Sejarah Panjang Dunia Sepak Bola Melawan Penindasan

Rabu, 03 Juni 2020 - 06:01 WIB
Di lapangan, Socrates sering membawa pesan bahwa rakyat juga berhak mengemukakan pendapat. Tak jarang ia menggelar pertemuan-pertemuan di dekat stadion, dengan kedok membicarakan sepak bola, tetapi membicarakan demokrasi. (Baca juga: Kematian George Floyd Picu Kemarahan Michael Jordan )

Dua tahun sebelum itu, gelandang Timnas Jerman, Paul Breitner, juga terlibat dalam urusan politik. Bedanya, Breitner fokus menyoroti kekejaman junta militer Jorge Rafael Videla di Argentina. Puncaknya pada Piala Dunia 1978 di Argentina, Breitner menolak bermain karena menolak junta militer di negara itu.

Pada era 1990an, pengaruh sepak bola dalam urusan politik masih kental. Salah satunya ketika penyerang Liverpool, Robbie Fowler ikut aksi demonstrasi buruh pelabuhan di tahun 1997. Dia bahkan menuliskan pesan pro buruh di kaos yang dikenakan ketika pertandingan. Usai mencetak gol, Fowler selalu memamerkan pesan-pesan tersebut.

Sekarang ini sepak bola kembali memperlihatkan pengaruhnya terhadap permasalahan sosial dan politik. Orang-orang seperti Jadon Sancho dan Marcus Thuram, dianggap cuma puncak gunung es perlawanan terhadap penindasan etnis kulit hitam di AS. Achraf Hakimi, Raheem Sterling, Paul Pogba, dan Marcus Rashford juga sudah mulai bergerak menyuarakan kegeliasahan mereka.
(bbk)
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!