Jakabaring tak punya venue beladiri
Jum'at, 23 November 2012 - 19:59 WIB
Jakabaring tak punya venue beladiri
A
A
A
Sindonews.com - Kompleks Olahraga Jakabaring Sport City (JSC) Palembang dilengkapi sarana dan prasarana berbagai cabang olahraga (cabor) dan terpusat. Namun, sayangnya, Provinsi Sumatera Selatan belum memiliki gedung olahraga yang termasuk dalam cabor unggulan. Seperti beladiri yang selama ini mendulang medali bagi Sumsel seperti taekwondo, karate, pencak silat dan wushu.
Demikian pernyataan yang diungkapkan oleh pengamat olahraga Sumsel, Djumadin Syafril belum lama ini ketika diwawancarai kompleks Jakabaring Sport City. Menurut dia, tidak hanya cabor dari beladiri saja yang belum memiliki GOR, beberapa cabor unggulan lainnya seperti anggar dan biliar yang sukses mendulang emas paling banyak pada PON pun belum memiliki gedung khusus untuk berlatih.
Namun, ironisnya malah cabor yang sudah memiliki venue justru pemanfaatannya bisa dibilang masih minim sekali. "Meskipun sudah ada beberapa cabor yang juga mulai rutin untuk melakukan pembinaan bagi atletnya, seperti bulu tangkis, atletik, menembak, senam, dan dayung,"ungkapnya.
Sementara sisanya, lanjutnya, venues yang tersedia hampir dipastikan tanpa aktivitas dan hanya dihuni oleh petugas-petugas keamanan saja. Mulai dari kawasan terdepan yakni ada venue baseball dan softball, venue akuatik, tenis, petanque, sepatu roda, panjat tebing dan voli pantai, masih belum optimal dalam memanfaatkan fasilitas yang tersedia ini.
Seharusnya dengan kelengkapan sarana dan prasarana yang ada di Kompleks JSC, semua pihak mulai dari pengprov setiap cabor seharusnya bisa meningkatkan prestasi atletnya secara maksimal.
"Kita jangan hanya bangga karena memiliki venue-venue berstandar internasional ini saja. Sebab, di balik itu semua ada tanggung jawab untuk pembinaan kepada atlet-atlek lokal potensial yang kita miliki," tutur Kepala Bidang Pembinaan dan Prestasi KONI Sumsel itu.
Hanya saja diakuinya, untuk melaksakan pembinaan itu semua, dikatakan Djumadin, setiap pengrov dari masing-masing cabor ini tampaknya masih terkendala dari persoalan izin pemanfaatan fasiltas yang ada. Pasalnya, sarana dan prasana yang tersedia dari eks SEA Games ini berada dalam tanggung jawab Satuan Kerja Perangkat Daerah (SKPD) Provinsi Sumsel dan bukan tanggung jawab dari pengrov cabor.
Barangkali akan lebih baik, justru masing-masing pengrov ini yang diberikan tanggung jawab untuk pemeliharaan sehingga pemanfaatannya tidak lagi melalui prosedur yang lagi alias bisa langsung pakai.
"Tinggal lagi bagaimana caranya mungkin pengprov ini diberikan subsidi untuk melakukan perawatan dan beban untuk melakukan pembinaan kepada setiap atletnya. Tentu saja ini harus tetap dilakukan evaluasi, apakah berhasil atau tidak. Namun, akan lebih baik kalau pengrov ini bisa mendapatkan sponsor sendiri atau katakanlah bapak angkat untuk membiayai setiap kegiatan yang ada," terang dosen Fakultas FKIP Olahraga Unsri ini.
Dia juga menyebutkan, kendala pembinaan atlet yang ada di Sumsel ini juga memang disebabkan oleh latar belakang masyarakatnya belum gemar olahraga. Cerminan sukses atau tidaknya pembinaan ini akan terlihat dari jumlah klub-klub yang ada dari setiap cabor, sebab dari klub-klub inilah nantinya akan didapatkan bakat-bakat muda potensial.
"Pengprov berperan besar untuk mengajak tokoh-tokoh pecinta olahraga untuk mendirikan klub bagi anak-anak maupun remaja. Dengan demikian olahraga akan semakin digemari dan otomatis muncul bakat-bakat muda, yang ke depannya bisa jadi aset bagi Sumsel," pungkasnya.
Demikian pernyataan yang diungkapkan oleh pengamat olahraga Sumsel, Djumadin Syafril belum lama ini ketika diwawancarai kompleks Jakabaring Sport City. Menurut dia, tidak hanya cabor dari beladiri saja yang belum memiliki GOR, beberapa cabor unggulan lainnya seperti anggar dan biliar yang sukses mendulang emas paling banyak pada PON pun belum memiliki gedung khusus untuk berlatih.
Namun, ironisnya malah cabor yang sudah memiliki venue justru pemanfaatannya bisa dibilang masih minim sekali. "Meskipun sudah ada beberapa cabor yang juga mulai rutin untuk melakukan pembinaan bagi atletnya, seperti bulu tangkis, atletik, menembak, senam, dan dayung,"ungkapnya.
Sementara sisanya, lanjutnya, venues yang tersedia hampir dipastikan tanpa aktivitas dan hanya dihuni oleh petugas-petugas keamanan saja. Mulai dari kawasan terdepan yakni ada venue baseball dan softball, venue akuatik, tenis, petanque, sepatu roda, panjat tebing dan voli pantai, masih belum optimal dalam memanfaatkan fasilitas yang tersedia ini.
Seharusnya dengan kelengkapan sarana dan prasarana yang ada di Kompleks JSC, semua pihak mulai dari pengprov setiap cabor seharusnya bisa meningkatkan prestasi atletnya secara maksimal.
"Kita jangan hanya bangga karena memiliki venue-venue berstandar internasional ini saja. Sebab, di balik itu semua ada tanggung jawab untuk pembinaan kepada atlet-atlek lokal potensial yang kita miliki," tutur Kepala Bidang Pembinaan dan Prestasi KONI Sumsel itu.
Hanya saja diakuinya, untuk melaksakan pembinaan itu semua, dikatakan Djumadin, setiap pengrov dari masing-masing cabor ini tampaknya masih terkendala dari persoalan izin pemanfaatan fasiltas yang ada. Pasalnya, sarana dan prasana yang tersedia dari eks SEA Games ini berada dalam tanggung jawab Satuan Kerja Perangkat Daerah (SKPD) Provinsi Sumsel dan bukan tanggung jawab dari pengrov cabor.
Barangkali akan lebih baik, justru masing-masing pengrov ini yang diberikan tanggung jawab untuk pemeliharaan sehingga pemanfaatannya tidak lagi melalui prosedur yang lagi alias bisa langsung pakai.
"Tinggal lagi bagaimana caranya mungkin pengprov ini diberikan subsidi untuk melakukan perawatan dan beban untuk melakukan pembinaan kepada setiap atletnya. Tentu saja ini harus tetap dilakukan evaluasi, apakah berhasil atau tidak. Namun, akan lebih baik kalau pengrov ini bisa mendapatkan sponsor sendiri atau katakanlah bapak angkat untuk membiayai setiap kegiatan yang ada," terang dosen Fakultas FKIP Olahraga Unsri ini.
Dia juga menyebutkan, kendala pembinaan atlet yang ada di Sumsel ini juga memang disebabkan oleh latar belakang masyarakatnya belum gemar olahraga. Cerminan sukses atau tidaknya pembinaan ini akan terlihat dari jumlah klub-klub yang ada dari setiap cabor, sebab dari klub-klub inilah nantinya akan didapatkan bakat-bakat muda potensial.
"Pengprov berperan besar untuk mengajak tokoh-tokoh pecinta olahraga untuk mendirikan klub bagi anak-anak maupun remaja. Dengan demikian olahraga akan semakin digemari dan otomatis muncul bakat-bakat muda, yang ke depannya bisa jadi aset bagi Sumsel," pungkasnya.
(aww)