alexametrics

Ayah Lorenzo Ungkit Dosa Marquez di Sepang dan Aragon

loading...
Ayah Lorenzo Ungkit Dosa Marquez di Sepang dan Aragon
Gaya balap Marc Marquez di ajang MotoGP kembali mendapatkan sorotan jelang bergulirnya balapan pertama di Sirkuit Jerez, pertengahan Juli mendatang. Kali datang dari ayah Jorge Lorenzo, Chicho / Foto: AS Sport
A+ A-
MALLORCA - Gaya balap Marc Marquez di ajang MotoGP kembali mendapatkan sorotan jelang bergulirnya balapan pertama di Sirkuit Jerez, pertengahan Juli mendatang. Kali datang dari ayah Jorge Lorenzo, Chicho.

Chicho kembali mengungkapkan insiden yang terjadi di Sirkuit Sepang (2015), Rio Hondo (2018), dan Aragon (2018). Dalam sebuah kesempatan dia mengatakan bahwa apa yang dilakukan Marquez telah menyeret Lorenzo. (Baca juga: Daripada Nanggung Malu, Stoner Sarankan Rossi Segera Pensiun)

Chicho mencontohkan peristiwa di mana Lorenzo berhasil keluar sebagai juara dunia MotoGP 2015 setelah memenangkan balapan terakhir di Sirkuit Valencia. Saat itu, dua pembalap yang berasal dari Spanyol, yakni Dani Pedrosa dan Marquez dinilai melakukan persengkongkolan untuk merusak rencana Valentino Rossi meraih gelar juara ke-10 sepanjang kariernya di empat kelas berbeda.



Sebelum balapan seri terakhir di Valencia, Marquez dan Rossi terlibat saling senggol yang berakhir sanksi buat The Doctor lantaran ia diduga sengaja menendang The Baby Alien. Akibatnya, pembalap Yamaha itu harus puas memulai balapan dari posisi buncit di Valencia. (Baca juga: Valentino Rossi dan Kebutuhan Bisnis Tim Petronas SRT)

"Marquez memecah semua skema tabrakan dengan pembalap lain, bahkan ketika dia pergi untuk meminta maaf ke garasi saingan membuat wajah bocah terlihat polos (ini merujuk pada kejadian di Rio Hondo pada 2018). Meskipun dia tidak membutuhkannya karena dia telah menetapkan dirinya sebagai pembalap terbaik. Dengan kata lain, masih ada rasa tidak hormat. Baginya, yang penting adalah menang dengan harga berapa pun, juga menggunakan trik yang tidak sportif jika perlu," ungkap Chicho dikutip dari Corsedimoto, Selasa (23/6/2020).

"Marquez menunjukkan kebencian terhadap saingannya yang membawanya ke strategi seperti yang dia lakukan dengan Valentino Rossi di Malaysia 2015. Dia fokus secara eksklusif pada menghancurkan karier Valentino dan peluang memenangkan gelar. Strategi itu benar-benar balas dendam," sambungnya.

Chicho membeberkan fakta kejadian di Sepang. Dikatakannya, Rossi mendapatkan lap tercepat pada lap keempat dan di putaran kelima kecepatannya menurun 1,2 persepuluh detik. Pada keenam ia sedikit lebih cepat tetapi itu bukan ritme normalnya. Dan pada putaran tujuh terjadi insiden di mana Marquez terjatuh.

"Marquez juga membuat lap tercepat di yang kedua, tetapi dari sana waktunya tidak normal. Sebagai kesimpulan, bukannya melakukan balapan, ia mendedikasikan dirinya untuk Valentino yang mengganggu."

Contoh lain yang dirujuk Chicho, yakni analisis agresivitas Marquez di GP Aragon pada 2018. Awalnya ia memotong jalan ke Lorenzo, sehingga memaksanya jatuh karena patah pergelangan kaki akibatnya.

"Marquez tidak melakukan kesalahan, itu adalah manuver yang sangat terukur untuk pengemudi yang memiliki banyak ketepatan selama balapan. Dan mengapa begitu jauh dari garisnya? Karena dia ingin mengacaukan jalan keluar Lorenzo. Dia melakukannya karena pada saat itu dia adalah pembalap yang memberikan lebih banyak tekanan kepadanya dengan hasilnya," pungkas Chicho.
(sha)
preload video
TULIS KOMENTAR ANDA!
Top
Aktifkan notifikasi browser anda untuk mendapatkan update berita terkini SINDOnews.
Aktifkan
Tidak