Cerita di Balik Keajaiban Cori Gauff Jadi Juara WTA Termuda

Selasa, 15 Oktober 2019 - 09:27 WIB
Cerita di Balik Keajaiban...
Cerita di Balik Keajaiban Cori Gauff Jadi Juara WTA Termuda
A A A
Apa yang dimulai sebagai mimpi di awal musim ini sekarang menjadi kenyataan bagi petenis ABG berusia 15 tahun, Cori ’’Coco’’ Gauff. Berada di luar Top 600 pada Januari, petenis Amerika Serikat itu, bercita-cita untuk menembus Top 100 di peringkat WTA di akhir 2019.

Ternyata, mimpi Gauff untuk menembus Top 100 lebih cepat dari yang diharapkan. Terhitung Senin (14/10), Gauff melejit ke posisi 71 dunia dalam Rangking WTA terbaru. Peringkat Gauff terdongkrak sukses menjuarai Turnamen Upper Linz Austria Open, Minggu lalu.

Keberhasilan itu membuat Gauff menjadi pemain termuda kesembilan yang pernah memenangkan gelar tunggal WTA. Tidak hanya meraih gelar termuda dalam tur WTA di 15 tahun, dia adalah orang Amerika termuda yang mendapatkan trofi tur sejak 1991. Gauff menjadi petenis dengan status lucky loser kedua yang beruntung memenangkan gelar tunggal dalam 18 bulan terakhir.

Ditambah dengan gebrakannya Grand Slam-nya di Wimbledon dan AS Terbuka musim ini, kemenangan gadis berusia 15 tahun itu mengangkatnya ke peringkat tertinggi dunia No.71 dunia.


"Minggu lalu benar-benar hebat. Saya tidak menyangka, mengingat saya masuk sebagai lucky loser. Pada awal tahun ini, saya tidak pernah berpikir bahwa sekitar saat ini, saya akan memenangkan gelar pertama saya,’’kata Gauff.

"Saya telah mencapai semua tujuan saya tahun ini yang ingin saya lakukan. Memenangkan gelar tidak ada dalam daftar saya tahun ini, tapi saya senang itu terjadi,"lanjutnya.

Jaln Gauff di Turnamen Upper Linz Austria Open nyaris berantakan setelah kalah dari petenis Jerman, Tamara Korpatsch di babak final kualifikasi. Namun, dia mendapat fasilitas lucky loser dari penyelenggara yang membuatnya berhak masuk babak utama.

Keberuntungan diperoleh Gauff ketika pemain berusia 15 tahun itu mendapat kesempatan kedua setelah Maria Sakkari, unggulan 6, menarik diri karena cedera pergelangan tangan. Dan, dia mendapat pemberitahuan satu jam sebelum pertandingan dia menggantikan Sakkari melawan petenis Swiss, Stefanie Voegele

’’Setelah saya menyadari bahwa saya masuk sebagai lucky loser, saya merasa lega, dan saya bermain lebih bebas. Setiap pertandingan beruntung dan menjadi berkah setelah itu karena saya seharusnya keluar dari turnamen,"kata Gauff.
(aww)
Berita Terkait
Pidato Emosional Coco...
Pidato Emosional Coco Gauff, Petenis Masa Depan Amerika Serikat
Daniela Hantuchova,...
Daniela Hantuchova, Petenis Imut Nan Cantik Ini Beralih Profesi Jadi Komentator
Sejarah, Petenis Muda...
Sejarah, Petenis Muda Indonesia Rebut Dua Gelar di Singapura
Dirilis Forbes, Atlet...
Dirilis Forbes, Atlet Tenis Ternyata Paling Tajir
Petenis Kembar Ana dan...
Petenis Kembar Ana dan Ani Juara dan Runner-up Rajawali Women's Tennis Open 2022: Terima Kasih Bapak Kepala BIN!
131 Petenis Cilik Ramaikan...
131 Petenis Cilik Ramaikan West Tennis Academy (WTA) Pigeon Teens Series 2023
Berita Terkini
Portugal Difavoritkan,...
Portugal Difavoritkan, Ronaldo Dituntut Pecah Telur
32 menit yang lalu
Head-to-Head Inggris...
Head-to-Head Inggris vs Ghana: The Three Lions Tak Pernah Kalah dari Afrika
2 jam yang lalu
Kisah Inspiratif Nasabah...
Kisah Inspiratif Nasabah PNM Warnai Grand Final Pro Futsal League 2026
3 jam yang lalu
Inggris vs Ghana: The...
Inggris vs Ghana: The Three Lions Menuju Rekor Baru
4 jam yang lalu
Mbappe Ungkap Momen...
Mbappe Ungkap Momen Terjebak 2 Jam di Ruang Ganti
5 jam yang lalu
Air Mata 2016, Sejarah...
Air Mata 2016, Sejarah 2026: Saat Dunia Tak Berhenti Bicarakan Messi
7 jam yang lalu
Infografis
20 Universitas Terbaik...
20 Universitas Terbaik di Indonesia Versi QS WUR 2027
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved