Terpincang-pincang, Anthony Joshua Pimpin Aksi Damai di Watford
Minggu, 07 Juni 2020 - 03:01 WIB
“(Jangan rusuh, red) Kecuali kau ingin duduk di dalam penjara, menghabiskan bertahun-tahun hidupmu tanpa arti. Di sini ada sangat banyak kamera, ada banyak kecerdasan,” lanjut petinju 30 tahun tersebut.
Joshua menyebut kematian George Floyd -pria kulit hitam di Amerika Serikat yang kehabisan napas karena lehernya ditekan menggunakan lutut oleh polisi setempat, telah membuka mata dunia, bahwa rasisme masih ada. Joshua bahkan menyebut Floyd sebagai katalisator alias seseorang yang menimbulkan perubahan besar, atau mempercepat suatu peristiwa.
“George Floyd, kita semua mengenal namanya. Dia seorang katalisator,” kata Joshua.
Setelah berorasi, Joshua kembali melakukan long march di kota Watford. Terdapat beberapa moment sang petinju kesulitan berjalan dengan tongkatnya sehingga ia mengendarai skuter listrik. (Baca juga: Perangi Rasisme, Michael Jordan Nyumbang Rp1,4 Triliun )
Joshua menyebut kematian George Floyd -pria kulit hitam di Amerika Serikat yang kehabisan napas karena lehernya ditekan menggunakan lutut oleh polisi setempat, telah membuka mata dunia, bahwa rasisme masih ada. Joshua bahkan menyebut Floyd sebagai katalisator alias seseorang yang menimbulkan perubahan besar, atau mempercepat suatu peristiwa.
“George Floyd, kita semua mengenal namanya. Dia seorang katalisator,” kata Joshua.
Setelah berorasi, Joshua kembali melakukan long march di kota Watford. Terdapat beberapa moment sang petinju kesulitan berjalan dengan tongkatnya sehingga ia mengendarai skuter listrik. (Baca juga: Perangi Rasisme, Michael Jordan Nyumbang Rp1,4 Triliun )
(mirz)
Lihat Juga :