Fabio bakal mampu memberikan perubahan di tubuh PSMS. Pujian juga datang dari eks pelatih fisik Persibo, Nimrot Manalu yang menilai strategi taktik Fabio Lopez di pertandingan cukup bagus, sayang tidak ditopang pemain yang memadai.
Sebagai pelatih, dia mengaku tidak akan membuat malu pemain-pemainnya dan klub yang diarsitekinya. Namun, jika ada pihak yang merekrutnya sebagai pelatih di tim di Indonesia, dia berharap bekerja dengan manajemen profesional. ''Jadi saya pikir, tidak akan ada orang yang meminta lebih padaku dan pemainku dengan situasi yang seperti ini (krisis finansial). Tentunya, kami selalu mencoba untuk menghormati logo dan kota kami di mana saja dan di situasi kapan pun.
Fabio mengakui, klub dengan latar belakang memiliki prestasi hebat di kancah sepak bola Indonesia tidak layak berada pada konsisi ini. ''Saya harap, PSMS bisa kembali pada sejarah sesungguhnya klub tersebut seperti di masa lalu,” pungkasnya.
Sebagai pelatih asing berlisensi A UEFA berkebangsaan Italia, keinginan tersebut wajar, jika PSMS berkompetisi di kasta tertinggi. Namun, jika berkompetisi di level kedua sepak bola profesional di Indonesia, kondisi tersebut menjadi kurang wajar. Kendati demikian, pelatih 39 tahun tersebut tampaknya punya misi tersendiri.
Melalui e-mail, mantan pelatih liga tertinggi Lithuania FK Banga FC Siauliai itu mengungkapkan keinginannya melatih PSMS Medan di musim ini atau klub-klub lain di Indonesia. ''Saya sangat ingin kembali ke PSMS ku atau ke klub yang lain di Indonesia. Klub dengan mentalitas organisasi berbeda, tidak seperti musim lalu,” ujarnya.
Kalimat ''tidak seperti musim lalu” wajar dia tekankan. Sikap profesionalisme yang minim ditunjukkan oleh manajemen menjadi faktor penyebab kegagalan tim berjuluk Ayam Kinantan itu bertahan di kasta tertinggi.
Selain itu, penunggakan gaji pemain yang terjadi pada empat bulan terakhir wajar menurunkan semangat pemain. Belum lagi, pemain-pemain yang direkrut merupakan punggawa-punggawa yang hampir tidak mendapatkan klub. Kehadiran PSMS IPL yang instan lantaran PSMS yang sebelumnya dipersiapkan membelot ke ISL, akhirnya menyelamatkan pemain, terutama lokal dari ketiadaan klub.
''Sepak bola adalah olahraga, dan jika berada pada olahraga profesional, seperti yang sering saya katakan, orang-orang di dalamnya harus profesional. Dan terus terang, saat itu (di PSMS), bukan perusahaan yang bersahabat dan sebuah klub profesional. Apa yang terjadi musim lalu, bagaimanapun berpengaruh pada profesionalitas saya, pemain, suporter dan kota Medan tentunya,”ungkapnya.
Dari segi pengalaman, Fabio Lopez sebenarnya cukup punya nama. Sebagai salah satu pelatih muda, sejak berusia 22 tahun, dia sudah memulai karir pelatih. Sempat menjadi pemandu bakat di klub liga Italia Serie A, Fiorentina FC dan Atalanta FC, selain di Lithuania, Fabio pernah menjadi direktur teknis di klub super league Malaysia, Sabah FA, tahun 2011 lalu.
Dia juga meminta maaf atas kegagalannya mempertahankan PSMS di kasta tertinggi. Namun, tidak hanya pelatih yang bertanggung jawab, menurutnya, kegagalan itu bukan melulu kesalahannya. ''Saya memohon maaf kepada suporter dan siapa pun yang percaya pada tim kami. Tapi memang tidak hanya saya saja yang seharusnya minta maaf kepada suporter dan kota Medan itu sendiri,” ungkap pria yang kembali ke Lithuania sebagai pelatih taktik dan strategi pelatih yang belajar lisensi B di Federasi Sepak Bola Lithuania, Lietuvos Futbolo Federacija (LFF)
PSMS Medan Sempat mengalami perubahan positif pasca ditangani Fabio Lopez. Namun, gagal memanfaatkan bursa transfer pemain di jeda putaran pertama IPL, Fabio hanya berhasil menggaet dua nama, Nico Susanto dan Ronny Firmansyah. Perubahan tim pun tidak signifikan lantaran pemain yang ada tidak mendukung.
Pelatih Persebaya Surabaya Divaldo Alves pun sempat memuji performa PSMS di tangan Fabio Lopez. Saat menghadapi Persibo di putaran kedua, Divaldo meyakini, Fabio bakal mampu memberikan perubahan di tubuh PSMS. Pujian juga datang dari eks pelatih fisik Persibo, Nimrot Manalu yang menilai strategi taktik Fabio Lopez di pertandingan cukup bagus, sayang tidak ditopang pemain yang memadai.
Sebagai pelatih, dia mengaku tidak akan membuat malu pemain-pemainnya dan klub yang diarsitekinya. Namun, jika ada pihak yang merekrutnya sebagai pelatih di tim di Indonesia, dia berharap bekerja dengan manajemen profesional. ''Jadi saya pikir, tidak akan ada orang yang meminta lebih padaku dan pemainku dengan situasi yang seperti ini (krisis finansial). Tentunya, kami selalu mencoba untuk menghormati logo dan kota kami di mana saja dan di situasi kapan pun.
Fabio mengakui, klub dengan latar belakang memiliki prestasi hebat di kancah sepak bola Indonesia tidak layak berada pada konsisi ini. ''Saya harap, PSMS bisa kembali pada sejarah sesungguhnya klub tersebut seperti di masa lalu,” pungkasnya.
(aww)