alexametrics

Franklin Ingin Kembalikan USA Sebagai Rumah Bagi Jawara Kelas Berat

loading...
Franklin Ingin Kembalikan USA Sebagai Rumah Bagi Jawara Kelas Berat
Jermaine Franklin.Foto/Tapology
A+ A-
LAS VEGAS - Dominasi Amerika Serikat (USA) di kelas berat sirna, sejak Deontey Wilder dan Andy Ruiz Jr tidak lagi menjadi juara dunia. Inggris mengambil alih dengan dua juaranya, Tyson Fury (WBC) dan Anthoy Joshua (WBA, IBF, WBO, IBO).

Kondisi ini, membuat Jermaine Franklin geram. Petinju masa depan USA tersebut, bertekad mengembalikan Amerika Serikat sebagai rumah para jawara tinju kelas berat.

(Baca juga: Carl Froch: Jangan Bikin Dillian Whyte Sakit Hati, Hearn Anda Harus Adil)

"Ya, kita harus mendapatkannya kembali," kata Franklin kepada Sky Sports. "Antara Amerika dan Inggris, selalu ada sesuatu tentang tinju, kami selalu bolak-balik," sambungnya.



Sebagai petinju muda berusia 26 tahun, rekor Franklin terbilang wah. Dari 20 pertarungan yang sudah dilakoni, belum sekalipun dia kalah. Pesentase menang KO Franklin cukup besar, 65 persen.

(Baca juga: Soal Miller Pakai Zat Penambah Kekuatan, Forrest: Dia Ingin Membunuh Saya)



Di kelas berat, Franklin bukan salah satu dari raksasa, meski memiliki rekor 13 kali menang KO. Tidak mengherankan jika dia menghabiskan waktu berjam-jam mempelajari Evander Holyfield, jawara kelas berat yang mampu menumbangkan petinju raksasa.

"Saya tidak akan mencontoh sepenuhnya Holyfield, tetapi saya menonton begitu banyak rekaman sehingga saya mungkin mencuri beberapa gerakan," katanya.

"Fakta bahwa pria kecil dapat mengalahkan pria besar, dan fakta bahwa pria kecil itu mengatasi jab. Riddick Bowe memiliki pukulan yang bagus dan satu-dua. Holyfield mengatasi, dia menyesuaikan diri, dan dia bisa masuk dengan pukulan pendek," tuturnya.

Menurut Franklin, pria besar yang harus dikalahkan saat ini adalah duo Inggris Fury dan Joshua.
(zil)
Ikuti Kuis Berhadiah Puluhan Juta Rupiah di SINDOnews
preload video
TULIS KOMENTAR ANDA!
Top
Aktifkan notifikasi browser anda untuk mendapatkan update berita terkini SINDOnews.
Aktifkan
Tidak