Mantan bintang bisa batal gabung PSMS
Rabu, 10 Oktober 2012 - 20:13 WIB
Mantan bintang bisa batal gabung PSMS
A
A
A
Sindonews.com - Sejumlah pemain bintang yang diprediksi tidak akan hadir pada seleksi skuad PSMS Medan di Stadion Kebun Bunga Medan sejak Senin (8/10), hadir pada seleksi hari ketiga. Mereka adalah, Donny F Siregar. Saktiawan Sinaga, Alamsyah Nasution, Ade Chandra Kirana, Irwin Ramadhana, Irwanto, Andi Setiawan, Jecky Pasarella, Ary Yuganda, Affan Lubis, Afandi Lubis, M Iman, Dedi Kibo, Edgar, Romy Agustian, Tambun Naibao, Akong, Wijay, dan M Yusuf.
Hingga hari ketiga, sejumlah 60 pemain mantan skuad liga telah ikut seleksi. Hanya Jecky Pasarela yang datang namun tidak ikut seleksi karena sakit. Namun, permasalahannya, kehadiran pemain mantan skuad liga tersebut bisa saja gagal bergabung ke PSMS, lantaran nominal gaji yang tidak sesuai saat negosiasi kontrak antara manajemen dan pemain tersebut.
Menilik pada penentuan skuad PSMS saat musim Divisi Utama 20099/2010 lalu, ketika Suimin Diharja dipercaya menukangi PSMS kala itu. Keinginan pria berjuluk Pelatih Kampung itu untuk membesut pemain-pemain liga, terpaksa batal. Negosiasi antara manajemen dan pemain yang tidak masuk dalam kata sepakat membuat penggawa harapan Suimin harus sirna. Akhirnya, Suimin terpaksa membesut pemain yang semula diharapkan menjadi pelapis sebagai skuad inti.
Lantas, seperti apa kemungkinan pemain-pemain eks liga bisa masuk ke PSMS? Apalagi, kondisi seperti musim 2009/2010 bisa saja terjadi. Ditanyakan hal itu, Suimin enggan mengomentari. "Saya enggak layak mengomentari hal itu. Itu kan nanti menjadi negosiasi antara pemain dan manajemen," ujarnya singkat.
Saat ditanya seperti apa peran pelatih agar harapannya untuk memboyong pemain-pemain yang punya nama bisa terealisasi, mungkin dengan menetapkan standar kontrak sejumlah pemain, Suimin kembali enggan berkomentar. "Itu bukan wewenang saya, itu semua manajemen yang atur," ucapnya lagi.
Sejak musim 2009/2010 hingga 2011/2012 kemarin, tidak dimungkiri, tidak ada satupun pemain lokal Sumut yang membela klub-klub luar yang memperkuat PSMS. Wacana pengurus dan manajemen untuk mendatangkan pemain tersebut, hanya sebatas celoteh dan angan-angan belaka.
Ketua Umum PSMS Medan Indra Sakti Harahap meyakini fakta itu tidak bakal terjadi di kepengurusannya. Meskipun dia tak memberi jawaban gamblang. "Saat ini yang dibutuhkan PSMS adalah pemain profesional yang memberi semangat, daya juang dan kecintaan lewat hatinya. Jangan mengecilkan konsep profesionalisme dengan uang saja," katanya ditemui di Stadion Kebun Bunga kemarin.
Dia menuturkan situasi PSMS Medan berada dalam masa transisi, bahkan terjebak dalam keterpurukan. Butuh waktu tidak sedikit, untuk membenahi kondisi finansial. Karena itu, pemain profesional yang nota bene pernah membela tim berjuluk Ayam Kinantan, diajak untuk memperbaiki klub bersama-sama lewat kerelaan yang tulus.
"Save PSMS to be the champion. Jadi bukan hanya pengurus, tapi dibutuhkan sinergi semua pihak, termasuk pemain profesional. Uang itu penting dalam dunia sepakbola profesional, benar. Namun, dalam masa membangun ini marilah lebih dulu menonjolkan rasa cinta untuk PSMS," beber pentolan Ikatan Cendekiawan Muslim Indonesia Kota Medan ini.
Adakah standarisasi gaji pemain profesional yang telah ditetapkan? "Khusus untuk itu, tim pelatih dan tim seleksi yang akan membuatnya. Karena mereka yang lebih paham di situ. Pengurus tidak membuatnya," ungkapnya. Dia juga menyebutkan kecil kemungkinan negosiasi berujung jalan buntu.
Yang pasti, seperti apa upaya manajemen mengakomodir keinginan pemain untuk kembali ke PSMS, hendaknya menjadi perhatian penting pengurus dan manajemen, agar harapan punggawa-punggawa tersebut untuk membela PSMS dan membangkitkan kembali kejayaan The Killer-julukan lain PSMS.
Hingga hari ketiga, sejumlah 60 pemain mantan skuad liga telah ikut seleksi. Hanya Jecky Pasarela yang datang namun tidak ikut seleksi karena sakit. Namun, permasalahannya, kehadiran pemain mantan skuad liga tersebut bisa saja gagal bergabung ke PSMS, lantaran nominal gaji yang tidak sesuai saat negosiasi kontrak antara manajemen dan pemain tersebut.
Menilik pada penentuan skuad PSMS saat musim Divisi Utama 20099/2010 lalu, ketika Suimin Diharja dipercaya menukangi PSMS kala itu. Keinginan pria berjuluk Pelatih Kampung itu untuk membesut pemain-pemain liga, terpaksa batal. Negosiasi antara manajemen dan pemain yang tidak masuk dalam kata sepakat membuat penggawa harapan Suimin harus sirna. Akhirnya, Suimin terpaksa membesut pemain yang semula diharapkan menjadi pelapis sebagai skuad inti.
Lantas, seperti apa kemungkinan pemain-pemain eks liga bisa masuk ke PSMS? Apalagi, kondisi seperti musim 2009/2010 bisa saja terjadi. Ditanyakan hal itu, Suimin enggan mengomentari. "Saya enggak layak mengomentari hal itu. Itu kan nanti menjadi negosiasi antara pemain dan manajemen," ujarnya singkat.
Saat ditanya seperti apa peran pelatih agar harapannya untuk memboyong pemain-pemain yang punya nama bisa terealisasi, mungkin dengan menetapkan standar kontrak sejumlah pemain, Suimin kembali enggan berkomentar. "Itu bukan wewenang saya, itu semua manajemen yang atur," ucapnya lagi.
Sejak musim 2009/2010 hingga 2011/2012 kemarin, tidak dimungkiri, tidak ada satupun pemain lokal Sumut yang membela klub-klub luar yang memperkuat PSMS. Wacana pengurus dan manajemen untuk mendatangkan pemain tersebut, hanya sebatas celoteh dan angan-angan belaka.
Ketua Umum PSMS Medan Indra Sakti Harahap meyakini fakta itu tidak bakal terjadi di kepengurusannya. Meskipun dia tak memberi jawaban gamblang. "Saat ini yang dibutuhkan PSMS adalah pemain profesional yang memberi semangat, daya juang dan kecintaan lewat hatinya. Jangan mengecilkan konsep profesionalisme dengan uang saja," katanya ditemui di Stadion Kebun Bunga kemarin.
Dia menuturkan situasi PSMS Medan berada dalam masa transisi, bahkan terjebak dalam keterpurukan. Butuh waktu tidak sedikit, untuk membenahi kondisi finansial. Karena itu, pemain profesional yang nota bene pernah membela tim berjuluk Ayam Kinantan, diajak untuk memperbaiki klub bersama-sama lewat kerelaan yang tulus.
"Save PSMS to be the champion. Jadi bukan hanya pengurus, tapi dibutuhkan sinergi semua pihak, termasuk pemain profesional. Uang itu penting dalam dunia sepakbola profesional, benar. Namun, dalam masa membangun ini marilah lebih dulu menonjolkan rasa cinta untuk PSMS," beber pentolan Ikatan Cendekiawan Muslim Indonesia Kota Medan ini.
Adakah standarisasi gaji pemain profesional yang telah ditetapkan? "Khusus untuk itu, tim pelatih dan tim seleksi yang akan membuatnya. Karena mereka yang lebih paham di situ. Pengurus tidak membuatnya," ungkapnya. Dia juga menyebutkan kecil kemungkinan negosiasi berujung jalan buntu.
Yang pasti, seperti apa upaya manajemen mengakomodir keinginan pemain untuk kembali ke PSMS, hendaknya menjadi perhatian penting pengurus dan manajemen, agar harapan punggawa-punggawa tersebut untuk membela PSMS dan membangkitkan kembali kejayaan The Killer-julukan lain PSMS.
(aww)