alexa snippet

Ricuh, karateka DKI terkena lemparan kursi

Ricuh, karateka DKI terkena lemparan kursi
Karateka DKI Tebing terkena lemparan kursi yang dilemparkan pelatih Jateng/Rachmad Tomy/Koran Sindo
A+ A-
Sindonws.com - Suhu pertandingan di arena karate  GOR Tribuana, Pekanbaru, memanas, Kamis (13/9). Setelah sehari sebelumnya, kontingen Jatim protes terkait keputusan wasit, kini giliran kontingen Jawa Tengah meradang. Bahkan kareteka DKI Jakarta sempat terkena pentalan lemparan kursi yang masuk dalam arena. 

Kericuhan terjadi saat pertarungan pada perempat final kelas 55kg putra. Saat itu, dua karateka Jawa Tengah (Jateng) Imam Tauhid Raga Nanda bertarung lawan Tebing dari DKI Jakarta. Pertarungan berakhir 4-2 untuk kemenangan Tebing dari DKI Jakarta.

Namun, tiba-tiba pelatih karate Jateng Munginsidi mengamuk. Bukan hanya memaki, tapi juga langsung melampar kursi ke arena pertandingan. Masih belum puas, Munginsidi juga mengejar lantas mendorong wasit dan juri pertandingan.

Situasi ini memancing emosi kontingen Jateng yang ikut-ikutan masuk lapangan. Sementara itu, atlet dan penonton yang berada di tribun berteriak-teriak dan ada yang melempar botol air minum kemasan. "Wasit tidak fair, keputusannya tidak adil," teriak pendukung kontingen Jateng.
Sementara atlet dan pendukung KI Jakarta juga tidak mau kalah. "Kampungan, kampungan," balasnya.

Melihat situasi tak terkendali, polisi dan pihak kemanan turun ke lapangan. Ofisial tim lain juga membantu melerai aksi ricuh ini. Situasi akhirnya bisa dikendalikan, kendati pertandingan lainnya sempat terhenti. Setelah 15 menit ricuh, pertandingan lain akhirnya bisa dilanjutkan.

Anggota kontingen karate Jateng, Amin Siahaan mengatakan, seharusnya wasit mengambil keputusan secara fair dalam memimpin. Sehingga atlet dan kontingan tidak merasa dirugikan. "Keputusan harus fair dan jujur. Biarkan yang terbaik jadi pemenang dan juara. Selama itu dilakukan dan dijalankan, semuanya pasti enak,"  protesnya.

Sehari sebelumnya, kontingen Jawa Timur juga melakukan protes hasil final nomor kata beregu putri. Pasalnya, kubu Jatim merasa penilaian 5 wasit dan juri dianggap tidak obyektif. Sehubungan dengan kondisi itulah, "Kami telah melayangkan protes secara resmi. Protes kita telah diterima oleh dewan juri," terang Ketua Umum FORKI Jatim, Totok Lusida.
halaman ke-1 dari 2
KOMENTAR (pilih salah satu di bawah ini)
  • Facebook
  • Disqus
loading gif
Top