Arema paling siap juara, tapi waspadai antiklimaks
Selasa, 07 Januari 2014 - 19:58 WIB
Arema paling siap juara, tapi waspadai antiklimaks
A
A
A
Sindonews.com - Indonesia Super League (ISL) 2014 masih akan bergulir tiga pekan lagi. Klub-klub kontestan masih jatuh bangun membangun kekuatan agar mampu berkoar di liga unifikasi nanti.
Semuanya? Tidak. Ada satu klub yang bahkan sudah merasa telah memasuki kompetisi sebenarnya.
Adalah Arema Cronous. Klub yang baru saja menahan imbang klub Bundesliga Hamburger SV ini terlihat tidak seperti tim yang tengah melakoni pramusim. Arema jauh lebih terasa sebagai tim matang yang telah menjalani kompetisi reguler kalau melihat gaya permainan mereka.
Melihat progres persiapan kontestan ISL lainnya, Singo Edan sudah jauh memimpin. Persiapan lebih awal, tidak adanya perubahan tim secara signifikan, efektifitas dalam bursa transfer, serta perubahan gaya bermain setelah kedatangan pelatih Suharno, membawa atmosfer positif.
Saya tidak akan bicara terlalu jauh dulu. Hanya merekam apa yang terjadi sejauh ini, Arema pantas dijadikan pemburu gelar ISL 2014. Proses yang di luar dugaan menjadikan klub ini telah mengoleksi tiga trofi sepanjang rehat kompetisi, yakni Menpora Cup, East Java Tournament dan Trofeo Persija.
Di luar dugaan? Benar. Paling tidak ada dua aspek yang mengejutkan dan di luar prediksi. Pertama adalah kemampuan pelatih Suharno. Saya sendiri sejak pertama kurang yakin dengan penunjukan dia sebagai pelatih Arema, karena alasan sederhana yakni belum pernah menangani tim besar dengan ambisi tinggi.
Suharno secara perlahan memupus semua prediksi. Memang kualitas dia belum bisa diukur karena liga belum mulai. Namun dengan dua trofi sejak bekerja di Stadion Kanjuruhan, dia membuktikan jauh lebih baik dibanding Rahmad Darmawan yang bahkan gagal total di fase pramusim.
Saya kadang berpikir ada faktor 'hati' yang membedakan Suharno dengan Rahmad Darmawan. Suharno bekerja karena keterikatannya demikian besar dengan Singo Edan. Dia sudah tiga kali menjadi pelatih klub sanjungan Aremania pada periode berbeda.
Sedangkan Rahmad Darmawan datang dengan unsur 'keterpaksaan' karena dia sebenarnya pelatih Pelita Jaya. Hanya sebuah kebetulan saja dia kemudian bekerja di Kanjuruhan karena merger antara Arema FC dan Pelita Jaya. Tapi saya tidak tahu pasti apakah aspek ini berpengaruh signifikan.
Yang jelas semua sudah lupa Suharno pernah dipecat dari Persegres Gresik United musim lalu. Dia juga telah membuktikan sebuah logika sederhana, seorang pelatih biasa akan menjadi luar biasa ketika disodori tim yang perkasa. Logika yang bahkan sampai sekarang belum bisa ditunjukkan Manager Manchester United David Moyes.
Aspek kedua yang di luar dugaan adalah cara bermain Singo Edan. Saya yakin semua sepakat dengan saya, di pra musim ini Arema lebih enak ditonton, strategi lebih terkonsep, serta paling penting adalah membahayakan. Bahkan musim lalu di ISL pun mereka belum mampu seperti itu.
Pola 4-3-3 yang gagal total musim lalu, dimainkan dengan cukup enak. Saya melihat ada perpaduan karakter dari pelatih Suharno yang mengusung militansi tinggi, dengan asistennya Joko Susilo yang menyukai gaya ofensif. Hasilnya adalah tim yang enerjik dan percaya diri.
Transfer pemain juga sangat menentukan aspek tersebut. Empat pemain baru sudah mendapatkan pos masing-masing, Gustavo Lopez, Ahmad Bustomi, Juan Revi, dan Samsul Arif. Lapangan tengah kekuatannya sangat ideal. Gustavo sebagai pengatur serangan, Bustomi menjaga keseimbangan, Revi menjadi pemutus serangan lawan.
Lini depan ada perubahan dengan skema 4-3-3, karena Alberto Goncalves agak melebar bersama Samsul Arif. Perubahan ini juga positif karena Beto adalah striker yang butuh ruang gerak dibanding sebagai striker kedua di bawah Christian Gonzales. Saya yakin patron ini akan dipakai di ISL nanti.
Pertandingan lawan HSV adalah salah satu prototipe tim impian Singo Edan. Terlepas dari kondisi HSV yang kehabisan energi karena perjalanan jauh, Ahmad Bustomi dkk memang tampil sangat baik. Konfidensi patut digarisbawahi karena biasanya orang Indonesia minder menghadapi 'bule'.
Arema memiliki potensi luar biasa. Sekarang tergantung bagaimana Suharno menjaga konsistensi timnya, baik di Inter Island Cup maupun di ISL dan AFC Cup. Tapi tunggu dulu, sanjungan saya tadi hanya khusus untuk masa pramusim. Masih banyak yang bakal terjadi di liga sesungguhnya nanti.
Ada satu yang saya khawatirkan dari situasi positif Arema. Yakni sebuah fase antiklimaks dan terjadi justru di kompetisi sebenarnya. Arema mengumbar ambisi tinggi, jauh sebelum kompetisi dimulai. Pemain telah menghadapi tekanan harus juara setiap turnamen dan menang di semua pertandingan.
Aremania layak berdoa agar timnya tidak jenuh dan terlampau capek dengan banyaknya tekanan tersebut. Singo Edan hingga sekarang berjalan dengan gagah dan belum merasakan fase sulit. Butuh mental tebal jika fase itu benar-benar terjadi. (*)
Semuanya? Tidak. Ada satu klub yang bahkan sudah merasa telah memasuki kompetisi sebenarnya.
Adalah Arema Cronous. Klub yang baru saja menahan imbang klub Bundesliga Hamburger SV ini terlihat tidak seperti tim yang tengah melakoni pramusim. Arema jauh lebih terasa sebagai tim matang yang telah menjalani kompetisi reguler kalau melihat gaya permainan mereka.
Melihat progres persiapan kontestan ISL lainnya, Singo Edan sudah jauh memimpin. Persiapan lebih awal, tidak adanya perubahan tim secara signifikan, efektifitas dalam bursa transfer, serta perubahan gaya bermain setelah kedatangan pelatih Suharno, membawa atmosfer positif.
Saya tidak akan bicara terlalu jauh dulu. Hanya merekam apa yang terjadi sejauh ini, Arema pantas dijadikan pemburu gelar ISL 2014. Proses yang di luar dugaan menjadikan klub ini telah mengoleksi tiga trofi sepanjang rehat kompetisi, yakni Menpora Cup, East Java Tournament dan Trofeo Persija.
Di luar dugaan? Benar. Paling tidak ada dua aspek yang mengejutkan dan di luar prediksi. Pertama adalah kemampuan pelatih Suharno. Saya sendiri sejak pertama kurang yakin dengan penunjukan dia sebagai pelatih Arema, karena alasan sederhana yakni belum pernah menangani tim besar dengan ambisi tinggi.
Suharno secara perlahan memupus semua prediksi. Memang kualitas dia belum bisa diukur karena liga belum mulai. Namun dengan dua trofi sejak bekerja di Stadion Kanjuruhan, dia membuktikan jauh lebih baik dibanding Rahmad Darmawan yang bahkan gagal total di fase pramusim.
Saya kadang berpikir ada faktor 'hati' yang membedakan Suharno dengan Rahmad Darmawan. Suharno bekerja karena keterikatannya demikian besar dengan Singo Edan. Dia sudah tiga kali menjadi pelatih klub sanjungan Aremania pada periode berbeda.
Sedangkan Rahmad Darmawan datang dengan unsur 'keterpaksaan' karena dia sebenarnya pelatih Pelita Jaya. Hanya sebuah kebetulan saja dia kemudian bekerja di Kanjuruhan karena merger antara Arema FC dan Pelita Jaya. Tapi saya tidak tahu pasti apakah aspek ini berpengaruh signifikan.
Yang jelas semua sudah lupa Suharno pernah dipecat dari Persegres Gresik United musim lalu. Dia juga telah membuktikan sebuah logika sederhana, seorang pelatih biasa akan menjadi luar biasa ketika disodori tim yang perkasa. Logika yang bahkan sampai sekarang belum bisa ditunjukkan Manager Manchester United David Moyes.
Aspek kedua yang di luar dugaan adalah cara bermain Singo Edan. Saya yakin semua sepakat dengan saya, di pra musim ini Arema lebih enak ditonton, strategi lebih terkonsep, serta paling penting adalah membahayakan. Bahkan musim lalu di ISL pun mereka belum mampu seperti itu.
Pola 4-3-3 yang gagal total musim lalu, dimainkan dengan cukup enak. Saya melihat ada perpaduan karakter dari pelatih Suharno yang mengusung militansi tinggi, dengan asistennya Joko Susilo yang menyukai gaya ofensif. Hasilnya adalah tim yang enerjik dan percaya diri.
Transfer pemain juga sangat menentukan aspek tersebut. Empat pemain baru sudah mendapatkan pos masing-masing, Gustavo Lopez, Ahmad Bustomi, Juan Revi, dan Samsul Arif. Lapangan tengah kekuatannya sangat ideal. Gustavo sebagai pengatur serangan, Bustomi menjaga keseimbangan, Revi menjadi pemutus serangan lawan.
Lini depan ada perubahan dengan skema 4-3-3, karena Alberto Goncalves agak melebar bersama Samsul Arif. Perubahan ini juga positif karena Beto adalah striker yang butuh ruang gerak dibanding sebagai striker kedua di bawah Christian Gonzales. Saya yakin patron ini akan dipakai di ISL nanti.
Pertandingan lawan HSV adalah salah satu prototipe tim impian Singo Edan. Terlepas dari kondisi HSV yang kehabisan energi karena perjalanan jauh, Ahmad Bustomi dkk memang tampil sangat baik. Konfidensi patut digarisbawahi karena biasanya orang Indonesia minder menghadapi 'bule'.
Arema memiliki potensi luar biasa. Sekarang tergantung bagaimana Suharno menjaga konsistensi timnya, baik di Inter Island Cup maupun di ISL dan AFC Cup. Tapi tunggu dulu, sanjungan saya tadi hanya khusus untuk masa pramusim. Masih banyak yang bakal terjadi di liga sesungguhnya nanti.
Ada satu yang saya khawatirkan dari situasi positif Arema. Yakni sebuah fase antiklimaks dan terjadi justru di kompetisi sebenarnya. Arema mengumbar ambisi tinggi, jauh sebelum kompetisi dimulai. Pemain telah menghadapi tekanan harus juara setiap turnamen dan menang di semua pertandingan.
Aremania layak berdoa agar timnya tidak jenuh dan terlampau capek dengan banyaknya tekanan tersebut. Singo Edan hingga sekarang berjalan dengan gagah dan belum merasakan fase sulit. Butuh mental tebal jika fase itu benar-benar terjadi. (*)
(aww)