Dituding jual pertandingan hingga pemain asing nyaris hengkang
Rabu, 11 September 2013 - 15:35 WIB
Dituding jual pertandingan hingga pemain asing nyaris hengkang
A
A
A
Sindonews.com - Tak ada yang memungkiri musim ini merupakan kesempatan terbaik bagi Persik Kediri kembali ke kompetisi level satu nasional. Mencatat perjalanan yang cukup konsisten pada fase grup dan babak 12 final, Persik memiliki kemampuan yang cukup untuk mentas dari kompetisi kasta kedua yang sudah dihuni tiga musim terakhir.
Namun pondasi kukuh yang dibangun Persik selama semusim tiba-tiba goyah oleh kekalahan di semifinal lawan Perseru Serui. Persikmania, supporter Persik, rupanya masih sulit menerima kekalahan tersebut. Hingga jelang pertandingan penentuan lawan Persikabo Bogor, Persik lebih sibuk mengurusi internal tim.
Tudingan bahwa manajemen Persik 'menjual' pertandingan karena berhubungan dengan money politics belum mereda. Sebagian Persikmania masih percaya ada yang tak beres dengan proses kekalahan di Stadion Manahan. Pemain juga tak luput dari tudingan miring.
Mamadou Alhadji dan Oliver Makor, dua pemain asing terbaik Persik, tak luput dari dugaan-dugaan ' terbeli' yang membuat mereka nyaris meninggalkan Kediri. Padahal dua pemain inilah yang menjadi salah satu kunci keberhasilan Macan Putih menjaga konsistensi timnya.
Elhadji adalah pemain yang mencatat menit bermain paling lama dibanding pemain lainnya. Sedangkan Oliver Makor tercatat sebagai penceyak gol terbanyak bagi Macan Putih dua musim berturut-turut. Masih adakah yang meragukan komitmen mereka? Begitulah kenyataannya.
Manajemen harus mati-matian membujuk kedua pemain yang sudah mengemasi barangnya tersebut. Berat bagi Makor dan Elhadji, sudah dianggap bermain buruk dan ditarik keluar di laga semifinal, ditambah lagi tuduhan melakukan tindakan curang dengan permainan buruknya.
Tak terelakkan, Persik menghadapi tekanan dari luar dan dalam yang sangat serius. Pelatih dan manajemen terus berupaya membujuk pemain agar tak terpengaruh tudingan miring dari publik sendiri, sembari menyiapkan pertandingan lawan Persikabo Bogor pada 14 September nanti.
Apalagi di Kediri beredar short message service (sms) yang berisi dugaan bahwa pertandingan Persik sengaja dijual karena terkait pemilihan walikota di Kota Tahu. Fakta itu tak dimungkiri seperti garam yang ditaburkan di atas luka Macan Putih yang masih meratapi kekalahan adu pinalti kontra Perseru.
"Ini ujian yang sangat berat. Kami mendapatkan tekanan besar dengan adanya tudingan menjual pertandingan. Justru tekanan datang dari publik sendiri. Saya harus mengatakan berulang kali bahwa sama sekali tidak ada perbuatan seperti itu (menjual pertandingan)," kata Aris Budi Sulistyo, Pelatih Persik Kediri.
Aris mengakui dirinya sangat tidak menduga muncul tudingan miring dari sebagian suporter yang kecewa timnya kalah di semifinal. Kendati menyadari dan bisa merasakan kekecewaan supporter, dia menilai tudingan itu kelewat batas dan memperberat misi timnya promosi ke ISL.
"Saatnya menganggap ini semua sebagai sebuah motivasi untuk meraih kemenangan lawan Persikabo. Kami akan semakin hancur jika kembali menderita kekalahan. Memang tugas yang sangat berat, tapi bagaimana pun promosi ke ISL merupakan harga mati," tandasnya.
Salah satu pemain Persik juga mengaku sangat kecewa dengan munculnya asumsi yang tak bisa dipertanggungjawabkan kebenarannya. "Kami membutuhkan dukungan dari suporter, bukan tudingan seperti ini. Sepanjang musim kami berupaya Persik untuk promosi, tapi sudah ada anggapan miring ketika peluang ke ISL belum tertutup," ujar salah satu pemain yang beberapa musim terakhir loyal di Macan Putih.
Namun pondasi kukuh yang dibangun Persik selama semusim tiba-tiba goyah oleh kekalahan di semifinal lawan Perseru Serui. Persikmania, supporter Persik, rupanya masih sulit menerima kekalahan tersebut. Hingga jelang pertandingan penentuan lawan Persikabo Bogor, Persik lebih sibuk mengurusi internal tim.
Tudingan bahwa manajemen Persik 'menjual' pertandingan karena berhubungan dengan money politics belum mereda. Sebagian Persikmania masih percaya ada yang tak beres dengan proses kekalahan di Stadion Manahan. Pemain juga tak luput dari tudingan miring.
Mamadou Alhadji dan Oliver Makor, dua pemain asing terbaik Persik, tak luput dari dugaan-dugaan ' terbeli' yang membuat mereka nyaris meninggalkan Kediri. Padahal dua pemain inilah yang menjadi salah satu kunci keberhasilan Macan Putih menjaga konsistensi timnya.
Elhadji adalah pemain yang mencatat menit bermain paling lama dibanding pemain lainnya. Sedangkan Oliver Makor tercatat sebagai penceyak gol terbanyak bagi Macan Putih dua musim berturut-turut. Masih adakah yang meragukan komitmen mereka? Begitulah kenyataannya.
Manajemen harus mati-matian membujuk kedua pemain yang sudah mengemasi barangnya tersebut. Berat bagi Makor dan Elhadji, sudah dianggap bermain buruk dan ditarik keluar di laga semifinal, ditambah lagi tuduhan melakukan tindakan curang dengan permainan buruknya.
Tak terelakkan, Persik menghadapi tekanan dari luar dan dalam yang sangat serius. Pelatih dan manajemen terus berupaya membujuk pemain agar tak terpengaruh tudingan miring dari publik sendiri, sembari menyiapkan pertandingan lawan Persikabo Bogor pada 14 September nanti.
Apalagi di Kediri beredar short message service (sms) yang berisi dugaan bahwa pertandingan Persik sengaja dijual karena terkait pemilihan walikota di Kota Tahu. Fakta itu tak dimungkiri seperti garam yang ditaburkan di atas luka Macan Putih yang masih meratapi kekalahan adu pinalti kontra Perseru.
"Ini ujian yang sangat berat. Kami mendapatkan tekanan besar dengan adanya tudingan menjual pertandingan. Justru tekanan datang dari publik sendiri. Saya harus mengatakan berulang kali bahwa sama sekali tidak ada perbuatan seperti itu (menjual pertandingan)," kata Aris Budi Sulistyo, Pelatih Persik Kediri.
Aris mengakui dirinya sangat tidak menduga muncul tudingan miring dari sebagian suporter yang kecewa timnya kalah di semifinal. Kendati menyadari dan bisa merasakan kekecewaan supporter, dia menilai tudingan itu kelewat batas dan memperberat misi timnya promosi ke ISL.
"Saatnya menganggap ini semua sebagai sebuah motivasi untuk meraih kemenangan lawan Persikabo. Kami akan semakin hancur jika kembali menderita kekalahan. Memang tugas yang sangat berat, tapi bagaimana pun promosi ke ISL merupakan harga mati," tandasnya.
Salah satu pemain Persik juga mengaku sangat kecewa dengan munculnya asumsi yang tak bisa dipertanggungjawabkan kebenarannya. "Kami membutuhkan dukungan dari suporter, bukan tudingan seperti ini. Sepanjang musim kami berupaya Persik untuk promosi, tapi sudah ada anggapan miring ketika peluang ke ISL belum tertutup," ujar salah satu pemain yang beberapa musim terakhir loyal di Macan Putih.
(aww)