PSM cari format ideal pembinaan usia dini
Selasa, 23 Oktober 2012 - 22:52 WIB
PSM cari format ideal pembinaan usia dini
A
A
A
Sindonews.com - PSM Makassar mencari fomula ideal untuk pembinaan usia dini. Aspek ini wajib dipenuhi sebagai salah satu syarat menjadi klub profesional. Berdasarkan aturan Asian Football Confederation (AFC), setiap klub yang berlaga di liga profesional atau kasta tertinggi, wajib memiliki program pembinaan usia muda dan berkelanjutan.
CEO PSM Makassar Rully Habibie mengakui, aspek ini yang masih sulit dipenuhi lantaran belum ada format idealnya. ''Kami harus tahu dulu format pembinaan yang ideal itu seperti apa agar bisa diterapkan di sini,” jelasnya.
Misalnya menurut dia, model kurikulum yang akan digunakan formatnya harus jelas. Termasuk teknis pelaksanaannya. ''Kalau sudah gambaran, manajemen bisa melangkah ke tahap berikutnya,” katanya.
Seperti menentukan besaran dana yang akan dihabiskan untuk program tersebut. Karena menurut Rully, proyek ini harus terukur dan sistematis. ''Tidak bisa asal buat, karena harus masuk dalam perencanaan keuangan klub,” jelas dia.
Rully menjelaskan, rencananya akan disiapkan pelatih khusus untuk menangani masing-masing program tersebut. ''Tidak mungkin satu pelatih. Nantinya masing-masing kelompok usia punya penanggungjawab sendiri-sendiri,” sebutnya.
Menurut dia, jika persyaratan tersebut sudah dipenuhi, maka klub berjuluk Juku Eja ini sudah memenuhi syarat sebagai klub profesional. “Itu yang masih menjadi pekerjaan rumah terbesar kita,” katanya.
Karena syarat lainnya yakni legal sudah saat ini 100%, finansial 50%, infrastruktur 100%, organisasi 60%, supporting 0%. ''Supporting masuk didalamnya pembinaan usia dini,” kata Rully.
Mantan Manajer Teknik PSM Makassar era Liga Super Indonesia (LSI) Yopie Lumeindong mengakui, format pembinaan usia dini sudah ada sejak dulu. “Saat saya masih manajer teknik, formatnya sudah saya buat,” jelasnya.
Mulai dari usia usia 21 tahun, 18 tahun, dan 15 tahun sebagaimana yang dipersyaratkan untuk klub profesional. ''Semua sudah lengkap mulai dari kurikulum hingga program pembinaannya,” ucapnya.
Hanya saja, saat PSM bergabung di Indonesian Premier League (IPL), program tersebut tidak berjalan. ''Kalau tidak ada dualisme kompetisi, kami yakin PSM sudah punya pembinaan usia dini,” sebutnya.
Namun untuk memenuhi syarat tersebut, manajemen PSM Makassar bisa mengakuisisi Sekolah Sepak Bola (SSB) yang ada di Makassar. ''Kalau hanya untuk kelengkapan di atas kertas, langkah itu bisa dilakukan,” jelasnya.
Menurut dia, setiap pelatih yang berada dikelompok usia tersebut juga, harus memiliki lisensi seperti yang diharuskan AFC. ''Untuk senior harus lisensi A dan masih ada syarat-syarat lainnya,” pungkasnya.
CEO PSM Makassar Rully Habibie mengakui, aspek ini yang masih sulit dipenuhi lantaran belum ada format idealnya. ''Kami harus tahu dulu format pembinaan yang ideal itu seperti apa agar bisa diterapkan di sini,” jelasnya.
Misalnya menurut dia, model kurikulum yang akan digunakan formatnya harus jelas. Termasuk teknis pelaksanaannya. ''Kalau sudah gambaran, manajemen bisa melangkah ke tahap berikutnya,” katanya.
Seperti menentukan besaran dana yang akan dihabiskan untuk program tersebut. Karena menurut Rully, proyek ini harus terukur dan sistematis. ''Tidak bisa asal buat, karena harus masuk dalam perencanaan keuangan klub,” jelas dia.
Rully menjelaskan, rencananya akan disiapkan pelatih khusus untuk menangani masing-masing program tersebut. ''Tidak mungkin satu pelatih. Nantinya masing-masing kelompok usia punya penanggungjawab sendiri-sendiri,” sebutnya.
Menurut dia, jika persyaratan tersebut sudah dipenuhi, maka klub berjuluk Juku Eja ini sudah memenuhi syarat sebagai klub profesional. “Itu yang masih menjadi pekerjaan rumah terbesar kita,” katanya.
Karena syarat lainnya yakni legal sudah saat ini 100%, finansial 50%, infrastruktur 100%, organisasi 60%, supporting 0%. ''Supporting masuk didalamnya pembinaan usia dini,” kata Rully.
Mantan Manajer Teknik PSM Makassar era Liga Super Indonesia (LSI) Yopie Lumeindong mengakui, format pembinaan usia dini sudah ada sejak dulu. “Saat saya masih manajer teknik, formatnya sudah saya buat,” jelasnya.
Mulai dari usia usia 21 tahun, 18 tahun, dan 15 tahun sebagaimana yang dipersyaratkan untuk klub profesional. ''Semua sudah lengkap mulai dari kurikulum hingga program pembinaannya,” ucapnya.
Hanya saja, saat PSM bergabung di Indonesian Premier League (IPL), program tersebut tidak berjalan. ''Kalau tidak ada dualisme kompetisi, kami yakin PSM sudah punya pembinaan usia dini,” sebutnya.
Namun untuk memenuhi syarat tersebut, manajemen PSM Makassar bisa mengakuisisi Sekolah Sepak Bola (SSB) yang ada di Makassar. ''Kalau hanya untuk kelengkapan di atas kertas, langkah itu bisa dilakukan,” jelasnya.
Menurut dia, setiap pelatih yang berada dikelompok usia tersebut juga, harus memiliki lisensi seperti yang diharuskan AFC. ''Untuk senior harus lisensi A dan masih ada syarat-syarat lainnya,” pungkasnya.
(aww)