alexametrics

Olimpiade 2020 Ditunda, Buka Pintu Pengguna Doping Ambil Bagian

loading...
Olimpiade 2020 Ditunda, Buka Pintu Pengguna Doping Ambil Bagian
Penundaan satu tahun Olimpiade Tokyo 2020 memunculkan masalah terkait atlet yang mendapat hukuman akibat menggunakann zat terlarang atau doping/Foto/Reuters
A+ A-
TORONTO - Penundaan satu tahun Olimpiade Tokyo 2020 memunculkan masalah terkait atlet yang mendapat hukuman akibat menggunakann zat terlarang atau doping. Penundaan itu dapat membuka pintu bagi para atlet yang curang bersaing memperebutkan medali di Tokyo pada 2021.

Kepala Badan Anti-Doping Amerika Serikat (USADA) Travis Tygart mengingatkan hal tersebut, Selasa (24/3/2020). Menurut Tygart, itu adalah masalah yang diangkat atas permintaan agen anti-doping nasional dari 21 negara.

"Itu menjadi salah satu dari banyak masalah rumit yang harus dipikirkan dan ditentukan sekarang karena Olimpiade telah ditunda," kata Tygart kepada Reuters.



Saat ini, tidak ada pernyataan resmi terkait memperpanjang sanksi akibat doping untuk Oimpiade Tokyo yang ditunda, jika atlet atau pelatih telah mengakhiri larangan mereka ketika kompetisi berlangsung tahun depan.

Dengan pengunduran jadwal Olimpiade Tokyo menjadi 2021, atlet yang tidak boleh bersaing di Olimpiade Tokyo 2020 akibat doping akan dapat melakukannya karena perubahan tanggal, sementara hukuman berlaku hanya pada 2020.

Jika seorang atlet telah menjalani larangannya (sesuai waktu Olimpiade Tokyo 2020) dan ditolak kesempatan untuk lolos ke Olimpiade 2021, hampir dapat dipastikan bahwa putusan seperti itu dapat ditentang di pengadilan.

Tygart telah memegang posisi lama bahwa mereka yang telah dikenai sanksi, seperti Olimpiade Amerika Serikat yang dilarang dua kali dan juara dunia 100 meter Justin Gatlin, telah berada di bawah peraturan hari ini yang melayani waktu mereka dan berhak untuk bersaing.

Komite Olimpiade Internasional (IOC) atau Badan Anti-Doping Dunia (WADA) mungkin bisa mempertimbangkan aturan seperti yang digunakan Major League Baseball, di mana pemain ditangguhkan selama musim ini karena pelanggaran obat terlarang yang meningkatkan kinerja, tidak memenuhi syarat untuk pasca-musim tahun itu.

"Atlet sangat menyadari tantangan yang kita hadapi saat ini untuk memastikan tingkat permainan yang adil," ujar Rob Koehler, direktur jenderal Global Athlete, sebuah kelompok advokasi untuk hak-hak atlet kepada Reuters. “Itu telah menjadi perhatian utama dan topik diskusi selama beberapa pekan terakhir."

“Saat agensi anti-doping menavigasi wilayah yang belum dipetakan ini, mereka harusnya melibatkan atlet sebagai bagian dari solusi."

“Atlet paling banyak kehilangan ketika mereka dicurangi oleh orang lain. Karena itu mereka harus memiliki pendapat yang sama dan setara tentang bagaimana kita bergerak maju untuk melindungi olahraga yang bersih."

Pertanyaan doping ini pasti akan menjadi salah satu dari banyak pertanyaan untuk IOC, Panitia Tokyo, dan WADA untuk diatasi setelah presiden IOC Thomas Bach dan Perdana Menteri Jepang Shinzo Abe sepakat pada Selasa (24/3/2020) bahwa Olimpiade perlu ditunda selama satu tahun karena ancaman yang ditimbulkan wabah virus corona.

WADA akan menerapkan aturan yang diperbarui pada Januari 2021 tetapi mengatakan kepada Reuters bahwa bahkan di bawah peraturan baru tidak ada ketentuan untuk mencegah atlet yang dilarang berpartisipasi di Olimpiade Tokyo tahun depan jika mereka telah menyelesaikan penangguhan mereka.

"Periode tidak memenuhi syarat yang diberlakukan oleh World Anti-Doping Code adalah untuk jangka waktu tertentu dan mencakup semua kompetisi yang berlangsung selama periode itu," kata WADA.
(sha)
preload video
KOMENTAR (pilih salah satu di bawah ini)
  • Facebook
  • Disqus
loading gif
Top
Aktifkan notifikasi browser anda untuk mendapatkan update berita terkini SINDOnews.
Aktifkan
Tidak