Pendekar Sumsel gagal penuhi target
Senin, 17 September 2012 - 22:30 WIB
Pendekar Sumsel gagal penuhi target
A
A
A
Sindonews.com - Cabang olahraga (cabor) pencak silat gagal memenuhi target 2 medali emas yang dicanangkan oleh Komite Olahraga Nasional Indonesia (KONI) Sumsel pada Pekan Olahraga Nasional (PON) XVIII/Riau. Para pendekar terbaik Sumsel hanya mampu memperoleh dua medali perunggu.
Awalnya, target perolehan kedua medali emas tersebut diharapkan bisa direbut melalui Rian Sazali dan Deni Aprisani. Sayang, Rian yang turun di kelas D putra gagal melewati babak penyisihan akhir setelah ditekuk petarung dari Sumatera Barat. Sementara Deni Aprisani yang turun di kelas B hanya mampu bertengger di posisi tiga setelah kalah oleh pesilat asal Jawa Tengah Arif.
Justru Agung Subarkah yang turun pada kelas E putra justru bisa memperoleh medali perunggu. Bahkan dia nyaris menembus babak final jika saja berhasil melewati hadangan pesilat Sumatera Utara Apri di babak semifinal.
"Sebetulnya Rian memiliki peluang menang cukup besar, mengingat lawan yang dihadapinya pernah dikalahkan saat turun di Porwil. Namun karena dia melakukan pelanggaran sebanyak dua kali dalam satu ronde, yakni memukul wajah dan keluar dari garis. Sehingga dia gagal menambah poin" ujar Pelatih Pencak Silat Sumsel Darmayanti.
Menurut dia, kegagalan 19 pesilat Sumsel, yakni 8 dari nomor fighter dan 11 orang di nomor seni untuk merebut medali tertinggi tersebut disebabkan oleh faktor non teknis yang terjadi sepanjang petandingan berlangsung. Bahkan, setiap protes yang diajukan tidak mendapat respons dari wasit yang memimpin pertandingan.
"Protes kita tidak pernah digubris, saat pertandingan kelas B, Deni sudah mendapat pukulan telak dan tendangan yang membuat musuh mundur, tapi tidak pernah mendapat poin," imbuhnya.
Begitu pula dengan pertandingan di kelas E. Meski lawan sempat dibanting sampai tidak bergerak selama lima detik, tetapi wasit tidak menganggapnya sebagai poin. Dia juga mengeluhkan jauhnya penginapan antara atlet putra dan putri, sehingga dirinya sulit untuk melakukan koordinasi dan kepada para atletnya.
"Dengan hasil ini, kita akan melakukan evaluasi terutama dengan pelatih fisik. Karena kondisi fisik atlet mengalami penurunan cukup jauh saat menjalani pertandingan. Selain itu, untuk meningkatkan kemampuan para atlet, ke depan perlu dilakukan uji coba keluar provinsi, untuk menambah materi dan jam terbang para atlet kita," imbuhnya.
Untuk itu, pihaknya meminta maaf kepada masyarakat Sumsel karena telah gagal menembus target perolehan medali. Meskipun, sebetulnya para petarung Sumsel ini telah berjuang semaksimal mungkin untuk meraih prestasi tertinggi.
"Kami minta maaf kepada seluruh masyarakat karena telah gagal, namun semua itu menjadi pembelajaran bagi kami, untuk tampil lebih baik kedepan," pungkasnya.
Awalnya, target perolehan kedua medali emas tersebut diharapkan bisa direbut melalui Rian Sazali dan Deni Aprisani. Sayang, Rian yang turun di kelas D putra gagal melewati babak penyisihan akhir setelah ditekuk petarung dari Sumatera Barat. Sementara Deni Aprisani yang turun di kelas B hanya mampu bertengger di posisi tiga setelah kalah oleh pesilat asal Jawa Tengah Arif.
Justru Agung Subarkah yang turun pada kelas E putra justru bisa memperoleh medali perunggu. Bahkan dia nyaris menembus babak final jika saja berhasil melewati hadangan pesilat Sumatera Utara Apri di babak semifinal.
"Sebetulnya Rian memiliki peluang menang cukup besar, mengingat lawan yang dihadapinya pernah dikalahkan saat turun di Porwil. Namun karena dia melakukan pelanggaran sebanyak dua kali dalam satu ronde, yakni memukul wajah dan keluar dari garis. Sehingga dia gagal menambah poin" ujar Pelatih Pencak Silat Sumsel Darmayanti.
Menurut dia, kegagalan 19 pesilat Sumsel, yakni 8 dari nomor fighter dan 11 orang di nomor seni untuk merebut medali tertinggi tersebut disebabkan oleh faktor non teknis yang terjadi sepanjang petandingan berlangsung. Bahkan, setiap protes yang diajukan tidak mendapat respons dari wasit yang memimpin pertandingan.
"Protes kita tidak pernah digubris, saat pertandingan kelas B, Deni sudah mendapat pukulan telak dan tendangan yang membuat musuh mundur, tapi tidak pernah mendapat poin," imbuhnya.
Begitu pula dengan pertandingan di kelas E. Meski lawan sempat dibanting sampai tidak bergerak selama lima detik, tetapi wasit tidak menganggapnya sebagai poin. Dia juga mengeluhkan jauhnya penginapan antara atlet putra dan putri, sehingga dirinya sulit untuk melakukan koordinasi dan kepada para atletnya.
"Dengan hasil ini, kita akan melakukan evaluasi terutama dengan pelatih fisik. Karena kondisi fisik atlet mengalami penurunan cukup jauh saat menjalani pertandingan. Selain itu, untuk meningkatkan kemampuan para atlet, ke depan perlu dilakukan uji coba keluar provinsi, untuk menambah materi dan jam terbang para atlet kita," imbuhnya.
Untuk itu, pihaknya meminta maaf kepada masyarakat Sumsel karena telah gagal menembus target perolehan medali. Meskipun, sebetulnya para petarung Sumsel ini telah berjuang semaksimal mungkin untuk meraih prestasi tertinggi.
"Kami minta maaf kepada seluruh masyarakat karena telah gagal, namun semua itu menjadi pembelajaran bagi kami, untuk tampil lebih baik kedepan," pungkasnya.
(aww)