Copot pelatih, 'penyakit' tim Jatim
Minggu, 16 Maret 2014 - 18:05 WIB
Copot pelatih, 'penyakit' tim Jatim
A
A
A
Sindonews.com -- Pergantian pelatih semakin menjadi tradisi di tim-tim sepak bola Jawa Timur. Lengsernya Daniel Roekito dari posisi pelatih Persepam Madura United memperpanjang catatan pergantian pelatih di tengah kompetisi yang rutin terjadi di Indonesia Super League (ISL).
Dalam tiga musim terakhir saja, selalu ada tim yang mencopot pelatihnya dengan alasan prestasi. Persepam, yang musim ini kelihatan adem ayem, ternyata juga mengambil langkah praktis tersebut. Justru tim yang terpuruk seperti Persik Kediri belum bereaksi.
Pada musim lalu, Persela Lamongan dan Persegres Gresik United harus mengganti nakhoda tim. Persela menghentikan kontrak kerja Gomes de Oliviera di putaran pertama ISL 2012-2013. Persegres juga mencopot Suharno dan kemudian menunjuk Widodo C Putro.
Semusim ke belakang, tepatnya pada ISL 2011-2012, Arema Indonesia pernah terjangkit 'penyakit' ini. Eks Asisten Pelatih Tim Nasional Wolfgang Pikal membawa Arema terjerumus ke zona merah dan akhirnya diselamatkan Suharno setelah beberapa laga dipegang asisten pelatih Joko Susilo.
Persegres Gresik United juga mengalami pergantian pelatih di musim yang sama. Pelatih Freddy Mulli yang dianggal gagal mengorbitkan tim, diganti Abdulrahman Gurning yang juga tak lama berada di Stadion Petrokimia. Namun tak semua pergantian pelatih membawa efek signifikan.
Persegres misalnya, pada musim 2011-2012 dan 2012-2013 sama sekali tak menjelma menjadi kekuatan superior dengan digantinya pelatih. Persela Lamongan setelah mencopot Gomes de Oliviera musim lalu pun gagal menembus 10 besar di klasemen akhir.
Hanya Arema yang terlihat beruntung kala mendatangkan Suharno pada putaran dua ISL 2011-2012. Berminggu-minggu memdengkur di zona degradasi, akhirnya Singo Edan mentas dari zona merah alias tidak merasakan turun kasta ke Divisi Utama.
Lantas, apakah Persepam bakal membaik dengan kepergian Daniel Roekito? Masih sulit menemukan jawabannya. Semua masih tergantung pelatih baru yang ditunjuk nantinya. Sekaligus kecocokan nakhoda baru dengan katakter tim dan pemain Sape Kerap.
"Tidak ada tim yang menginginkan pergantian pelatih di tengah kompetisi, termasuk Persepam. Tapi kami harus mengambil keputusan itu demi perbaikan di tim, berdasarkan banyak pertimbangan. Harapannya jelas prestasi menjadi lebih baik," ungkap Manajer Persepam Achsanul Qosasi.
Setelah Persepam, tampaknya pergantian masih pelatih sangat mungkin terjadi. Hingga saat ini, posisi yang sangat rawan adalah Pelatih Persegres Gresik United Agus Yuwono. Dia belum juga mengangkat pamor tim dan bisa menjadi korban, apalagi supporter Ultrasmania sempat menginginkan dia dicopot.
Persik Kediri lebih parah, karena belum pernah memetik kemenangan sekali pun di ISL hingga match day keenam. Namun perubahan pelatih belum menjadi isu krusial di Kediri, sebab posisi Aris Budi Sulistyo masih cukup kuat sebagai asisten pelatih.
Hartono Ruslan? Pelatih kepala Persik Kediri ini kelihatannya hanya sekadar 'menyumbang' lisensi kepelatihan saja. Sebab sosok Aris Budi sebagai pelatih yang berjasa membawa Macan Putih promosi ke ISL musim lalu masih lebih dominan, baik di dalam maupun luar lapangan.
Jika menyalahkan staf pelatih atas prestasi buruk Persik, berarti sama saja menginginkan Aris Budi Sulistyo mundur. Pelatih inilah yang sebenarnya masih berkuasa di tim Persik. Sedangkan dia masih sangat dicintai Persikmania atas prestasinya musim lalu.
Dalam tiga musim terakhir saja, selalu ada tim yang mencopot pelatihnya dengan alasan prestasi. Persepam, yang musim ini kelihatan adem ayem, ternyata juga mengambil langkah praktis tersebut. Justru tim yang terpuruk seperti Persik Kediri belum bereaksi.
Pada musim lalu, Persela Lamongan dan Persegres Gresik United harus mengganti nakhoda tim. Persela menghentikan kontrak kerja Gomes de Oliviera di putaran pertama ISL 2012-2013. Persegres juga mencopot Suharno dan kemudian menunjuk Widodo C Putro.
Semusim ke belakang, tepatnya pada ISL 2011-2012, Arema Indonesia pernah terjangkit 'penyakit' ini. Eks Asisten Pelatih Tim Nasional Wolfgang Pikal membawa Arema terjerumus ke zona merah dan akhirnya diselamatkan Suharno setelah beberapa laga dipegang asisten pelatih Joko Susilo.
Persegres Gresik United juga mengalami pergantian pelatih di musim yang sama. Pelatih Freddy Mulli yang dianggal gagal mengorbitkan tim, diganti Abdulrahman Gurning yang juga tak lama berada di Stadion Petrokimia. Namun tak semua pergantian pelatih membawa efek signifikan.
Persegres misalnya, pada musim 2011-2012 dan 2012-2013 sama sekali tak menjelma menjadi kekuatan superior dengan digantinya pelatih. Persela Lamongan setelah mencopot Gomes de Oliviera musim lalu pun gagal menembus 10 besar di klasemen akhir.
Hanya Arema yang terlihat beruntung kala mendatangkan Suharno pada putaran dua ISL 2011-2012. Berminggu-minggu memdengkur di zona degradasi, akhirnya Singo Edan mentas dari zona merah alias tidak merasakan turun kasta ke Divisi Utama.
Lantas, apakah Persepam bakal membaik dengan kepergian Daniel Roekito? Masih sulit menemukan jawabannya. Semua masih tergantung pelatih baru yang ditunjuk nantinya. Sekaligus kecocokan nakhoda baru dengan katakter tim dan pemain Sape Kerap.
"Tidak ada tim yang menginginkan pergantian pelatih di tengah kompetisi, termasuk Persepam. Tapi kami harus mengambil keputusan itu demi perbaikan di tim, berdasarkan banyak pertimbangan. Harapannya jelas prestasi menjadi lebih baik," ungkap Manajer Persepam Achsanul Qosasi.
Setelah Persepam, tampaknya pergantian masih pelatih sangat mungkin terjadi. Hingga saat ini, posisi yang sangat rawan adalah Pelatih Persegres Gresik United Agus Yuwono. Dia belum juga mengangkat pamor tim dan bisa menjadi korban, apalagi supporter Ultrasmania sempat menginginkan dia dicopot.
Persik Kediri lebih parah, karena belum pernah memetik kemenangan sekali pun di ISL hingga match day keenam. Namun perubahan pelatih belum menjadi isu krusial di Kediri, sebab posisi Aris Budi Sulistyo masih cukup kuat sebagai asisten pelatih.
Hartono Ruslan? Pelatih kepala Persik Kediri ini kelihatannya hanya sekadar 'menyumbang' lisensi kepelatihan saja. Sebab sosok Aris Budi sebagai pelatih yang berjasa membawa Macan Putih promosi ke ISL musim lalu masih lebih dominan, baik di dalam maupun luar lapangan.
Jika menyalahkan staf pelatih atas prestasi buruk Persik, berarti sama saja menginginkan Aris Budi Sulistyo mundur. Pelatih inilah yang sebenarnya masih berkuasa di tim Persik. Sedangkan dia masih sangat dicintai Persikmania atas prestasinya musim lalu.
(wbs)