Shahar jago ngedunk ala Shaquille O'Neal
Senin, 24 Maret 2014 - 16:49 WIB
Shahar jago ngedunk ala Shaquille O'Neal
A
A
A
Sindonews.com - Boleh dibilang kalau urusan lompat melompat, Shahar Ginanjar lah jagonya. Berdiri di bawah mistar gawang Persib Bandung, menangkap dan melompat sudah menjadi makan sehari-hari Shahar.
Keahliannya itu mengantarkannya menjadi aset penjaga gawang tangguh yang dimiliki Maung Bandung. Namun, siapa sangka ternyata Shahar dahulu lebih kenal bulu tangkis. Zaenal Arifin, sang ayah, adalah sosok yang mendukung anaknya terjun ke dunia 'tebas bulu'.
Sejak kelas dua SD, pria yang sudah memiliki bakat badan yang tinggi ini memulai mengayunkan raketnya. Sebagai anak yang dikenal bongsor ini, bulu tangkis sangat menunjang tumbuh kembang fisiknya.
Ade Sumirat, adik kandung pebulutangkis nasional IIi Sumirat, merupakan pelatih Shahar di tanah kelahirannya, Purwakarta.''Pak Ade yang mengajarkan bermain bulu tangkis. Dia bilang memang saya punya bakat di olahraga,''kata pria kelahiran 4 November 1990.
Karena bakatnya itu Shahar memiliki kemampuan di atas anak-anak yang lain. Empat tahun menggenggam raket membuatnya cukup berprestasi. Sang Ayah pun tambah yakin si anak dapat meraih kesuksesan di bidang yang dimimpikan keluarga.
Namun kepindahan sang pelatih membuat rintisan karirnya di bulu tangkis berhenti.''Dari kelas dua sampai kelas lima, habis itu berhenti. Karena tidak ada lagi pelatih yang bagus,''kata pria bertinggi badan 186 cm ini.
Di sela-sela tidak adanya kegiatan olahraga, Shahar mulai mengenal sepak bola. Berdekatannya jarak rumah dengan Stadion Purnawarman, Purwakarta, membuat Shahar kecil menghabiskan waktunya dengan bermain bola bersama teman-temannya.''Sebenarnya enggak boleh dipake lapangannya tapi namanya anak-anak, seneng weh," ucapnya.
Setiap sore, bermain bola tidak pernah absen. "Ya kalau di usir di stadion suka main di sebelahnya," jelas dia.
Menginjak bangku SMA, Shahar mulai tertarik mencoba masuk di ekstrakurikuler basket. Perawakannya yang tinggi, meskipun belum berotot seperti sekarang, mengantarkannya sebagai pemain. Berposisi sebagai center, Shahar rajin tampil di sejumlah kejuaraan. Perannya pun tidak tergantikan di bawah keranjang. Ngedunk ala legenda NBA, Shaquille O'Neal, bukan hal sulit baginya.
Keahliannya ini membuat Shahar dipanggil untuk memperkuat Purwarkarta di ajang kejuaraan. "Basket lumayan, saya suka. Ya, walaupun bentrok dengan bola, tapi basket enggak ditinggalin," kata dia.
Selain di tim basket Shahar sebenarnya tergabung juga di tim sepak bola. Intensif berlatih di di kesebelasan sekolah, Shahar pun harus serius berlatih menembak bola. Namun demikian dia harus mengambil keputusan ketika tentang sepakbola atau basket.
"Basket waktu itu harus berangkat ke kejurda tapi saya juga ditanya sama anak-anak sepakbola tentang kesiapann saya, ya bingung waktu itu," kata dia.
Keinginan bolanya kuat, Shahar memutuskan meninggalkan dunia bola pantul. Seiring tawaran yang datang padanya untuk bergabung di salah satu klub sepak bola amatir di Bandung.
Keputusan tepat, sepakbola mengantarnya menapaki tahapan teratas seorang atlet bola. "Ya, Alhamdulillah bisa seperti sekarang. Kata orang, pemain bola harus punya sampingan di bola voli sama basket. Tapi basket cukup membantu saya," kata dia.
Disinggung mengenai kemungkinan kembali bermain basket atau bahkan bulutangkis. Shahar tersenyum. "Bagi saya saat ini sepak bola dan bagaimana saya bisa berbuat untuk klub ini," pungkasnya.
Keahliannya itu mengantarkannya menjadi aset penjaga gawang tangguh yang dimiliki Maung Bandung. Namun, siapa sangka ternyata Shahar dahulu lebih kenal bulu tangkis. Zaenal Arifin, sang ayah, adalah sosok yang mendukung anaknya terjun ke dunia 'tebas bulu'.
Sejak kelas dua SD, pria yang sudah memiliki bakat badan yang tinggi ini memulai mengayunkan raketnya. Sebagai anak yang dikenal bongsor ini, bulu tangkis sangat menunjang tumbuh kembang fisiknya.
Ade Sumirat, adik kandung pebulutangkis nasional IIi Sumirat, merupakan pelatih Shahar di tanah kelahirannya, Purwakarta.''Pak Ade yang mengajarkan bermain bulu tangkis. Dia bilang memang saya punya bakat di olahraga,''kata pria kelahiran 4 November 1990.
Karena bakatnya itu Shahar memiliki kemampuan di atas anak-anak yang lain. Empat tahun menggenggam raket membuatnya cukup berprestasi. Sang Ayah pun tambah yakin si anak dapat meraih kesuksesan di bidang yang dimimpikan keluarga.
Namun kepindahan sang pelatih membuat rintisan karirnya di bulu tangkis berhenti.''Dari kelas dua sampai kelas lima, habis itu berhenti. Karena tidak ada lagi pelatih yang bagus,''kata pria bertinggi badan 186 cm ini.
Di sela-sela tidak adanya kegiatan olahraga, Shahar mulai mengenal sepak bola. Berdekatannya jarak rumah dengan Stadion Purnawarman, Purwakarta, membuat Shahar kecil menghabiskan waktunya dengan bermain bola bersama teman-temannya.''Sebenarnya enggak boleh dipake lapangannya tapi namanya anak-anak, seneng weh," ucapnya.
Setiap sore, bermain bola tidak pernah absen. "Ya kalau di usir di stadion suka main di sebelahnya," jelas dia.
Menginjak bangku SMA, Shahar mulai tertarik mencoba masuk di ekstrakurikuler basket. Perawakannya yang tinggi, meskipun belum berotot seperti sekarang, mengantarkannya sebagai pemain. Berposisi sebagai center, Shahar rajin tampil di sejumlah kejuaraan. Perannya pun tidak tergantikan di bawah keranjang. Ngedunk ala legenda NBA, Shaquille O'Neal, bukan hal sulit baginya.
Keahliannya ini membuat Shahar dipanggil untuk memperkuat Purwarkarta di ajang kejuaraan. "Basket lumayan, saya suka. Ya, walaupun bentrok dengan bola, tapi basket enggak ditinggalin," kata dia.
Selain di tim basket Shahar sebenarnya tergabung juga di tim sepak bola. Intensif berlatih di di kesebelasan sekolah, Shahar pun harus serius berlatih menembak bola. Namun demikian dia harus mengambil keputusan ketika tentang sepakbola atau basket.
"Basket waktu itu harus berangkat ke kejurda tapi saya juga ditanya sama anak-anak sepakbola tentang kesiapann saya, ya bingung waktu itu," kata dia.
Keinginan bolanya kuat, Shahar memutuskan meninggalkan dunia bola pantul. Seiring tawaran yang datang padanya untuk bergabung di salah satu klub sepak bola amatir di Bandung.
Keputusan tepat, sepakbola mengantarnya menapaki tahapan teratas seorang atlet bola. "Ya, Alhamdulillah bisa seperti sekarang. Kata orang, pemain bola harus punya sampingan di bola voli sama basket. Tapi basket cukup membantu saya," kata dia.
Disinggung mengenai kemungkinan kembali bermain basket atau bahkan bulutangkis. Shahar tersenyum. "Bagi saya saat ini sepak bola dan bagaimana saya bisa berbuat untuk klub ini," pungkasnya.
(aww)