Kisah Muhammad Ali: Sepeda Dicuri, Parasut, dan Medali Emas Olimpiade
Jum'at, 02 Agustus 2024 - 12:12 WIB
Enam tahun kemudian, Ali akhirnya berhasil berdiri gagah di podium pertama usai menyabet medali emas pertamanya di Olimpiade Roma 1960. Perjalanan ke panggung dunia tidaklah mudah. Ali, yang mewakili AS sebagai petinju yang masih berusia 18 tahun relatif tidak dikenal.
Penerbangan yang bergejolak ke California untuk uji coba Olimpiade membuat Ali enggan terbang. Baru setelah dorongan lembut dari mentornya, Joe Martin, dia akhirnya setuju terbang menggunakan pesawat.
Baca Juga: Skandal Transgender di Cabor Tinju Olimpiade Paris 2024, IOC Membela Diri
Konon, petinju remaja itu bersikeras untuk membawa parasut selama perjalanan untuk berjaga-jaga. Seperti layaknya seorang pria yang dijuluki 'Si Bibir Louisville',Ali segera mulai menunjukkan kehadirannya di sekitar perkampungan Olimpiade, menjadi tokoh yang sangat populer. Namun, selain mendapatkan teman di luar ring, Ali juga mulai meninggalkan kesan di dalam ring.
Dalam pertarungan pertamanya di Olimpiade Roma melawan petinju Belgia Yvon Becaus, wasit harus menghentikan pertandingan di ronde kedua, karena khawatir akan terjadi KO yang brutal. Lawannya di perempat final adalah Gennady Shatkov dari Rusia, seorang pria yang telah memenangkan medali emas Olimpiade di divisi kelas menengah empat tahun sebelumnya.
Meskipun memiliki silsilah yang mengesankan, Shatkov bukanlah tandingan petinju Amerika, yang menang telak 5-0 dalam perolehan poin. Skor itu diulangi dalam pertarungan berikutnya melawan petinju bintang Australia Tony Madigan.
Penerbangan yang bergejolak ke California untuk uji coba Olimpiade membuat Ali enggan terbang. Baru setelah dorongan lembut dari mentornya, Joe Martin, dia akhirnya setuju terbang menggunakan pesawat.
Baca Juga: Skandal Transgender di Cabor Tinju Olimpiade Paris 2024, IOC Membela Diri
Konon, petinju remaja itu bersikeras untuk membawa parasut selama perjalanan untuk berjaga-jaga. Seperti layaknya seorang pria yang dijuluki 'Si Bibir Louisville',Ali segera mulai menunjukkan kehadirannya di sekitar perkampungan Olimpiade, menjadi tokoh yang sangat populer. Namun, selain mendapatkan teman di luar ring, Ali juga mulai meninggalkan kesan di dalam ring.
Dalam pertarungan pertamanya di Olimpiade Roma melawan petinju Belgia Yvon Becaus, wasit harus menghentikan pertandingan di ronde kedua, karena khawatir akan terjadi KO yang brutal. Lawannya di perempat final adalah Gennady Shatkov dari Rusia, seorang pria yang telah memenangkan medali emas Olimpiade di divisi kelas menengah empat tahun sebelumnya.
Meskipun memiliki silsilah yang mengesankan, Shatkov bukanlah tandingan petinju Amerika, yang menang telak 5-0 dalam perolehan poin. Skor itu diulangi dalam pertarungan berikutnya melawan petinju bintang Australia Tony Madigan.
Lihat Juga :