Pendekar Sulsel donasi tiga medali
Selasa, 18 September 2012 - 23:57 WIB
Pendekar Sulsel donasi tiga medali
A
A
A
Sindonews.com - Cabang olahraga (cabor) pencak silat mendulang tiga medali di PON XVIII Riau 2012. Dengan hasil ini, Sulawesi Selatan (Sulsel) sudah mengoleksi 17 emas, 15 perak, dan 17 perunggu.
Sumbangan medali emas datang dari Johan yang turun dikelas B yakni 55-60 kilo gram (kg). Pada partai final yang digelar Selasa (18/9) di GOR Bangkinang, Kampar, dia mengalahkan Aris Ariyadi asal Jawa Tengah (Jateng) dengan kemenangan mutlak.
Pelatih pencak silat Sulsel Arham mengatakan, dalam silat, kemenangan mutlak berarti faktor teknik atau lawan yang dihadapi tidak bisa melanjutkan pertandingan. ''Lawan yang dia hadapi mengalami patah tangan,” katanya.
Sedangkan medali perak disumbangkan Hamuddin dikelas C, 60-65 kg. Arham menjelaskan, anak asuhnya kalah dari pesilat tuan rumah Dicky Amanda juga dengan angka mutlak. ''Hamuddin mengalami cedera punggung, tangan patah, dan kaki bergeser,” jelasnya.
Medali perunggu dari Awaluddin di kelas A yakni 45-55 kg. Dia mengatakan, seharusnya anak asuhnya tersebut lolos kebabak final untuk perebutan medali emas atau perak. ''Karena Jawa Timur (Jatim) protes dengan kemenangan kita, Awal (Awaluddin) tidak bisa ke final,” tutur dia.
Hasilnya, dia hanya bisa mendapat medali perunggu. Sumbangan medali yang sama, datang dari Sultan dikelas G yakni 70 kg sampai 75 kg yang sudah lebih dulu bertemu atlet Jawa Tengah (Jateng). ''Hasil ini sebenarnya sangat mengecewakan,” katanya.
Menurut Arham, sebelum berangkat ke PON XVIII Riau, cabor pencak silat diberikan target dua emas, satu perak dan dua perunggu. ''Kalau kemenangan Awaluddin tidak dibatalkan kita bisa maksimal,” sebutnya.
Kalau melihat data statistik, prestasi pencak silat Sulsel di PON XVIII Riau dengan PON XVII di Kalimantan Timur (Kaltim) tahun 2008 lalu, tidak jauh berbeda. Saat itu, medali yang dikoleksi adalah satu emas, dua perak dan dua perunggu. ''Terlepas dari hasil buruk ini, kami tetap bangga,” tutur dia.
Menurut dia, anak-anak asuhnya tampil berani dan tidak terpengaruh dengan dibatalkannya kemenangan Awaluddin. “Saya puji semangat juang mereka. Sangat luar biasa,” jelasnya.
Ketua Bidang Teknik KONI Sulsel Muzakkir mengaku bangga dengan penampilan pesilat Sulsel dipartai final dan semifinal. Terutama yang cedera. ”Tangan atlet kita sudah ada yang patah, tapi masih melawan,” paparnya.
Luar biasanya menurut dia, saat kondisi Hamuddin sudah tidak bisa tampil sempurna karena cedera, masih bisa membuat angka. “Ini yang menurut saya tidak bisa diukur dengan apa pun. Mereka luar biasa,” tegasnya.
Muzakkir mengatakan, atlet Sulsel tampil dengan penuh keberanian dan tidak kenal menyerah. Menurutnya, kalau bukan karena semangat yang luar biasa, Hamuddin pasti mundur pertandingan. “Saya kagum dengan keberanian mereka,” ucap dia.
Muzakkir mengatakan, Sulsel masih berpeluang menambah medali dari cabor judo, kempo, dan renang indah. ''Kita harapkan mereka bisa meraih hasil yang maksimal di PON tahun ini,” pungkasnya.
Sumbangan medali emas datang dari Johan yang turun dikelas B yakni 55-60 kilo gram (kg). Pada partai final yang digelar Selasa (18/9) di GOR Bangkinang, Kampar, dia mengalahkan Aris Ariyadi asal Jawa Tengah (Jateng) dengan kemenangan mutlak.
Pelatih pencak silat Sulsel Arham mengatakan, dalam silat, kemenangan mutlak berarti faktor teknik atau lawan yang dihadapi tidak bisa melanjutkan pertandingan. ''Lawan yang dia hadapi mengalami patah tangan,” katanya.
Sedangkan medali perak disumbangkan Hamuddin dikelas C, 60-65 kg. Arham menjelaskan, anak asuhnya kalah dari pesilat tuan rumah Dicky Amanda juga dengan angka mutlak. ''Hamuddin mengalami cedera punggung, tangan patah, dan kaki bergeser,” jelasnya.
Medali perunggu dari Awaluddin di kelas A yakni 45-55 kg. Dia mengatakan, seharusnya anak asuhnya tersebut lolos kebabak final untuk perebutan medali emas atau perak. ''Karena Jawa Timur (Jatim) protes dengan kemenangan kita, Awal (Awaluddin) tidak bisa ke final,” tutur dia.
Hasilnya, dia hanya bisa mendapat medali perunggu. Sumbangan medali yang sama, datang dari Sultan dikelas G yakni 70 kg sampai 75 kg yang sudah lebih dulu bertemu atlet Jawa Tengah (Jateng). ''Hasil ini sebenarnya sangat mengecewakan,” katanya.
Menurut Arham, sebelum berangkat ke PON XVIII Riau, cabor pencak silat diberikan target dua emas, satu perak dan dua perunggu. ''Kalau kemenangan Awaluddin tidak dibatalkan kita bisa maksimal,” sebutnya.
Kalau melihat data statistik, prestasi pencak silat Sulsel di PON XVIII Riau dengan PON XVII di Kalimantan Timur (Kaltim) tahun 2008 lalu, tidak jauh berbeda. Saat itu, medali yang dikoleksi adalah satu emas, dua perak dan dua perunggu. ''Terlepas dari hasil buruk ini, kami tetap bangga,” tutur dia.
Menurut dia, anak-anak asuhnya tampil berani dan tidak terpengaruh dengan dibatalkannya kemenangan Awaluddin. “Saya puji semangat juang mereka. Sangat luar biasa,” jelasnya.
Ketua Bidang Teknik KONI Sulsel Muzakkir mengaku bangga dengan penampilan pesilat Sulsel dipartai final dan semifinal. Terutama yang cedera. ”Tangan atlet kita sudah ada yang patah, tapi masih melawan,” paparnya.
Luar biasanya menurut dia, saat kondisi Hamuddin sudah tidak bisa tampil sempurna karena cedera, masih bisa membuat angka. “Ini yang menurut saya tidak bisa diukur dengan apa pun. Mereka luar biasa,” tegasnya.
Muzakkir mengatakan, atlet Sulsel tampil dengan penuh keberanian dan tidak kenal menyerah. Menurutnya, kalau bukan karena semangat yang luar biasa, Hamuddin pasti mundur pertandingan. “Saya kagum dengan keberanian mereka,” ucap dia.
Muzakkir mengatakan, Sulsel masih berpeluang menambah medali dari cabor judo, kempo, dan renang indah. ''Kita harapkan mereka bisa meraih hasil yang maksimal di PON tahun ini,” pungkasnya.
(aww)