Main Tenis Meja Pakai Mulut, Ibrahim Hamadtou Jadi Inspirasi Dunia di Paralimpiade Tokyo 2020

Selasa, 07 September 2021 - 08:30 WIB
loading...
Main Tenis Meja Pakai Mulut, Ibrahim Hamadtou Jadi Inspirasi Dunia di Paralimpiade Tokyo 2020
Paralimpiade Tokyo 2020 memang sudah berakhir. Tapi, kisah inspiratif dari para atlet yang berlaga akan terus terasa. Salah satunya dari Ibrahim Hamadtou. Foto: reuters
A A A
TOKYO - Paralimpiade Tokyo 2020 memang sudah berakhir. Tapi, kisah inspiratif dari para atlet yang berlaga akan terus terasa. Salah satunya dari atlet tenis meja yang disebut “Mr. Impossible” asal Mesir bernama Ibrahim Hamadtou .

Baca Juga: Leani Ratri Oktila si Pencetak Sejarah di Paralimpiade Tokyo 2020

Bila ditanya siapa atlet paling terkenal dari Mesir, masyarakat dunia kemungkinan besar akan menjawab Mohamed Salah yang saat ini menjadi penyerang Liverpool di Liga Inggris.

Tapi, Mesir juga punya wakil lain yang tidak kalah populer. Ya, Hamadtou selalu menjadi buah bibir ketika sedang beraksi. Sebab, pria kelahiran 1 Juli 1973 itu bisa berprestasi meski kondisi tubuhnya tidak sempurna.

Walau kehilangan kedua lengannya, Hamadtou nekad memilih menjadi atlet tenis meja. Ini sangat mengherankan karena tenis meja atau ping-pong merupakan olahraga yang memakai tangan untuk memegang bet dan bola.

Lalu bagaimana Hamadtou bermain tenis meja tanpa kedua tangan? Dia memakai mulut untuk memegang bet, dan kaki untuk melempar bola. Sesuatu yang bagi orang normal sangat sulit dilakukan.

Dengan determinasi dan semangat juang tinggi, Hamadtou yang bermain tenis meja menggunakan mulut mampu mengukir prestasi di event olah raga disabilitas.

Dia yang biasanya turun di Singles Class 6 pernah merebut medali perak di kejuaraan para tenis meja Afrika pada 2011 dan 2013. Semua itu diraihnya melalu kerja keras.

Hamadtou telah melalui perjalanan panjang yang tidak mudah. Mulanya dia terlahir dengan kesempurnaan fisik. Namun, naas dia mengalami kecelakaan tertabrak kereta api saat berusia 10 tahun.

Kedua lengannya diamputasi di rumah sakit. Di saat itu Hamadtou merasakan keterpurukan dan jarang sekali keluar rumah. Berkali-kali dia mengasihani dirinya sendiri.
Halaman :
Komentar
Copyright © 2022 SINDOnews.com
read/ rendering in 0.2036 seconds (11.252#12.26)