Arema Persilakan Skuat Asing Tentukan Pilihan
Rabu, 03 Juni 2015 - 14:31 WIB
Arema Persilakan Skuat Asing Tentukan Pilihan
A
A
A
MALANG - Jatuhnya sanksi FIFA terhadap Indonesia sudah pasti membuat sejumlah klub di tanah air terancam bubar. Tak heran jika manajemen klub akhirnya memberikan kebebasan pada pemain, terutama skuat asingnya untuk menentukan pilihan, seperti yang dilakukan Arema Cronus.
Arema saat ini tercatat memiliki Fabiano Beltrame, Yao Rudy dan Sengbah Kennedy. Namun terkait dengan kisruh sepak bola nasional yang tidak juga reda, manajemen Singo Edan membebaskan ketiganya menentukan karir ke depannya. Arema akan merelakan pemainnya tersebut jika ingin meninggalkan Malang dan bermain di luar Indonesia.
"Kami harus menghormati segala keputusan mereka selanjutnya. Kondisinya memang sulit karena mereka tak bisa seterusnya di Indonesia dengan adanya sanksi FIFA. Daripada nanti ada masalah visa atau ITC (International Transfer Certificate," kata bos Arema Cronus Iwan Budianto, Rabu (3/6/2015).
Dia mengatakan kondisi seperti itu dirasakan semua pemain asing yang ada di Indonesia. Mereka bisa saja bertahan dan berharap sanksi FIFA bisa cepat dicabut. Persoalannya hingga sekarang tak ada tanda-tanda atau inisiatif melunturkan sanksi tersebut.
"Saya tahu mereka ingin terus bermain di Indonesia, apalagi ada yang sudah bertahun-tahun di sini dan punya keluarga. Pilihan sepenuhnya ada di tangan pemain," tandas Iwan. Iwan sendiri tidak bisa membuat prediksi sampai kapan sanksi FIFA bakal mengendap di Indonesia.
Fabiano Beltrame, centre back Arema Cronus, mengakui dirinya masih ingin terus melanjutkan karirnya di Indonesia. Apalagi keluarganya sudah berada di sini, bahkan salah satu anak laki-lakinya bergabung di tim muda Arema.
"Keinginan saya tetal di Indonesia dan terus bermain untuk Arema. Tapi saya harus realistis dengan situasi yang ada sekarang. Saya harus siap dengan segala kemungkinan, termasuk jika harus meninggalkan Indonesia," sebut Fabiano.
Sikap serupa diambil Persela Lamongan yang juga tak bisa menahan pemain asingnya untuk terus di Indonesia. Apalagi kontrak pemain di tim berjuluk Laskar JakaTingkir sebenarnya sudah berakhir April lalu setelah QNB League terhenti permanen.
"Pemain asing dipersilakan mencari liga di luar negeri jika sanksi FIFA masih terus berlaku. Kami dari manajemen tidak bisa meminta mereka bertahan karena kondisinya sulit. Mungkin suatu saat mereka bisa balik ke Lamongan kalau situasinya sudah kondusif," kata Muji Santoso, Sekretaris Persela.
Arema saat ini tercatat memiliki Fabiano Beltrame, Yao Rudy dan Sengbah Kennedy. Namun terkait dengan kisruh sepak bola nasional yang tidak juga reda, manajemen Singo Edan membebaskan ketiganya menentukan karir ke depannya. Arema akan merelakan pemainnya tersebut jika ingin meninggalkan Malang dan bermain di luar Indonesia.
"Kami harus menghormati segala keputusan mereka selanjutnya. Kondisinya memang sulit karena mereka tak bisa seterusnya di Indonesia dengan adanya sanksi FIFA. Daripada nanti ada masalah visa atau ITC (International Transfer Certificate," kata bos Arema Cronus Iwan Budianto, Rabu (3/6/2015).
Dia mengatakan kondisi seperti itu dirasakan semua pemain asing yang ada di Indonesia. Mereka bisa saja bertahan dan berharap sanksi FIFA bisa cepat dicabut. Persoalannya hingga sekarang tak ada tanda-tanda atau inisiatif melunturkan sanksi tersebut.
"Saya tahu mereka ingin terus bermain di Indonesia, apalagi ada yang sudah bertahun-tahun di sini dan punya keluarga. Pilihan sepenuhnya ada di tangan pemain," tandas Iwan. Iwan sendiri tidak bisa membuat prediksi sampai kapan sanksi FIFA bakal mengendap di Indonesia.
Fabiano Beltrame, centre back Arema Cronus, mengakui dirinya masih ingin terus melanjutkan karirnya di Indonesia. Apalagi keluarganya sudah berada di sini, bahkan salah satu anak laki-lakinya bergabung di tim muda Arema.
"Keinginan saya tetal di Indonesia dan terus bermain untuk Arema. Tapi saya harus realistis dengan situasi yang ada sekarang. Saya harus siap dengan segala kemungkinan, termasuk jika harus meninggalkan Indonesia," sebut Fabiano.
Sikap serupa diambil Persela Lamongan yang juga tak bisa menahan pemain asingnya untuk terus di Indonesia. Apalagi kontrak pemain di tim berjuluk Laskar JakaTingkir sebenarnya sudah berakhir April lalu setelah QNB League terhenti permanen.
"Pemain asing dipersilakan mencari liga di luar negeri jika sanksi FIFA masih terus berlaku. Kami dari manajemen tidak bisa meminta mereka bertahan karena kondisinya sulit. Mungkin suatu saat mereka bisa balik ke Lamongan kalau situasinya sudah kondusif," kata Muji Santoso, Sekretaris Persela.
(bbk)