MotoGP Takkan Pernah Aman, Potensi Bahaya Akan Selalu Ada
Kamis, 04 Agustus 2016 - 19:06 WIB
MotoGP Takkan Pernah Aman, Potensi Bahaya Akan Selalu Ada
A
A
A
SACHSENRING - Rekor top speed MotoGP sepanjang sejarah telah dilewati pada musim ini. Pemecahan rekor itu ditorehkan oleh motor Ducati yang ditunggangi Andrea Iannone. Rider Italia itu menggeber Desmosedici GP16 hingga kecepatan 354,9 km/jam (kpj) di lintasan lurus Sirkuit Mugello, pada GP Italia, 22 Mei 2016.
“Secara faktuil, top speed tersebut terdengar menyeramkan dan angkanya tampak benar-benar tinggi,” tutur direktur teknologi MotoGP, Corrado Cecchinelli, kepada Crash. “Tapi ketika saya mengingat sejumlah kecelakaan hebat yang disebabkan oleh top speed, biasanya terjadi akibat kegagalan pada ban. Sayangnya, saya tidak mengingat kapan kecelakaan yang disebabkan oleh itu telah memberi konsekuensi yang amat buruk (pada pembalap),” imbuhnya.
Cecchinelli pun menjelaskan mengapa amat jarang pembalap jadi korban kecelakaan di arena MotoGP yang disebabkan oleh insiden top speed.
“Itu karena mereka terselamatkan oleh dinamika. Karena kecelakaan di trek lurus sebuah sirkuit, biasanya akan mengarahkan pembalap ke arah depan ketimbang ke arah samping). Dan juga karena desainer lintasan yang makin hebat, mereka telah membuat area run-off yang cukup di akhir trek lurus,” kata Cecchinelli.
Menurut Cecchinelli, justru yang lebih berbahaya bagi pembalap ialah terjadinya kecelakaan saat menikung, di mana insiden itu terjadi di tikungan yang memiliki karakter cornering speed alias pembalap harus melibas belokan tersebut dengan kecepatan tinggi, tentunya guna mengejar catatan waktu yang lebih baik.
Contohnya terjadi dalam kasus kematian pembalap Moto2, Luis Salom di Sirkuit Catalunya musim ini.
“Kecepatan pembalap saat menikung dan area run-off tikungan jadi pembeda terbesar bagi keselamatan pembalap dan saya selalu mencamkan kalau dunia balap motor itu berbahaya dan potensi bahayanya tidak pernah mencapai titik nol. Adalah target kami untuk membuatnya seaman mungkin dan setiap orang mempunyai bagian peran masing-masing dalam hal ini, mulai dari desainer sirkuit hingga pabrikan ban, namun ini (balap motor) tidak akan pernah aman,” ujar Cecchinelli lagi.
Lantas bagaimana rencana para pembuat aturan di balap motor GP guna lebih membuat aman lintasan dari kecelakaan? Apakah sudah ada yang diterapkan?
“Banyak yang bilang, top speed yang lebih rendah tidak akan lebih berbahaya dan jika membuat kecepatan motor lebih lambat adalah rencananya, akan sangat mudah memutuskan memaki pembatasan kecepatan, atau dengan kata lain kekuatan mesin motor akan direduksi,” ucap Cecchinelli.
Lebih lanjut Cecchinelli menjelaskan, “Jadi ini hanya soal waktu, kapan rencana dan aturan itu diterapkan oleh para tim pabrikan. Hingga kemudian, jika saya nantinya jadi salah satu orang yang bisa memutuskan (yang mana saya tidak punya kapasitas untuk itu), saya tidak akan memperkenalkan perubahan apapun dalam regulasi yang secara pasti akan membuat motor melaju lebih cepat.”
“Karena jika regulasinya akan tetap seperti sekarang. Saya memprediksi laju motor akan lebih cepat karena pengaruh yang diberikan oleh evolusi dari aerodinamikanya atau dari teknologi ban dan lain sebagainya. Akan tetapi saya tidak merasa motor MotoGP bakal melaju lebih cepat 20 km/jam ketimbang saat ini,” tandasnya.
“Secara faktuil, top speed tersebut terdengar menyeramkan dan angkanya tampak benar-benar tinggi,” tutur direktur teknologi MotoGP, Corrado Cecchinelli, kepada Crash. “Tapi ketika saya mengingat sejumlah kecelakaan hebat yang disebabkan oleh top speed, biasanya terjadi akibat kegagalan pada ban. Sayangnya, saya tidak mengingat kapan kecelakaan yang disebabkan oleh itu telah memberi konsekuensi yang amat buruk (pada pembalap),” imbuhnya.
Cecchinelli pun menjelaskan mengapa amat jarang pembalap jadi korban kecelakaan di arena MotoGP yang disebabkan oleh insiden top speed.
“Itu karena mereka terselamatkan oleh dinamika. Karena kecelakaan di trek lurus sebuah sirkuit, biasanya akan mengarahkan pembalap ke arah depan ketimbang ke arah samping). Dan juga karena desainer lintasan yang makin hebat, mereka telah membuat area run-off yang cukup di akhir trek lurus,” kata Cecchinelli.
Menurut Cecchinelli, justru yang lebih berbahaya bagi pembalap ialah terjadinya kecelakaan saat menikung, di mana insiden itu terjadi di tikungan yang memiliki karakter cornering speed alias pembalap harus melibas belokan tersebut dengan kecepatan tinggi, tentunya guna mengejar catatan waktu yang lebih baik.
Contohnya terjadi dalam kasus kematian pembalap Moto2, Luis Salom di Sirkuit Catalunya musim ini.
“Kecepatan pembalap saat menikung dan area run-off tikungan jadi pembeda terbesar bagi keselamatan pembalap dan saya selalu mencamkan kalau dunia balap motor itu berbahaya dan potensi bahayanya tidak pernah mencapai titik nol. Adalah target kami untuk membuatnya seaman mungkin dan setiap orang mempunyai bagian peran masing-masing dalam hal ini, mulai dari desainer sirkuit hingga pabrikan ban, namun ini (balap motor) tidak akan pernah aman,” ujar Cecchinelli lagi.
Lantas bagaimana rencana para pembuat aturan di balap motor GP guna lebih membuat aman lintasan dari kecelakaan? Apakah sudah ada yang diterapkan?
“Banyak yang bilang, top speed yang lebih rendah tidak akan lebih berbahaya dan jika membuat kecepatan motor lebih lambat adalah rencananya, akan sangat mudah memutuskan memaki pembatasan kecepatan, atau dengan kata lain kekuatan mesin motor akan direduksi,” ucap Cecchinelli.
Lebih lanjut Cecchinelli menjelaskan, “Jadi ini hanya soal waktu, kapan rencana dan aturan itu diterapkan oleh para tim pabrikan. Hingga kemudian, jika saya nantinya jadi salah satu orang yang bisa memutuskan (yang mana saya tidak punya kapasitas untuk itu), saya tidak akan memperkenalkan perubahan apapun dalam regulasi yang secara pasti akan membuat motor melaju lebih cepat.”
“Karena jika regulasinya akan tetap seperti sekarang. Saya memprediksi laju motor akan lebih cepat karena pengaruh yang diberikan oleh evolusi dari aerodinamikanya atau dari teknologi ban dan lain sebagainya. Akan tetapi saya tidak merasa motor MotoGP bakal melaju lebih cepat 20 km/jam ketimbang saat ini,” tandasnya.
(sbn)