Judoka Sulsel berburu medali
Selasa, 18 September 2012 - 23:25 WIB
Judoka Sulsel berburu medali
A
A
A
Sindonews.com - Tiga pejudo Sulawesi Selatan bersiap berlaga di GOR Tribuana Pekanbaru, besok.Ketiga atlet tersebut adalah Satriani yang akan bertarung dikelas 45 kilogram (kg), Aditya kelas 60 kg, dan Yusrin Yusuf kelas 55 kg. Pelatih judo Sulsel, Aziz Parassa mengatakan, anak-anak asuhnya sudah siap menghadapi pertandingan besok.
Dia mengatakan, ada dua nama yang diproyeksikan bisa merebut medali emas untuk Sulsel yakni Satriani dan Aditya. ''Tapi saya lihat, yang paling berpotensi untuk tampil maksimal adalah Satriani di kelas 45 kg,” katanya.
Alasannya, jam terbang Satriani sudah cukup panjang. Di PON XVIII Kalimantan Timur (Kaltim) Tahun 2008 lalu, dia juga tergabung di tim judo Sulsel. “Makanya harapannya ada sama dia, walaupun target juara juga kami harap dari Aditya,” katanya.
Menurut dia, untuk bisa melenggang mulus ke babak final, Satriani harus menaklukkan judoka tangguh DKI Jakarta atas nama Cindy. Sedangkan Aditya, ditugaskan menjegal Wahyu Hidayat dari Jawa Barat (Jabar). ''Dua orang itu yang akan menyulitkan kita,” sebutnya.
Aziz menjelaskan, anak-anak asuhnya diharapkan bermain dengan penampilan terbaiknya. Termasuk lebih tenang saat bertanding. ''Dari segi kualitas, tidak jauh berbeda atlet masing-masing daerah. Yang juara adalah yang paling percaya diri,” ucap dia.
Jika ketiganya tidak maksimal, maka target satu emas, satu perak dan satu perunggu di PON XVIII Riau, bakal meleset. “Makanya mereka harus berjuang dan bertarung dengan berani. Karena inilah pertandingan terakhir kita,” jelasnya.
Kemungkinan akan adanya wasit yang berulah saat pertandingan, Aziz mengatakan, hal tersebut sangat kecil terjadi. ''Ada satu konsultatif wasit asal Sulawesi yang akan memantau jalannya pertandingan,” katanya.
Menurut dia, jika ada wasit yang berulah atau merugikan tim dari provinsi lain, maka tugas dari konsultatif wasit tersebut untuk menegurnya. “Wasit tidak bisa main-main. Karena mereka dipantau menggunakan kamera,” jelasnya.
Aziz mengatakan, saat ini Sulsel baru mengoleksi satu perunggu dari judoka senior yakni Fanny Pie yang turun dikelas 78 kg. ''Harapan kita Fanny bisa dapat emas. Namun hasilnya jauh dari harapan,” ucapnya.
Problem yang dihadapi Fanny sehingga tidak bisa tampil maksimal di PON ini, karena menderita sakit sebelum bertanding. “Dua hari sebelum main, dia muntah-muntah. Ini yang membuat penampilannya tidak maksimal,” sebutnya.
Ketua Bidang (Kabid) Pembinaan dan Prestasi KONI Sulsel, Addien mengatakan, cabor judo diharapkan bisa menyumbang medali untuk Sulsel. “Kalau mereka maksimal, posisi kita diurutan 10 besar tidak ada tergusur,” jelasnya.
Menurut dia, peluang judo masih cukup besar. Dia berharap, semua atlet bertarung dengan penampilan terbaik mereka. “Persiapan kita cukup panjang. Ini waktunya membutikan diri,” ucapnya.
Pada PON XVIII di Kalimantan Timur (Kaltim) tahun 2008 lalu, cabor judo berhasil menyumbang tiga medali. Terdiri dari satu emas, satu perak dan satu perunggu.
Dia mengatakan, ada dua nama yang diproyeksikan bisa merebut medali emas untuk Sulsel yakni Satriani dan Aditya. ''Tapi saya lihat, yang paling berpotensi untuk tampil maksimal adalah Satriani di kelas 45 kg,” katanya.
Alasannya, jam terbang Satriani sudah cukup panjang. Di PON XVIII Kalimantan Timur (Kaltim) Tahun 2008 lalu, dia juga tergabung di tim judo Sulsel. “Makanya harapannya ada sama dia, walaupun target juara juga kami harap dari Aditya,” katanya.
Menurut dia, untuk bisa melenggang mulus ke babak final, Satriani harus menaklukkan judoka tangguh DKI Jakarta atas nama Cindy. Sedangkan Aditya, ditugaskan menjegal Wahyu Hidayat dari Jawa Barat (Jabar). ''Dua orang itu yang akan menyulitkan kita,” sebutnya.
Aziz menjelaskan, anak-anak asuhnya diharapkan bermain dengan penampilan terbaiknya. Termasuk lebih tenang saat bertanding. ''Dari segi kualitas, tidak jauh berbeda atlet masing-masing daerah. Yang juara adalah yang paling percaya diri,” ucap dia.
Jika ketiganya tidak maksimal, maka target satu emas, satu perak dan satu perunggu di PON XVIII Riau, bakal meleset. “Makanya mereka harus berjuang dan bertarung dengan berani. Karena inilah pertandingan terakhir kita,” jelasnya.
Kemungkinan akan adanya wasit yang berulah saat pertandingan, Aziz mengatakan, hal tersebut sangat kecil terjadi. ''Ada satu konsultatif wasit asal Sulawesi yang akan memantau jalannya pertandingan,” katanya.
Menurut dia, jika ada wasit yang berulah atau merugikan tim dari provinsi lain, maka tugas dari konsultatif wasit tersebut untuk menegurnya. “Wasit tidak bisa main-main. Karena mereka dipantau menggunakan kamera,” jelasnya.
Aziz mengatakan, saat ini Sulsel baru mengoleksi satu perunggu dari judoka senior yakni Fanny Pie yang turun dikelas 78 kg. ''Harapan kita Fanny bisa dapat emas. Namun hasilnya jauh dari harapan,” ucapnya.
Problem yang dihadapi Fanny sehingga tidak bisa tampil maksimal di PON ini, karena menderita sakit sebelum bertanding. “Dua hari sebelum main, dia muntah-muntah. Ini yang membuat penampilannya tidak maksimal,” sebutnya.
Ketua Bidang (Kabid) Pembinaan dan Prestasi KONI Sulsel, Addien mengatakan, cabor judo diharapkan bisa menyumbang medali untuk Sulsel. “Kalau mereka maksimal, posisi kita diurutan 10 besar tidak ada tergusur,” jelasnya.
Menurut dia, peluang judo masih cukup besar. Dia berharap, semua atlet bertarung dengan penampilan terbaik mereka. “Persiapan kita cukup panjang. Ini waktunya membutikan diri,” ucapnya.
Pada PON XVIII di Kalimantan Timur (Kaltim) tahun 2008 lalu, cabor judo berhasil menyumbang tiga medali. Terdiri dari satu emas, satu perak dan satu perunggu.
(aww)