Awas ! Kasus Ghavami Jadi Isu Politik
Kamis, 06 November 2014 - 10:29 WIB
Awas ! Kasus Ghavami Jadi Isu Politik
A
A
A
DOHA - Presiden Asosiasi Komite Olimpiade Nasional (ANOC) Sheikh Ahmad Al Fahad Al Sabah memperingatkan agar kasus pemenjaraan Ghoncheh Ghavami jangan menjadi isu politik. Perbedaan budaya di suatu negara harus dihargai sebagai identitas bangsa.
Penegasan Sheik Ahmad ini terkait dengan kasus yang membelit Ghavami. Perempuan Inggris, keturunan Iran itu sekarang mendekam di penjara setelah divonis selama setahun oleh Pengadilan Tinggi Teheran. Ia dinyatakan bersalah setelah menyaksikan pertandingan Liga Bola Voli Dunia pada 20 Juni lalu.
Berdasarkan informasi, sebenarnya pemerintah Iran sudah memperingati wanita 25 tahun itu untuk tidak melihat pertandingan voli putra sejak 2012 silam. Namun mahasiswa jurusan hukum tersebut melakukan perlawanan dan mengampanyekan propoganda melawan rezim di Iran.
Setelah ditahan selama 120 hari di Penjara Evin, Ghavami resmi menjadi tahanan dan harus meringkuk selama setahun. "Jangan hanya melihat dia menggunakan pasport Inggris. Kalau dia orang keturunan Iran, dia harusnya tidak perlu mengambil keuntungan politik dari olahraga. Kami melihat persoalan ini dari dua sisi," ungkap Sheikh Ahmad dilansir insidethegames, Kamis (6/11).
Ia melanjutkan, kalau Ghavami menggunakan olah raga sebagai ajang perjuangan politik dengan tegas pihaknya akan menolak. "Sekali saya tegaskan, kami tidak mau siapapun menggunakan olah raga untuk politik. Dalam olah raga kami mengedepankan perdamaian dan solidaritas, kalau seseorang akan menggunakan untuk mengirim pesan yang salah, jelas kami tolak."
Penegasan Sheik Ahmad ini terkait dengan kasus yang membelit Ghavami. Perempuan Inggris, keturunan Iran itu sekarang mendekam di penjara setelah divonis selama setahun oleh Pengadilan Tinggi Teheran. Ia dinyatakan bersalah setelah menyaksikan pertandingan Liga Bola Voli Dunia pada 20 Juni lalu.
Berdasarkan informasi, sebenarnya pemerintah Iran sudah memperingati wanita 25 tahun itu untuk tidak melihat pertandingan voli putra sejak 2012 silam. Namun mahasiswa jurusan hukum tersebut melakukan perlawanan dan mengampanyekan propoganda melawan rezim di Iran.
Setelah ditahan selama 120 hari di Penjara Evin, Ghavami resmi menjadi tahanan dan harus meringkuk selama setahun. "Jangan hanya melihat dia menggunakan pasport Inggris. Kalau dia orang keturunan Iran, dia harusnya tidak perlu mengambil keuntungan politik dari olahraga. Kami melihat persoalan ini dari dua sisi," ungkap Sheikh Ahmad dilansir insidethegames, Kamis (6/11).
Ia melanjutkan, kalau Ghavami menggunakan olah raga sebagai ajang perjuangan politik dengan tegas pihaknya akan menolak. "Sekali saya tegaskan, kami tidak mau siapapun menggunakan olah raga untuk politik. Dalam olah raga kami mengedepankan perdamaian dan solidaritas, kalau seseorang akan menggunakan untuk mengirim pesan yang salah, jelas kami tolak."
(bbk)