Jangan Salahkan Messi jika Gagal
Sabtu, 05 Juli 2014 - 10:30 WIB
Jangan Salahkan Messi jika Gagal
A
A
A
BRASILIA - Sekali lagi, Lionel Messi menanggung beban harus memberikan kontribusi signifikan untuk timnya. Menghadapi Belgia di babak perempatfinal di Estadio Nacional, Sabtu (5/7) malam WIB, Argentina diprediksi masih akan tergantung pemain berjuluk La Pulga tersebut baik sebagai pencetak gol atau pemberi assist.
Ketergantungan Argentina pada sosok Messi tak hanya dipicu kehebatan dia, tapi juga buruknnya striker lain di tim. Tengok saja Gonzalo Higuain, Sergio Aguero, Ezequiel Lavezzi, serta Rodrigo Palacio, sejauh ini sekadar teronggok di tim tanpa memberikan sumbangan gol.
Semakin penyerang-penyerang itu mandul, semakin berat pula beban yang ditanggung Lionel Messi. Bisa dibayangkan seandainya dalam kondisi seperti itu La Pulga alias Si Kutu ikut-ikutan turun performa. Habislah Argentina. Albiceleste masih terus menunggu momentum membaiknya Argentina sebagai sebuah tim.
Saat menyingkirkan Swiss di babak 16 besar, memang gol kemenangan diciptakan Angel Di Maria, tapi yang memberi assist tetaplah Messi. “Mereka harus memahami bahwa tim ini tak boleh menjadi 'Tim Messi'. Jangan salahkan Messi kalau Argentina gagal,” demikian ucapan legenda Maradona soal dominasi Lionel Messi.
Dari taktik, Argentina juga masih bimbang. Mencoba 3-5-2 dan 5-3-2 di fase grup, Pelatih Argentina Alejandro Sabella menjajal formasi 4-3-3 di laga 16 besar. Hasilnya tetap belum sempurna. Di fase grup lalu Argentina bermain kompak, tapi kesulitan mencetak peluang. Tapi setelah berubah ke 4-3-3, serangan mengalir deras tapi pertahanan terlupakan.
“Kami sudah bermain sebagai sebuah tim. Hanya saja Messi memang memiliki kualitas di atas rata-rata. Saya percaya semua elemen tim memberikan kontribusi dan itu akan kami buktikan saat lawan Belgia. Kami selalu menghadapi tim yang menumpuk di pertahanan, dan kami tak boleh frustrasi,” ujar Alejandro Sabella.
Argentina dipastikan tanpa bek kiri Marcos Rojo yang terkena skorsing akumulasi kartu kuning. Jose Basanta hampir dipastikan bakal menggantikan posisi Rojo. Minimnya pengalaman Basanta bisa menjadi sasaran ekspoitasi Belgia dengan menempatkan Eden Hazard di sana.
Sementara, pihak The Red Devils mengincar keroposnya pertahanan Argentina. Pelatih Belgia Marc Wilmots menilai Argentina belum memiliki keseimbangan yang baik dalam menyarang dan bertahan. Ketika naik menyerang, ada ruang kosong yang cukup lebar di pertahanan Albiceleste.
“Kami tidak akan terpancing pada sosok Messi. Kami akan menantang Argentina sebagai sebuah tim. Kami perlu meniru Swiss yang bekerja sangat baik dalam membangun pertahanan,” ujar Wilmots. Namun dirinya menyatakan Belgia tidak akan seperti 'katak dalam tempurung' dan tetap memberikan perlawanan.
Belgia adalah tim yang unik. Sebanyak lima dari enam gol yang diciptakan lahir dari pemain pengganti. Banyak pengamat menyebut itu sebagai kecerdasan Marc Wilmots dalam melakukan rotasi atau membaca momentum. Kontra Argentina, tentu Belgia tak hanya sekadar menunggu peran pemain pengganti.
Kapten tim Vincent Kompany mengatakan timnya juga menghadapi lawan yang gemar bertahan selama di Brasil. Menghadapi Argentina yang sangat agresif, dia berharap timnya memiliki celah lebih banyak untuk mencetak gol. “Jika Argentina tetap pilih main menyerang, kami akan memiliki peluang yang sangat bagus,” cetus Kompany.
Ketergantungan Argentina pada sosok Messi tak hanya dipicu kehebatan dia, tapi juga buruknnya striker lain di tim. Tengok saja Gonzalo Higuain, Sergio Aguero, Ezequiel Lavezzi, serta Rodrigo Palacio, sejauh ini sekadar teronggok di tim tanpa memberikan sumbangan gol.
Semakin penyerang-penyerang itu mandul, semakin berat pula beban yang ditanggung Lionel Messi. Bisa dibayangkan seandainya dalam kondisi seperti itu La Pulga alias Si Kutu ikut-ikutan turun performa. Habislah Argentina. Albiceleste masih terus menunggu momentum membaiknya Argentina sebagai sebuah tim.
Saat menyingkirkan Swiss di babak 16 besar, memang gol kemenangan diciptakan Angel Di Maria, tapi yang memberi assist tetaplah Messi. “Mereka harus memahami bahwa tim ini tak boleh menjadi 'Tim Messi'. Jangan salahkan Messi kalau Argentina gagal,” demikian ucapan legenda Maradona soal dominasi Lionel Messi.
Dari taktik, Argentina juga masih bimbang. Mencoba 3-5-2 dan 5-3-2 di fase grup, Pelatih Argentina Alejandro Sabella menjajal formasi 4-3-3 di laga 16 besar. Hasilnya tetap belum sempurna. Di fase grup lalu Argentina bermain kompak, tapi kesulitan mencetak peluang. Tapi setelah berubah ke 4-3-3, serangan mengalir deras tapi pertahanan terlupakan.
“Kami sudah bermain sebagai sebuah tim. Hanya saja Messi memang memiliki kualitas di atas rata-rata. Saya percaya semua elemen tim memberikan kontribusi dan itu akan kami buktikan saat lawan Belgia. Kami selalu menghadapi tim yang menumpuk di pertahanan, dan kami tak boleh frustrasi,” ujar Alejandro Sabella.
Argentina dipastikan tanpa bek kiri Marcos Rojo yang terkena skorsing akumulasi kartu kuning. Jose Basanta hampir dipastikan bakal menggantikan posisi Rojo. Minimnya pengalaman Basanta bisa menjadi sasaran ekspoitasi Belgia dengan menempatkan Eden Hazard di sana.
Sementara, pihak The Red Devils mengincar keroposnya pertahanan Argentina. Pelatih Belgia Marc Wilmots menilai Argentina belum memiliki keseimbangan yang baik dalam menyarang dan bertahan. Ketika naik menyerang, ada ruang kosong yang cukup lebar di pertahanan Albiceleste.
“Kami tidak akan terpancing pada sosok Messi. Kami akan menantang Argentina sebagai sebuah tim. Kami perlu meniru Swiss yang bekerja sangat baik dalam membangun pertahanan,” ujar Wilmots. Namun dirinya menyatakan Belgia tidak akan seperti 'katak dalam tempurung' dan tetap memberikan perlawanan.
Belgia adalah tim yang unik. Sebanyak lima dari enam gol yang diciptakan lahir dari pemain pengganti. Banyak pengamat menyebut itu sebagai kecerdasan Marc Wilmots dalam melakukan rotasi atau membaca momentum. Kontra Argentina, tentu Belgia tak hanya sekadar menunggu peran pemain pengganti.
Kapten tim Vincent Kompany mengatakan timnya juga menghadapi lawan yang gemar bertahan selama di Brasil. Menghadapi Argentina yang sangat agresif, dia berharap timnya memiliki celah lebih banyak untuk mencetak gol. “Jika Argentina tetap pilih main menyerang, kami akan memiliki peluang yang sangat bagus,” cetus Kompany.
(wbs)