Jumlah gol sepak pojok dan tendangan
Senin, 08 Oktober 2012 - 08:51 WIB
Jumlah gol sepak pojok dan tendangan
A
A
A
Sindonews.com - Dalam sepak bola modern,skenario bola mati kerap menjadi cara jitu sebuah tim untuk mencetak gol kemenangan.Tendangan bebas langsung, tendangan bebas tidak langsung, ataupun sepak pojok terkadang bisa menentukan hasil akhir pertandingan ketika serangan konvensional gagal menembus rapatnya pertahanan lawan.
Namun,menurut studi yang dilakukan UEFA,jumlah gol melalui skenario bola mati (terutama sepak pojok) di Liga Champions terus menurun dari tahun ke tahun.Pada musim 2001/2002, angkanya mencapai 35%,sedangkan musim lalu tinggal 22%.Dari 46 kejadian sepak pojok musim lalu,hanya muncul satu gol.Total, dari 1.250 sepak pojok,hanya ada 27 gol di Liga Champions 2011/2012.
Bahkan,di Piala Eropa 2012,hanya ada satu gol dari setiap 57 sepak pojok. ”Apa yang saya temukan dari penelitian itu akan membuat kami tertawa.Ternyata para pemain justru bergembira ketika berebut bola hasil tembakan sudut.Karena itu,perlu dikaji lebih lanjut mengapa mereka sangat senang dengan kondisi seperti itu.Mungkin juga itulah yang membuat jumlah gol makin menurun,”ujar Andy Roxburgh,mantan pelatih timnas Skotlandia yang kini menjadi peneliti di UEFA,dilansir The Independent.
Lebih lanjut,Roxburgh menyatakan, kondisi seperti itu tidak hanya hadir ketika sepak pojok dilakukan.Pada skenario tendangan bebas (langsung dan tidak langsung) di Liga Champions, musim lalu, Roxburgh menemukan fakta bahwa hanya ada enam pemain yang berhasil mencetak gol.Selain faktor kemampuan teknik pemain; rapatnya pagar,ketangguhan kiper, serta keberuntungan kerap menjadi penghalang sebuah gol lahir melalui tendangan bebas.
”Mungkin saja ini akibat pengaruh dari sepak bola yang dianut saat ini.Terkadang setiap pelatih telah menyiapkan pemain khusus yang diminta melakukan tendangan bebas pada satu pertandingan tertentu. Sebab,ketika gol itu lahir di laga spesial,itu akan dikenal dan dibicarakan banyak orang dalam waktu lama,”ujar Roxburgh.
Penelitian UEFA ternyata juga mendapat persetujuan mantan nakhoda The Three Lions,Graham Taylor.Semasa aktif menjadi pelatih,Taylor pernah memimpin Watford dan Aston Villa sebagai tim yang berada di daftar paling atas pengoleksi gol dari skenario bola mati. Pada dekade 1980-an,tim arahan Taylor pernah menciptakan 58,35% gol dari tendangan bola-bola mati.Sebagai perbandingan,musim lalu,Arsenal hanya menciptakan 13,5%.
Padahal,The Gunners tim tertinggi di Liga Primer musim lalu. ”Saat ini terlalu banyak pemain belakang yang berusaha menghentikan terciptanya gol.Terkadang mereka tidak sungkansungkan menarik baju ataupun menjatuhkan pemain yang berpeluang mencetak gol. Menurut saya,wasit harus bertindak lebih tegas terhadap kejadian-kejadian di area kota penalti,”ungkap Taylor.
Dalam sejarah final Liga Champions, sejumlah gol penting pernah tercipta dari skenario bola mati (khususnya sepak pojok). Pada final musim 1998/1999,dua sepakan David Beckham mampu dimanfaatkan Teddy Sheringham dan Ole Gunnar Solskjaer pada injury time untuk membuat Manchester United (MU) mengalahkan Bayern Munchen.Final musim lalu,gol Didier Drogba berasal dari umpan matang Juan Manuel Mata.
Namun,menurut studi yang dilakukan UEFA,jumlah gol melalui skenario bola mati (terutama sepak pojok) di Liga Champions terus menurun dari tahun ke tahun.Pada musim 2001/2002, angkanya mencapai 35%,sedangkan musim lalu tinggal 22%.Dari 46 kejadian sepak pojok musim lalu,hanya muncul satu gol.Total, dari 1.250 sepak pojok,hanya ada 27 gol di Liga Champions 2011/2012.
Bahkan,di Piala Eropa 2012,hanya ada satu gol dari setiap 57 sepak pojok. ”Apa yang saya temukan dari penelitian itu akan membuat kami tertawa.Ternyata para pemain justru bergembira ketika berebut bola hasil tembakan sudut.Karena itu,perlu dikaji lebih lanjut mengapa mereka sangat senang dengan kondisi seperti itu.Mungkin juga itulah yang membuat jumlah gol makin menurun,”ujar Andy Roxburgh,mantan pelatih timnas Skotlandia yang kini menjadi peneliti di UEFA,dilansir The Independent.
Lebih lanjut,Roxburgh menyatakan, kondisi seperti itu tidak hanya hadir ketika sepak pojok dilakukan.Pada skenario tendangan bebas (langsung dan tidak langsung) di Liga Champions, musim lalu, Roxburgh menemukan fakta bahwa hanya ada enam pemain yang berhasil mencetak gol.Selain faktor kemampuan teknik pemain; rapatnya pagar,ketangguhan kiper, serta keberuntungan kerap menjadi penghalang sebuah gol lahir melalui tendangan bebas.
”Mungkin saja ini akibat pengaruh dari sepak bola yang dianut saat ini.Terkadang setiap pelatih telah menyiapkan pemain khusus yang diminta melakukan tendangan bebas pada satu pertandingan tertentu. Sebab,ketika gol itu lahir di laga spesial,itu akan dikenal dan dibicarakan banyak orang dalam waktu lama,”ujar Roxburgh.
Penelitian UEFA ternyata juga mendapat persetujuan mantan nakhoda The Three Lions,Graham Taylor.Semasa aktif menjadi pelatih,Taylor pernah memimpin Watford dan Aston Villa sebagai tim yang berada di daftar paling atas pengoleksi gol dari skenario bola mati. Pada dekade 1980-an,tim arahan Taylor pernah menciptakan 58,35% gol dari tendangan bola-bola mati.Sebagai perbandingan,musim lalu,Arsenal hanya menciptakan 13,5%.
Padahal,The Gunners tim tertinggi di Liga Primer musim lalu. ”Saat ini terlalu banyak pemain belakang yang berusaha menghentikan terciptanya gol.Terkadang mereka tidak sungkansungkan menarik baju ataupun menjatuhkan pemain yang berpeluang mencetak gol. Menurut saya,wasit harus bertindak lebih tegas terhadap kejadian-kejadian di area kota penalti,”ungkap Taylor.
Dalam sejarah final Liga Champions, sejumlah gol penting pernah tercipta dari skenario bola mati (khususnya sepak pojok). Pada final musim 1998/1999,dua sepakan David Beckham mampu dimanfaatkan Teddy Sheringham dan Ole Gunnar Solskjaer pada injury time untuk membuat Manchester United (MU) mengalahkan Bayern Munchen.Final musim lalu,gol Didier Drogba berasal dari umpan matang Juan Manuel Mata.
(wbs)