Atlet termuda Olimpide, beli baju di pasar obral
Selasa, 07 Agustus 2012 - 11:39 WIB
Atlet termuda Olimpide, beli baju di pasar obral
A
A
A
Sindonews.com - Atlet asal Togo Adzo Kpossi menjadi atlet termuda di perhelatan Olimpiade London 2012. Perenang yang saat ini berusia 13 tahun itu bahkan harus membeli kostumnya di pasar obral. Selain usianya yang sangat muda, di dalam diri Kpossi tersimpan sesuatu yang menarik.
Kesan sederhana selalu ditampilkannya dan ia tidak pernah menampakkan kesan mewah atau wah. Dia selalu tampil sederhana dan santun. Selain itu, tujuannya mengikuti Olimpiade London tidak muluk-muluk: mengalahkan catatannya sendiri 44,60 detik di nomor gaya bebas 50 meter putri. Waktu yang nyaris dua kali rekor dunia 23,73 detik.
“Kpossi berlatih seadanya, tidak ada blok start,tidak ada alat sirip,tidak ada alat lain,” kata sang ayah yang juga pelatihnya, Kwami Kpossi, dilansir AFP.
Karena kurangnya kolam renang untuk umum di Lome,ibu kota negara Afrika bagian barat itu, atlet belia tersebut latihan lima kali sepekan di dua kolam renang hotel. ”Manajer hotel itu membiarkan kami latihan di situ tanpa bayar. Kami latihan setelah pulang sekolah,” kata Kwami, yang pernah menjadi guru olahraga.
Dengan tanpa didukung peralatan, latihan Kpossi menunjukkan pengorbanan besar keluarga perenang itu. “Kolam renang letaknya sekitar 12 kilometer (7,5 mil) dari rumah kami. Kami mengeluarkan banyak uang. Setiap tiga hari saya harus mengisi bahan bakar mobil. Tapi, Komite Olimpiade Togo memberi sejumlah uang untuk bahan bakar,” katanya.
“Saya menyukai kerja keras,” kata Kpossi,d engan suara yang masih kekanak-kanakan, dengan tangan di dalam kantong, setelah melakukan gerakan-gerakan salto.
Kendati melakukan dedikasi luar biasa, perenang muda itu bahkan gagal mencapai standar minimum untuk mendapatkan tempat di Olimpiade. Kendati demikian, dia mendapat wildcard untuk datang ke London sebagai perwakilan Olimpiade yang berdatangan dari seluruh dunia.
Setiap komite nasional Olimpiade diizinkan mengikutsertakan atlet tertentu untuk menyaksikan atau ikut pertandingan atletik dan renang kendati mereka tidak lolos kualifikasi. Sejak kedatangan Kpossi di London pada pertengahan Juli, keberuntungan belum berada di tangannya. Remaja itu sembuh setelah diserang malaria.
“Saya sempat dirawat tiga hari di rumah sakit karena malaria. Tapi, sekarang saya sudah sembuh, sudah tidak ada masalah lagi. Tujuan saya adalah mempertajam rekor saya sendiri. Saya kira saya dapat melakukannya dengan dukungan dari teman-teman saya,” paparnya.
Kwani,sang ayah,mengatakan bila Kpossi tidak menjalankan tugasnya di sini (Olimpade London),jangan salahkan mereka. “Karena dia atlet termuda, saya ingin dia menunjukkan kiprahnya bukan karena usia,tapi karena kehebatannya,ditunjang kecintaannya kepada olahraga itu,” katanya.
Kesan sederhana selalu ditampilkannya dan ia tidak pernah menampakkan kesan mewah atau wah. Dia selalu tampil sederhana dan santun. Selain itu, tujuannya mengikuti Olimpiade London tidak muluk-muluk: mengalahkan catatannya sendiri 44,60 detik di nomor gaya bebas 50 meter putri. Waktu yang nyaris dua kali rekor dunia 23,73 detik.
“Kpossi berlatih seadanya, tidak ada blok start,tidak ada alat sirip,tidak ada alat lain,” kata sang ayah yang juga pelatihnya, Kwami Kpossi, dilansir AFP.
Karena kurangnya kolam renang untuk umum di Lome,ibu kota negara Afrika bagian barat itu, atlet belia tersebut latihan lima kali sepekan di dua kolam renang hotel. ”Manajer hotel itu membiarkan kami latihan di situ tanpa bayar. Kami latihan setelah pulang sekolah,” kata Kwami, yang pernah menjadi guru olahraga.
Dengan tanpa didukung peralatan, latihan Kpossi menunjukkan pengorbanan besar keluarga perenang itu. “Kolam renang letaknya sekitar 12 kilometer (7,5 mil) dari rumah kami. Kami mengeluarkan banyak uang. Setiap tiga hari saya harus mengisi bahan bakar mobil. Tapi, Komite Olimpiade Togo memberi sejumlah uang untuk bahan bakar,” katanya.
“Saya menyukai kerja keras,” kata Kpossi,d engan suara yang masih kekanak-kanakan, dengan tangan di dalam kantong, setelah melakukan gerakan-gerakan salto.
Kendati melakukan dedikasi luar biasa, perenang muda itu bahkan gagal mencapai standar minimum untuk mendapatkan tempat di Olimpiade. Kendati demikian, dia mendapat wildcard untuk datang ke London sebagai perwakilan Olimpiade yang berdatangan dari seluruh dunia.
Setiap komite nasional Olimpiade diizinkan mengikutsertakan atlet tertentu untuk menyaksikan atau ikut pertandingan atletik dan renang kendati mereka tidak lolos kualifikasi. Sejak kedatangan Kpossi di London pada pertengahan Juli, keberuntungan belum berada di tangannya. Remaja itu sembuh setelah diserang malaria.
“Saya sempat dirawat tiga hari di rumah sakit karena malaria. Tapi, sekarang saya sudah sembuh, sudah tidak ada masalah lagi. Tujuan saya adalah mempertajam rekor saya sendiri. Saya kira saya dapat melakukannya dengan dukungan dari teman-teman saya,” paparnya.
Kwani,sang ayah,mengatakan bila Kpossi tidak menjalankan tugasnya di sini (Olimpade London),jangan salahkan mereka. “Karena dia atlet termuda, saya ingin dia menunjukkan kiprahnya bukan karena usia,tapi karena kehebatannya,ditunjang kecintaannya kepada olahraga itu,” katanya.
(akr)