Atlet Paralimpik Jabar belum tersejahterakan
Jum'at, 26 Oktober 2012 - 14:02 WIB
Atlet Paralimpik Jabar belum tersejahterakan
A
A
A
Sindonews.com - Jawa Barat belum sepenuhnya total dalam rekrutmen atlet Paralimpik. Para olah ragawan penyandang cacat ini sulit mendapatkan hidup layak jika mengandalkan profesi sebagai atlet. Hasilnya, raihan prestasi provinsi ini pun tidak sesuai harapan. Bahkan di Pekan Paralimpik Nasional (Peparnas) Riau, Jawa Barat menutup laga sebagai runner-up di bawah Jawa Tengah. Itu pun dengan raihan poin yang terpaut jauh.
Ketua Bidang Prestasi National Paralympic Committe (NPC) Jawa Barat Abdul Karim mengatakan, kesejahteraan para atlet paralimpik di Jawa Barat memang tidak terjamin. Sehingga minat warga provinsi ini untuk berkiprah di bidang tersebut sangat minim. Para penyandang cacat ini pun memilih pekerjaan lain yang memberi lebih banyak materi.
"Pekerjaan untuk kalangan seperti mereka juga kan tidak terlalu mudah di dapat. Jadi rata-rata tidak punya sumber penghidupan yang mapan. Disisi lain, kami mengajak mereka untuk menjadi atlet paralimpik, dengan kesejahteraan yang terbatas pula. Ya sudah menjadi hal wajar ketika mereka tidak tertarik. Kecuali kalau kami menawarkan kehidupan layak, ceritanya pasti berbeda," kata Abdul Karim, di Jalan Padjadjaran, Kota Bandung.
Menuntaskan masalah tersebut, Karim meminta Pemerintah Provinsi Jawa Barat memperbaiki sistem anggaran untuk atlet paralimpik. Bahkan lebih bagus lagi jika dana untuk kompetisi paralimpik seperti Papernas ditingkatkan. Belajar dari pengalaman, beberapa cabang olah raga gagal mengikuti kompetisi karena tidak adanya biaya persiapan.
"Jangan ada lagi gangguan dalam hal anggaran, seperti pada Peparnas Riau dimana dana terlambat cair. Itu sangat berpengaruh terhadap kelangsungan tim, bahkan saat masih persiapan saja, para atlet kan jadi terganggu konsentrasinya. Da juga pengalaman lain seperti cabang olah raga panahan yang gagal diikuti Jawa Barat karena masalah fasilitas. Sebenarnya saat itu, pelatih. Dan beberapa hal lain sudah kami siapkan. Tapi kami tidak memiliki uang untuk menyediakan fasilitas panahan yang layak. Dana nya tidak sampai," kata Karim.
Masalah ini, ujarnya, membuat kontingen Jawa Barat di Peparnas Riau kemarin pincang. Sejumlah cabang olah raga diputuskan untuk tidak diikuti. Padahal, beberapa cabang yang gagal diarungi atlet paralimpik Jawa Barat memiliki jumlah nomor yang banyak. Sehingga memungkinkan untuk jadi lumbung medali emas bagi provinsi ini.
"Banyak cabang olah raga yang kami tidak memiliki atletnya. Seperti atletik, Jawa Barat tidak punya atlet tunadaksa. Di cabang renang, kami tidak memiliki atlet puteri di kelas tunanetra. Untuk kelas puteranya memang Jawa Barat punya, tapi itu pun hanya satu orang. Ada juga beberapa cabang olah raga yang menggunakan atlet dari cabang olah raga lain, pokoknya kami akali itu," kata Karim.
Meski begitu, pihaknya mengaku memberi apresiasi setinggi-tingginya kepada para atlet paralimpik Jawa Barat yang berlaga di Peparnas Riau. meski dalam keadaan serba terbatas, terutama dalam hal kesejahteraan, para atlet tetap memiliki semangat juang tinggi untuk menang dan berbuat sesuatu untuk provinsinya.
"Mereka orang-orang yang luar biasa. Dalam keterbatasan fisik, keterbatasan persiapan, dan keterbatasan dana, para atlet paralimpik Jawa Barat bisa tetap berjuang. Hingga mendapat titel sebagai runner up," ujar Karim.
Ketua Bidang Prestasi National Paralympic Committe (NPC) Jawa Barat Abdul Karim mengatakan, kesejahteraan para atlet paralimpik di Jawa Barat memang tidak terjamin. Sehingga minat warga provinsi ini untuk berkiprah di bidang tersebut sangat minim. Para penyandang cacat ini pun memilih pekerjaan lain yang memberi lebih banyak materi.
"Pekerjaan untuk kalangan seperti mereka juga kan tidak terlalu mudah di dapat. Jadi rata-rata tidak punya sumber penghidupan yang mapan. Disisi lain, kami mengajak mereka untuk menjadi atlet paralimpik, dengan kesejahteraan yang terbatas pula. Ya sudah menjadi hal wajar ketika mereka tidak tertarik. Kecuali kalau kami menawarkan kehidupan layak, ceritanya pasti berbeda," kata Abdul Karim, di Jalan Padjadjaran, Kota Bandung.
Menuntaskan masalah tersebut, Karim meminta Pemerintah Provinsi Jawa Barat memperbaiki sistem anggaran untuk atlet paralimpik. Bahkan lebih bagus lagi jika dana untuk kompetisi paralimpik seperti Papernas ditingkatkan. Belajar dari pengalaman, beberapa cabang olah raga gagal mengikuti kompetisi karena tidak adanya biaya persiapan.
"Jangan ada lagi gangguan dalam hal anggaran, seperti pada Peparnas Riau dimana dana terlambat cair. Itu sangat berpengaruh terhadap kelangsungan tim, bahkan saat masih persiapan saja, para atlet kan jadi terganggu konsentrasinya. Da juga pengalaman lain seperti cabang olah raga panahan yang gagal diikuti Jawa Barat karena masalah fasilitas. Sebenarnya saat itu, pelatih. Dan beberapa hal lain sudah kami siapkan. Tapi kami tidak memiliki uang untuk menyediakan fasilitas panahan yang layak. Dana nya tidak sampai," kata Karim.
Masalah ini, ujarnya, membuat kontingen Jawa Barat di Peparnas Riau kemarin pincang. Sejumlah cabang olah raga diputuskan untuk tidak diikuti. Padahal, beberapa cabang yang gagal diarungi atlet paralimpik Jawa Barat memiliki jumlah nomor yang banyak. Sehingga memungkinkan untuk jadi lumbung medali emas bagi provinsi ini.
"Banyak cabang olah raga yang kami tidak memiliki atletnya. Seperti atletik, Jawa Barat tidak punya atlet tunadaksa. Di cabang renang, kami tidak memiliki atlet puteri di kelas tunanetra. Untuk kelas puteranya memang Jawa Barat punya, tapi itu pun hanya satu orang. Ada juga beberapa cabang olah raga yang menggunakan atlet dari cabang olah raga lain, pokoknya kami akali itu," kata Karim.
Meski begitu, pihaknya mengaku memberi apresiasi setinggi-tingginya kepada para atlet paralimpik Jawa Barat yang berlaga di Peparnas Riau. meski dalam keadaan serba terbatas, terutama dalam hal kesejahteraan, para atlet tetap memiliki semangat juang tinggi untuk menang dan berbuat sesuatu untuk provinsinya.
"Mereka orang-orang yang luar biasa. Dalam keterbatasan fisik, keterbatasan persiapan, dan keterbatasan dana, para atlet paralimpik Jawa Barat bisa tetap berjuang. Hingga mendapat titel sebagai runner up," ujar Karim.
(wbs)