Pelatih PSMS menguji taktik bertahan
Senin, 15 Oktober 2012 - 18:08 WIB
Pelatih PSMS menguji taktik bertahan
A
A
A
Sindonews.com - Seleksi tahap kedua digelar di Stadion Kebun Bunga Medan, Senin pagi (15/10) hingga Jumat (19/7). Sebanyak 59 pemain bersaing dalam proses penentuan skuad klub berjuluk Ayam Kinantan yang akan menentukan 25 orang sebagai skuad PSMS.
Untuk menentukan pemain yang lolos di tahap kedua atau pada fase krusial tersebut, pelatih PSMS, Suimin Diharja mulai menggeber materi latihan taktik dan strategi. Senin pagi, latihan menyasar pada taktik bertahan, mengusung formasi 4-2-3-1 yang menjadi kemungkinan formasi baku PSMS. ''Hari ini, seleksi memfokuskan taktik bertahan dengan formasi 4-2-3-1. Bagaimana bertahannya,” ujarnya saat ditemui usai memimpin seleksi.
Semua pemain kecuali penjaga gawang, diberikan porsi materi yang merata, teknik merampas bola (tackling), pertahanan individu dan pertahanan grup. ''Bagaimana cara tackling, pertahanan individu satu lawan satu, taktik grup dua lawan dua, empat lawan empat, organisasi bertahan secara tim kolektif, baru ke progres. Simulasi pertandingan menjadi penutup rangkaian latihan,” kata Suimin.
Sedangkan untuk latihan hari ini, Suimin dkk memfokuskan pada metode penyerangan. Masing-masing pemain kembali akan mendapatkan porsi merata. Tim pelatih tidak lagi memisahkan pemain amatir dan non amatir, semua pemain mendapat porsi yang sama. Suimin juga menegaskan, di fase ini, peluang antara pemain amatir dan non amatir sama besar.
''Besok pagi fokus menyerang, sedangkan hari Rabu, akan ada ujian. Tim pelatih memantau sejauh mana pemain menerima materi latihan yang diberikan. Tidak ada lagi pemain amatir dan non amatir dipisahkan. Semuanya digabungkan dan peluang mereka sama besar, yakni tergantung kepada tingkatan intelejensia merke” ungkap pria tambun itu.
Suimin melanjutkan, Kamis (18/10) mendatang, materi seleksi bakal dilanjutkan dengan pola transisi. ''Pola transisi bertahan ke menyerang, dan menyerang ke bertahan. Jumat (19/10) ujian lagi, sedangkan Sabtu (20/10), kami akan kembali mempresentrasikan ranking dari masing-masing pemain sebelum ditentukan lolos atau tidak,” bebernya.
Seperti pada seleksi tahap pertama, di fase kedua, tim pelatih hanya memiliki lima hari untuk menentukan pemain yang lolos. Tidakkah terlalu cepat? Ditanyakan itu, Suimin menyatakan, justru durasi singkat itu membuat pemain masih mengingat materi latihan dan mengaplikasikannya dengan baik. ''Kalau lebih lama, malah pemain jadi lupa materi yang diberikan,”papar eks pelatih Sriwijaya FC Persijap Jepara, Persitara Jakarta Utara dan PSDS Deliserdang itu.
Dua opsi dari seleksi akan menjadi patokan pemain untuk lolos pada seleksi tahap ketiga, yakni mampu atau tidak menerima materi seleksi. ''Seperti kami bilang di awal, di tahap kedua ini, SDM pemain yang akan dipantau. Jadi pilihannya, mampu atau tidak. Peeain yang memahami seleksi, kemampuannya akan keluar, sementara yang tidak, berarti IQ-nya jongkok,” ungkapnya.
Tim pelatih bakal membuat tingkatan (ranking) masing-masing pemain yang dibagi dalam posisi yang berbeda. ''Ranking pemain akan menentukan kelolosannya. Untuk mempertanggungjawabkan pilihan tersebut, akan ada persentase dan debat lagi seperti kemarin untuk memilih 25 pemain yang akan menjadi kerangka skuad PSMS,” pungkasnya.
Sementara, Sekretaris Umum PSMS, Martius Latuperissa mengakui, pemain hendaknya juga mengenyam pendidikan yang layak untuk meningkatkan intelejensianya. ''Bisa dibilang, pendidikan pemain bola di Indonesia rata-rata tamat SMA. Untuk itu, pemain bola juga perlu mengenyam pendidikan tinggi sebagai penopang hidupnya setelah pensiun dari dunia sepak bola,” ungkapnya.
Untuk menentukan pemain yang lolos di tahap kedua atau pada fase krusial tersebut, pelatih PSMS, Suimin Diharja mulai menggeber materi latihan taktik dan strategi. Senin pagi, latihan menyasar pada taktik bertahan, mengusung formasi 4-2-3-1 yang menjadi kemungkinan formasi baku PSMS. ''Hari ini, seleksi memfokuskan taktik bertahan dengan formasi 4-2-3-1. Bagaimana bertahannya,” ujarnya saat ditemui usai memimpin seleksi.
Semua pemain kecuali penjaga gawang, diberikan porsi materi yang merata, teknik merampas bola (tackling), pertahanan individu dan pertahanan grup. ''Bagaimana cara tackling, pertahanan individu satu lawan satu, taktik grup dua lawan dua, empat lawan empat, organisasi bertahan secara tim kolektif, baru ke progres. Simulasi pertandingan menjadi penutup rangkaian latihan,” kata Suimin.
Sedangkan untuk latihan hari ini, Suimin dkk memfokuskan pada metode penyerangan. Masing-masing pemain kembali akan mendapatkan porsi merata. Tim pelatih tidak lagi memisahkan pemain amatir dan non amatir, semua pemain mendapat porsi yang sama. Suimin juga menegaskan, di fase ini, peluang antara pemain amatir dan non amatir sama besar.
''Besok pagi fokus menyerang, sedangkan hari Rabu, akan ada ujian. Tim pelatih memantau sejauh mana pemain menerima materi latihan yang diberikan. Tidak ada lagi pemain amatir dan non amatir dipisahkan. Semuanya digabungkan dan peluang mereka sama besar, yakni tergantung kepada tingkatan intelejensia merke” ungkap pria tambun itu.
Suimin melanjutkan, Kamis (18/10) mendatang, materi seleksi bakal dilanjutkan dengan pola transisi. ''Pola transisi bertahan ke menyerang, dan menyerang ke bertahan. Jumat (19/10) ujian lagi, sedangkan Sabtu (20/10), kami akan kembali mempresentrasikan ranking dari masing-masing pemain sebelum ditentukan lolos atau tidak,” bebernya.
Seperti pada seleksi tahap pertama, di fase kedua, tim pelatih hanya memiliki lima hari untuk menentukan pemain yang lolos. Tidakkah terlalu cepat? Ditanyakan itu, Suimin menyatakan, justru durasi singkat itu membuat pemain masih mengingat materi latihan dan mengaplikasikannya dengan baik. ''Kalau lebih lama, malah pemain jadi lupa materi yang diberikan,”papar eks pelatih Sriwijaya FC Persijap Jepara, Persitara Jakarta Utara dan PSDS Deliserdang itu.
Dua opsi dari seleksi akan menjadi patokan pemain untuk lolos pada seleksi tahap ketiga, yakni mampu atau tidak menerima materi seleksi. ''Seperti kami bilang di awal, di tahap kedua ini, SDM pemain yang akan dipantau. Jadi pilihannya, mampu atau tidak. Peeain yang memahami seleksi, kemampuannya akan keluar, sementara yang tidak, berarti IQ-nya jongkok,” ungkapnya.
Tim pelatih bakal membuat tingkatan (ranking) masing-masing pemain yang dibagi dalam posisi yang berbeda. ''Ranking pemain akan menentukan kelolosannya. Untuk mempertanggungjawabkan pilihan tersebut, akan ada persentase dan debat lagi seperti kemarin untuk memilih 25 pemain yang akan menjadi kerangka skuad PSMS,” pungkasnya.
Sementara, Sekretaris Umum PSMS, Martius Latuperissa mengakui, pemain hendaknya juga mengenyam pendidikan yang layak untuk meningkatkan intelejensianya. ''Bisa dibilang, pendidikan pemain bola di Indonesia rata-rata tamat SMA. Untuk itu, pemain bola juga perlu mengenyam pendidikan tinggi sebagai penopang hidupnya setelah pensiun dari dunia sepak bola,” ungkapnya.
(aww)