Ini Alasan Performa MU Jeblok di Paruh Kedua Liga 1
Selasa, 05 September 2017 - 20:44 WIB
Ini Alasan Performa MU Jeblok di Paruh Kedua Liga 1
A
A
A
MADURA - Madura United FC (MU) mengalami penurunan performa. Usai menyandang status juara paruh musim Liga 1, MU justru tampil buruk dengan mengemas satu kemenangan, satu imbang dan tiga kekalahan.
Di pekan ke-22, tim asuhan Gomes Oliviera bertengger di posisi lima klasemen. MU memiliki 36 poin, selisih delapan angka dari Bali United yang sedang kokoh di posisi teratas.
"Harus kerja keras lagi. Harus berusaha untuk bangkit dan tidak gagal lagi," tegas Gomes yang dikutip dari situs klub.
Menurut pengamatan Achsanul Qosasi, performa MU jeblok karena tidak memiliki komposisi terbaik di paruh kedua kompetisi. Awalnya MU sangat mendukung adanya regulasi pemain U-23 yang diterapkan PSSI dan pengelola liga. Namun regulasi itu dihentikan di tengah kompetisi dan seluruh kontestan Liga 1 tidak bisa berbuat banyak sebab keputusan diumumkan setelah bursa transfer paruh musim resmi ditutup.
"Kita hanya menduga bahwa akan ada pencabutan regulasi secara permanen. Tetapi keputusan pastinya justru terjadi saat proses pendaftaran pemain sudah ditutup, baru ditegaskan bahwa regulasi kewajiban memainkan pemain U-23 dicabut," ungkap Achsanul Qosasi selaku Presiden Klub.
Jika keputusan tersebut diumumkan lebih awal, MU akan belanja pemain untuk memperkuat tim di paruh kedua kompetisi. Tapi nasi sudah menjadi bubur. Mau tak mau kubu Sape Kerap harus mengandalkan pemain yang ada dalam mengarungi sisa persaingan di musim ini.
"Dalam regulasi kan butuh ketegasan, bukan hanya isyarat. Andai pencabutan (regulasi pemain U-23) secara resmi dilakukan sebelum masa pendaftaran pemain ditutup mungkin tentunya klub memiliki perencanaan yang lebih baik," ungkap Manajer Madura United, Haruna Soemitro.
MU bukan satu-satunya tim yang terpuruk di paruh kedua kompetisi. Semen Padang, PS TNI dan Persela Lamongan juga sering mendapatkan hasil negatif saat paruh kedua Liga 1 sudah berjalan lima pekan.
Di pekan ke-22, tim asuhan Gomes Oliviera bertengger di posisi lima klasemen. MU memiliki 36 poin, selisih delapan angka dari Bali United yang sedang kokoh di posisi teratas.
"Harus kerja keras lagi. Harus berusaha untuk bangkit dan tidak gagal lagi," tegas Gomes yang dikutip dari situs klub.
Menurut pengamatan Achsanul Qosasi, performa MU jeblok karena tidak memiliki komposisi terbaik di paruh kedua kompetisi. Awalnya MU sangat mendukung adanya regulasi pemain U-23 yang diterapkan PSSI dan pengelola liga. Namun regulasi itu dihentikan di tengah kompetisi dan seluruh kontestan Liga 1 tidak bisa berbuat banyak sebab keputusan diumumkan setelah bursa transfer paruh musim resmi ditutup.
"Kita hanya menduga bahwa akan ada pencabutan regulasi secara permanen. Tetapi keputusan pastinya justru terjadi saat proses pendaftaran pemain sudah ditutup, baru ditegaskan bahwa regulasi kewajiban memainkan pemain U-23 dicabut," ungkap Achsanul Qosasi selaku Presiden Klub.
Jika keputusan tersebut diumumkan lebih awal, MU akan belanja pemain untuk memperkuat tim di paruh kedua kompetisi. Tapi nasi sudah menjadi bubur. Mau tak mau kubu Sape Kerap harus mengandalkan pemain yang ada dalam mengarungi sisa persaingan di musim ini.
"Dalam regulasi kan butuh ketegasan, bukan hanya isyarat. Andai pencabutan (regulasi pemain U-23) secara resmi dilakukan sebelum masa pendaftaran pemain ditutup mungkin tentunya klub memiliki perencanaan yang lebih baik," ungkap Manajer Madura United, Haruna Soemitro.
MU bukan satu-satunya tim yang terpuruk di paruh kedua kompetisi. Semen Padang, PS TNI dan Persela Lamongan juga sering mendapatkan hasil negatif saat paruh kedua Liga 1 sudah berjalan lima pekan.
(bep)